Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Antrean Panjang di SPBU, Pengamat Menilai Panic Buying Perburuk Keadaan

Antrean Panjang di SPBU, Pengamat Menilai Panic Buying Perburuk Keadaan
Suasana pembelian BBM di SPBU Waingapu usai diperiksa Pertamina dan Polres Sumba Timur. (Dok Pertamina)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Antrean panjang di SPBU Medan terjadi akibat kepanikan warga setelah konflik Iran Vs AS-Israel, meski pemerintah menegaskan stok BBM nasional masih aman.

  • Ekonom Gunawan Benjamin menjelaskan dua pemicu utama panic buying: penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak mentah dunia yang memengaruhi harga BBM.

  • Pemerintah diminta membangun kepercayaan publik dengan komunikasi menenangkan serta memastikan distribusi BBM lancar agar masyarakat tidak membeli berlebihan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Medan, IDN Times - Di Kota Medan saat ini masyarakat mengeluhkan antrean panjang di SPBU untuk membeli BBM (bahan bakar minyak). Perang antara Iran vs AS-Israel menjadi pemicu utama kepanikan masyarakat, yang dinilai oleh pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin.

Dia menilai hal ini mendorong terjadinya aksi panic buying. Meskipun, di sisi lainnya pemerintah sudah menegaskan bahwa stok BBM kita aman. Namun sejauh ini pernyataan tersebut belum mampu meredakan kekuatiran warga.

1. Panic buying dinilai tidak memicu inflasi, karena sekalipun terjadi peningkatan permintaan, namun harga BBM tetap bertahan stabil

Pasokan BBM di NTB dipastikan aman jelang Idul Adha 2025. (dok. Istimewa)
Pasokan BBM di NTB dipastikan aman jelang Idul Adha 2025. (dok. Istimewa)

Panic buying yang dilakukan warga tentunya memperburuk keadaan. Karena dampaknya memicu antrian panjang, memperburuk keresahan, distribusi BBM menjadi timpang, hingga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat khususnya bagi kendaraan niaga barang dan jasa. Meskipun demikian panic buying tidak memicu inflasi, karena sekalipun terjadi peningkatan permintaan, namun harga BBM tetap bertahan stabil.

"Perang antara Iran dengan AS yang masih berlangsung saat ini, dan telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia serta ditutupnya selat hormuz telah meracuni pikiran masyarakat," jelasnya.

2. Gunawan sebut ada dua isu utama yang menimbulkan masyarakat panic buying

Ilustrasi pengisian BBM. (Dok. PPN Sumbagsel).
Ilustrasi pengisian BBM. (Dok. PPN Sumbagsel).

Dikatakannya, ada dua isu utama setidaknya yang membuat masyarakat melakukan panic buying.

Pertama, penutupan selat hormuz berpotensi mengganggu ketersediaan BBM sehingga berpeluang memicu kelangkaan.

Selanjutnya, kedua adalah kenaikan harga minyak mentah dunia berpeluang mendorong terjadinya kenaikan harga BBM di tanah air.

"Untuk poin yang kedua dampaknya memang akan dirasakan instan, karena harga BBM non subsidi jelas naik harga disaat harga minyak mentah dunia alami kenaikan. Namun untuk BBM bersubsidi ini sangat tergantung dari kebijakan pemerintah. Sehingga panic buying saat ini harus dibarengi dengan kemampuan pemerintah untuk memenuhi potensial demand dari masyarakat," ungkap Gunawan.

3. Pemerintah harus bisa membangun narasi yang menentramkan dan pastikan kebutuhan BBM terpenuhi

Ilustrasi pengisian BBM. (Dok. PPN Sumbagsel).
Ilustrasi pengisian BBM. (Dok. PPN Sumbagsel).

Untuk meredakan panic buying maka yang perlu dibangun oleh pemerintah adalah trust atau kepercayaan. Pemerintah harus bisa membangun narasi yang menentramkan dan diikuti dengan upaya untuk memastikan bahwa kebutuhan BBM masyarakat terpenuhi dan bagi masyarakat sebaiknya tidak melakukan panic buying dan tetap membesli sesuai dengan kebutuhannya.

"Perang memang bisa merubah segala kemungkinan kebijakan yang akan diambil pemerintah. Dan perang memang sudah pasti akan merubah tatanan distribusi barang dan jasa. Namun panic buying hanya akan memperburuk keadaan, dan masyarakat sendiri yang akan merasakan dampak buruknya. Dan sejauh ini saya belum melihat dampak panic buying terhadap lompatan harga kebutuhan pokok masyarakat," pungkasnya.

Share
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More