Tautan Menuju Belanja, Kisah Afiliator Buka Jalan UMKM Temukan Konsumen

Ekosistem bisnis digital kini berkembang semakin pesat. Bicara Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kini tidak hanya soal jualan online lewat e-commerce atau media sosial. Namun kini ada entitas lain yang ikut memengaruhi keputusan pembelian. Affiliate atau afiliasi kini menjadi fenomena menarik di dunia usaha online, terutama digital marketing.
Pukul 03.00 WIB menjadi waktu orang-orang lagi lelap-lelapnya tidur. Namun tak demikian dengan Indra Gunawan. Pria 39 tahun warga Tanjung Morawa,Deli Serdang ini justru kerap terjaga. Pikirannya berkecamuk, memutar otak bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan.
Itulah yang dialami Indra dua tahun silam. Berprofesi sebagai jurnalis salah satu media, Indra harus punya penghasilan tambahan untuk mencukupi berbagai kebutuhan rumah tangganya.
“Saya sering bangun jam 3 atau jam 4 setiap hari. Saya scrol di handphone lihat video-video cara mendapatkan uang tambahan. Kemudian muncul affiliate ini, saya coba pelajari dan mendapat banyak kisah soal orang yang berhasil, jadi saya coba,” kata Indra kepada IDN Times, Senin (31/8/2026).
Indra mengaku tertarik karena belanja online adalah salah satu hal yang tak lepas dari kehidupannya. Tukang antar paket kerap mampir ke rumahnya.
“Awalnya kenapa tertarik karena istri sering belanja online, saya pun juga sesekali. Tapi durasinya tiap minggu ada saja barang yang dibeli. Tukang paket itu datang ada durasinya tujuh sampai 10 kali per bulan. Jadi mau gak mau harus ada penghasilan tambahan,” ujarnya.
Dari kebiasaan kecil itu kemudian muncul ide di kepalanya. Kenapa tidak ikut mendapatkan penghasilan dari aktivitas belanja online tersebut? Indra kemudian mencari tahu cara kerja affliate melalui konten-konten di medsos.
Ia menemukan jika seseorang tidak harus punya barang untuk berjualan. Produk bisa dipromosikan lewat video atau foto, kemudian pembelian terjadi melalui tautan atau link yang disematkan. Jika produk itu laku, komisi pun meluncur.
Indra kemudian mulai membuat konten. Bermodal handphone android miliknya, Indra mulai merekam video pertamanya. Diakuinya awalnya cukup kesulitan. Selain tampilan kamera ponsel yang apa adanya. dia juga masih terbata-bata ketika berbicara. Salah bicara, ulang lagi, setelah lancar kemudian disusun menjadi video.
Dalam sehari, Indra setidaknya berusaha membuat satu video.Ia kemudian menguploadnya ke berbagai platform, termasuk Shopee affliate. Namun memang tidak langsung ada membeli produk yang ditautkannya.
“Dalam seminggu belum ada laku, masuk minggu kedua belum juga. Niatnya waktu itu memang bukan barangnya langsung laku, tapi agar bisa dikenal orang lewat konten,” ungkapnya.
Akhirnya pembeli datang juga memasuki pekan ketiga. Sejak saat itu Indra pun terus rajin membuat konten. “Sekitar minggu ketiga akhirnya laku satu produk. Komisinya memang gak banyak Rp1.200. Walaupun kecil tapi jadi alasan saya untuk terus semangat buat video,” katanya.
Istilah proses tidak akan mengkhianati hasil pun kemudian diamini Indra. Sebuah produk yang di-review-nya meledak jumlah pembelinya. “Jadi waktu itu saya main ke rumah adik ipar. Saya tanya ada barang yang dibeli online. Lalu mereka ngasi rak jilbab yang saya buat kontennya. Ternyata banyak orang suka dan beli, dalam sehari laku 30 rak,” ucapnya.
