Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sengketa Rumah, Warga Namorambe Diteror dengan Senjata Api dan Sajam
ilustrasi terorisme (freepik.com/freepik

Binjai, IDN Times – Perasaan was-was dan trauma mendalam kini menyelimuti Malem Beru Meilala, warga Desa Namorambe, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat.

Sejak ia melaporkan kasus dugaan pengancaman dan teror ke Polres Binjai, namun hingga kini pelakunya masih bebas berkeliaran dan aksi teror terus dilakukan secara terang-terangan.

Laporan resmi yang teregistrasi dengan nomor LP/B/135/II/2026/SPKT/POLRES BINJAI/POLDA SUMATERA UTARA seolah jalan di tempat. Akibatnya, korban merasa keselamatannya kini berada di ujung tanduk.

1. Pelaku letuskan senjata dan lempari kediaman ditengah malam

ilustrasi teror (pexels.com/Faisal Rahman)

Kejadian mencekam itu bermula pada Rabu tanggal 25 Februari 2026 sekitar pukul 02.30 WIB. Saat Malem sedang beristirahat, ia dikejutkan oleh suara gaduh yang merusak ketenangan malam.

Terlapor berinisial B diduga sengaja mendatangi rumah korban dan meledakkan senapan angin berulang kali. Tak hanya itu, pelaku juga melempari rumah Malem dengan batu hingga menciptakan suasana horor.

"Pelaku membuat kegaduhan dengan menembakkan senapan angin berulang-ulang. Ini membuat saya sangat terganggu dan takut di dalam rumah sendiri," kata Malem saat memberikan keterangan, Minggu (8/3/2026).

2. Seret sajam melintas depan rumah, pelaku diduga diperintahkan oknum ketua ormas

Sejumlah warga berkerumun di luar garis polisi saat Labfor olah TKP di lokasi ledakan petasan Kabupaten Wonosobo. (IDN Times/Dok Humas Polda Jateng)

Motif pengancaman ini disinyalir berkaitan dengan upaya penguasaan rumah yang saat ini ditempati oleh korban. Selain tembakan, B juga kerap menebar teror fisik dengan menyeret-nyeret klewang (senjata tajam) di atas aspal tepat di depan rumah korban.

Sembari menyeret sajam yang mengeluarkan bunyi gesekan besi, pelaku melontarkan ancaman verbal. "Jangan kau kuasai yang bukan milikmu!" jelas Malem menirukan teriakan pelaku yang terus menghantuinya.

3. Cuma satu harapan, polisi bisa bergerak dan mengamankan pelaku penebar teror

Seorang polsuska berjalan di depan ruang pos pelayanan keamanan kepolisian khusus di Stasiun Tawang Semarang. (IDN Times/Dok Humas Daop 4 Semarang)

Malem mengaku kecewa dengan lambannya proses hukum. Ia merasa dibiarkan menghadapi teror tersebut sendirian tanpa perlindungan yang pasti dari pihak berwajib.

"Hati saya tidak tenang, setiap malam saya merasa dihantui ketakutan. Saya tidak tahu harus mengadu ke mana lagi kalau polisi saja belum bertindak tegas," keluh Malem dengan nada getir.

Ia sangat berharap agar Polres Binjai segera menangkap pelaku dan dalang di balik aksi premanisme ini. "Harapan saya cuma satu, saya minta keadilan dan kepastian hukum. Tolong tangkap pelakunya agar saya bisa tidur nyenyak lagi di rumah saya sendiri," pungkas dia.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait mandeknya kasus ini. Kasat Reskrim Polres Binjai, AKP Hizkia Yosia Cladius Peter Siagian, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, belum memberikan respons meskipun pesan sudah terkirim.

Aksi bungkam juga ditinjukan Kasi Humas AKP Junaidi, yang biasa terbuka. Namun ketika dikonfirmasi terkait teror yang diduga dilakukan oknum ketua ormas. Junaidi seolah pilih bungkam.

Editorial Team