Seiring dengan semakin seringnya membuat konten, kualitas pun meningkat. Indra mengatakan, semakin bagus kontennya akan menarik perhatian. Menurut Indra, cara orang menjual barang sekarang sudah berubah. Dahulu, iklan identik dengan foto produk yang bagus, model terkenal, atau biaya promosi besar. Kini, seseorang bisa memperkenalkan produk hanya dengan kamera ponsel. Tetapi menurutnya, persoalannya bukan sekadar membuat video.
"Kalau kita jualan, jangan cuma foto. Kita harus spill, review. Orang itu harus puas dengan penjelasan kita," ujarnya.
Menjadi seorang affiliator tak perlu modal besar. Tidak harus punya studio untuk membuat konten. “Video bisa dibuat di kamar, dapur, ruang tamu, bahkan di bawah pohon. Satu produk pun dapat dibuat menjadi banyak video dengan sudut pandang berbeda,” katanya.
Menurutnya kuncinya adalah orinalitas dan cara menyampaikan informasi.Salah satu hal yang terus ia pelajari adalah hook atau pembuka video. Waktu untuk menarik perhatian penonton sangat singkat. Dalam video berdurasi sekitar satu menit, beberapa detik pertama menentukan apakah seseorang akan terus menonton atau langsung menggulir ke video berikutnya.
"Tiga detik pertama harus menarik. Kalau tidak, orang akan meninggalkan video kita," katanya.
Prinsip tersebut menurutnya berlaku di berbagai platform video pendek. Karena itu, Indra tidak hanya memikirkan produk apa yang akan dijual. Ia juga memikirkan bagaimana produk tersebut diceritakan. Selama sekitar dua tahun mendalami affiliate, Indra menyadari bahwa konsistensi menjadi salah satu faktor penting.
Ia membiasakan diri membuat minimal satu video setiap hari. Setelah mandi dan sebelum berangkat bekerja, ia menyempatkan diri membuat konten. Pada malam hari, proses editing dilanjutkan.
Indra mengakui pada bulan-bulan pertama, komisinya bahkan belum mencapai Rp100 ribu.Namun angka kecil itu tetap memiliki arti. "Minimal uang jajan anak saya lepas. Anak saya jajan Rp10 ribu sehari. Berarti minimal jajan anak saya sudah lepas. Listrik juga bisa terbantu. Kita dapat berapa pun harus bersyukur," ujarnya.
Kini, Indra sudah mendapat penghasilan yang menggiurkan. Bahkan mencapai jutaan rupiah hingga Rp10 juta. Namun ia mengingatkan agar orang yang baru memulai tidak menjadikan uang sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Sebab, menurutnya, jumlah penonton tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah penjualan.
Sebuah video bisa ditonton 1.000 orang tetapi tidak menghasilkan transaksi. Sebaliknya, video dengan hanya sekitar 200 penonton bisa menghasilkan beberapa penjualan. “Ada video saya dengan sekitar 1.800 penonton yang hanya menghasilkan satu transaksi. Itu rezeki dari Tuhan. Ada video yang penontonnya banyak tetapi tidak laku. Ada yang penontonnya sedikit tetapi justru ada yang membeli. Berarti video itu dilempar algoritma kepada orang yang memang membutuhkan," kata Indra.

Susanti (39), warga Kecamatan Medan Marelan juga memutuskan terjun ke dunia affiliate sejak enam bulan terakhir. Sebagai ibu rumah tangga yang tidak lagi bekerja, Susanti pengin punya dapat pemasukan.
"Pertama lihat-lihat dari medsos bagaimana bisa dapat uang tambahan. Sebenarnya saya jualan juga kuliner di rumah, tapi banyak waktu kosongnya juga karena gak ada pembelian jadi coba-coba buat konten untuk affiliate," kata Susanti.
Susanti kemudian memanfaatkan barang-barang online yang dibelinya maupun suami untuk di-review. Bermodalkan tripod, dan handphone ia kemudian membuat video review soal produk tersebut. "Saya sejauh ini masih afiliate untuk Shopee. Saya daftar cukup mudah. Kemudian KTP, nomor rekening. Kalau ada yang klik dari tautan kita dapat komisi. Ini juga mau coba peluang-peluang lain," katanya.
Tak seperti Indra yang membutuhkan waktu 3 minggu hingga mendapatkan komisi, Santi lebih beruntung. Dalam waktu satu hari sudah ada orang yang mengklik dan membeli dari tautan yang dilakukannya.
"Ya Alhamdulillah waktu itu kebetulan pertama share langsung ada yang beli. Kalau gak salah baju. Itu yang buat saya semangat. Dulu saya hanya share foto-foto produk aja kemudian taruh link shopee di whatsapp, kemudian sekarang mulai bikin-bikin video," ucapnya.
Ibu dua anak itu mengatakan proses pencairannya juga cukup mudah meskipun ada proses yang harus dilalui. "Cairnya tunggu barangnya sampai ke pembeli. Berapapun bisa dicairkan masuk ke Shopee Pay nanti bisa diteruskan ke rekening. Pencairannya Selasa dan Kamis,” katanya.
Memang belum banyak yang dihasilkan Santi dari affiliate itu. Hal itu karena diakuinya terkadang dirinya tidak konsisten. “Sekitar Rp500 ribu yang sudah ditarik, lumayanlah. Memang kuncinya konsisten. Terkadang semangat naik turun, ini yang coba diperbaiki karena memang asal konsisten saja banyak uangnya,” ucapnya.
Santi mengakui jika ada suka duka yang dialami. Salah satunya, ia pernah memvideokan tumblr yang cukup ramai ditonton, tapi komisinya nol rupiah. "Akhirnya saya hapus videonya karena rasanya sakit hati padahal dari video saya dia ada yang beli sekitar 3. Itu kadang-kadang ada juga seller yang pelit. Jadi harus pandai-pandai juga mempromosikan yang mana, tetapi dari situ saya tetap semangat karena sudah terbukti menghasilkan," kata Santi.
Pengaruh konten-konten para affiliator yang mengulas produk untuk keputusan membeli memang cukup berpengaruh. Seperti dialami Nina (43), perempuan yang gemar belanja online ini biasanya melihat dulu seperti apa ulasannya.
“Memang sering juga lihat konten-konten untuk lihat produknya bagus gak. Biasanya kan dites mereka. Apalagi barang elektronik. Jadi lebih puas daripada sekadar lihat foto,” ucap Nina.
Nina mengatakan dalam seminggu dia bisa berbelanja satu atau dua kali lewat e-commerce seperti Shopee. Ibu rumah tangga itu cukup merasa terbantu dengan adanya konten-konten dari affiliator. “Pastinya bagus. Apalagi mereka juga bisa dapat cuan. Jadi gak ada salahnya juga beli dari situ. Yang penting bagi saya produk itu terjamin sampai karena sekarang kan banyak juga penipuan,” ucap Nina.
Strategi affiliate bukan sekadar tren sementara, melainkan sudah menjadi bagian penting dalam ekosistem pemasaran digital global. Sejak awal 2026, Shopee bersama pemerintah pun melihat ini sebagai upaya menciptakan lapangan kerja baru.
Pada Februari 2026 lalu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Shopee Indonesia menggelar program Training of Trainers (ToT) Shopee Affiliate. Ditargetkan 60 ribu affiliator baru muncul hingga akhir 2026. Para calon affiliator dilatih 100 instruktur dari berbagai Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di daerah dan pelatih dari Akademi Pengajar Kampus UMKM Shopee yang telah tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Deputy Director of Public Affairs Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira, membeberkan riset internal jika 50 persen penjualan produk lokal pada tahun 2025 diperkirakan berasal dari platform video seperti Shopee Live dan Shopee Video. Kemampuan membuat video pun menjadi penting.
"Ekosistem digital menjadi sangat penting bukan karena ia canggih, tetapi karena mampu membuka peluang untuk belajar, bekerja, dan tumbuh," ujar Radynal dalam keterangan resminya.

Guru besar Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Universitas Atma Jaya Prof Rosdiana Silalahi mengatakan afiliasi menjadi sistem yang lebih memudahkan UMKM menjangkau pasar yang lebih luas.
“Memang berbayar kalau diperhitungkan dengan jangkauan pasar. Ini lebih produktif. Karena mereka punya segmented pasar sendiri melalui para pengikutnya. Mereka ini influencer atau konten kreator yang biasanya memiliki pengikut yang banyak. Mereka bisa secara cepat memerkenalkan produk mereka ke sejumlah konsumen tertentu,” kata Rosdiana kepada IDN Times.
Kerja sama afiliator dan UMKM ini menjadi salah satu model bisnis baru yang menguntungkan. Pemasaran secara digital pasti akan lebih membantu UMKM yang dimiliki afiliator lewat fanatisme pengikut mereka. Mereka seperti sosok yang dikagumi, jika UMKM secara otomatis mendapat manfaat sendiri.
“UMKM silahkan saja memilih mana afiliator yang sesuai dengan visi atau value dari produk mereka. Ini akan melekat, kekhasan dar sebuah produk UMKM. Letak program keberhasilan program afilisasi di sana. Dengan berbagai kolaborasi konten kreator, e-commerse ini biasanya memerkenalkan produk tertentu .Sudah banyak UMKM go digital memanfaatkan system afiliasi salah satu membuat bisnis mereka lebih baik di pasar,” ucapnya.
Pengamat bisnis dari Universitas Atma Jaya Jakarta Dr Eko Widodo melihat fenomena afiliasi ini sebagai hubungan yang menarik dengan UMKM. Di satu sisi memberikan jangkauan yan lebih luas.
"Kalau untuk digital marketing affiliate dan UMKM hubungannya saling menguntungkan, affiliate mendorong UMKM itu mendapatkan pasar yang lebih luas. Pasar baru yang lebih luas. Yang dulunya sifatnya sangat lokal sekali. Dengan bantuan affiliate bisa menyebar. Masalahnya memang di pasar yang baru ini, persaingannya lebih ketat, lebih ganas, lebih keras,” kata Eko kepada IDN Times, Senin (31/8/2026).
Menurutnya sebelumnya di tingkat lokal, UMKM dapat menjalin hubungan dan kepercayaan dan personal dengan para konsumen. “Ada kepercayaan personal yang sebenarnya susah digantikan, Bahkan bisa bersifat turun menurun, misal ke anaknya. Personal sangat kuat. Susah sekali ditembus pesaing Sekarang dengan adanya digital marketing affiliator ternyata bisa ditembus,” tambah Dosen Prodi Magister Administrasi Bisnis itu.
Sisi positif lainnya adalah affiliator jadi profesi atau pekerjaan baru. Menambah jumlah tenaga kerja yang ikut berpartisipasi di situ. “Ini menciptakan ketergantungan baru UMKM terhadap affliator. Kalau dulu itu misalnya pedagang kerupuk itu kita bisa memenuhi konsumsi lokal. Sekarang gak mungkin karena pasar lokal juga sudah dimasuki,” ucapnya.
Tren menurutnya sangat memengaruhi kondisi pasar saat ini. Produk sangat cepat berganti. “UMKM mau gak mau harus mengikuti tren, sementara produk sangat cepat berganti. Hari ini tren bisa sepi lagi. UMKM gak punya modal kemampuan yang cukup dituntut melakukan perubahan. Pasar menginginkan berubah terus. Di satu sisi ini menguntungkan UMKM baru. Dia bisa menemukan sesuatu baru, tapi tantangannya bagaimana bertahan,” pungkasnya.












![[BREAKING] Gunung Sinabung Erupsi, Kawasan Danau Lau Kawar Ditutup](https://image.idntimes.com/post/20231031/234200724-909534509599126-1080077558241490122-n-9c1b3d886f1892ace56555052f878904.jpg)





