Linimasa Erupsi Gunung Sinabung Sejak 2010 hingga Ribuan Warga Mengungsi

- Gunung Sinabung kembali erupsi pada 31 Agustus 2026 dengan kolom abu setinggi 3.500 meter di atas puncak.
- Aktivitas erupsi masih berlangsung, sementara status Sinabung berada pada Level III atau Siaga dengan pembatasan aktivitas di kawasan rawan.
- Sejak kembali aktif pada 2010, erupsi Sinabung memicu pengungsian dan relokasi warga, termasuk persoalan penyediaan lahan usaha tani.
Karo, IDN Times – Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali erupsi pada Senin (31/8/2026). Erupsi terjadi sekitar pukul 10.17 WIB dengan kolom abu hitam tebal mencapai 3.500 meter di atas puncak atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu bergerak ke arah timur dan tenggara. Erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 120 milimeter dan durasi sementara sekitar 1 jam 1 menit 48 detik. Hingga laporan awal dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung. Sinabung kini berstatus Level III atau Siaga. Rekomendasi keselamatan melarang aktivitas di desa-desa yang telah direlokasi, radius 3 kilometer dari puncak, serta radius sektoral 4,5 kilometer ke arah selatan-tenggara.
Erupsi terbaru ini mengingatkan kembali pada perjalanan panjang Gunung Sinabung sejak kembali aktif pada 2010. Dalam 16 tahun terakhir, gunung ini mengalami sejumlah fase erupsi besar, perubahan status dari Waspada hingga Awas, serta memaksa puluhan ribu warga meninggalkan rumah.
Dampaknya juga tidak berhenti ketika abu berhenti keluar dari kawah. Sebagian warga mengungsi. Bahkan ada yang hingga direlokasi permanen ke kawasan baru.
1. 2010, Sinabung bangun dan 12 ribu warga mengungsi

Gunung Sinabung (ANTARA FOTO/Edy Regar/Lmo/foc.) Gunung Sinabung kembali aktif pada akhir Agustus 2010 setelah lama tidak menunjukkan aktivitas erupsi yang tercatat dalam pemantauan modern. Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut, erupsi Sinabung tidak pernah tercatat sejak 1600 an.
Badan Geologi menyebut letusan pertama terjadi pada 27 Agustus 2010. Pada 29 Agustus, status Sinabung dinaikkan menjadi Level IV atau Awas setelah terdengar suara gemuruh dan terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
BNPB mencatat pengalaman erupsi 2010 menyebabkan sekitar 12 ribu jiwa mengungsi. Saat itu karakter erupsi Sinabung belum banyak diketahui karena gunung tersebut sebelumnya tidak menunjukkan aktivitas dalam waktu sangat lama. Data Badan Geologi juga mencatat letusan pada 3 September dan 7 September 2010. Pada 7 September, kolom abu mencapai sekitar 5.000 meter dan menjadi salah satu letusan terbesar dalam fase awal terbangunnya Sinabung.
Status kemudian diturunkan secara bertahap setelah aktivitas mereda. Namun, fase 2010 menjadi awal dari periode panjang yang kemudian mengubah kehidupan masyarakat di sekitar Sinabung.
Sumber data: Badan Geologi/Kementerian ESDM dan BNPB, termasuk laporan Tim Tanggap Darurat Pantau Secara Cermat Gunung Sinabung (29 Agustus 2010) dan laporan BNPB tentang penanganan pengungsi Sinabung.
2. 2013-2014, erupsi membesar hingga 33 ribu warga mengungsi

Erupsi Gunung Api Sinabung, Karo, Sumatra Utara, Jumat (14/8/2020) sekitar pukul 16.56 WIB. (Istimewa) Sinabung kembali menunjukkan aktivitas pada September 2013. Kajian ilmiah mencatat fase awalnya berupa erupsi freatik, kemudian berkembang menjadi erupsi magmatik sejak 15 September 2013. Pada 15 September 2013 saja, BNPB mencatat sekitar 3.710 jiwa mengungsi di lima titik. Angka ini meningkat seiring aktivitas gunung yang semakin intens.
Pada November 2013, jumlah pengungsi terus bertambah. Badan Geologi mencatat rangkaian letusan pada 20, 23, dan 24 November dengan kolom abu mencapai sekitar 8.000 meter di atas puncak. Status Sinabung dinaikkan menjadi Level IV atau Awas pada 24 November. Kementerian ESDM mencatat warga dari 21 desa dan dua dusun harus dievakuasi. Pada Januari 2014, Kementerian Kesehatan mencatat 27.671 jiwa atau 8.647 KK tersebar di 41 titik pengungsian.
Krisis mencapai salah satu titik terparah pada Februari 2014. Data yang dihimpun dalam berbagai kajian penanganan pengungsi mencatat jumlah pengungsi mencapai sekitar 33.210 jiwa pada 12 Februari. Setelah itu jumlah perlahan turun seiring pemulangan warga dari wilayah yang dianggap aman. Pada 29 Juni 2014, misalnya, BNPB masih mencatat 14.382 jiwa atau 4.475 KK mengungsi, terdiri dari 13.170 jiwa di 28 titik penampungan dan 1.212 jiwa atau 370 KK yang tinggal di hunian sementara maupun rumah sewa.
Sumber data: BNPB, Kementerian Kesehatan, Kementerian ESDM/Badan Geologi, serta kajian akademik mengenai penanganan pengungsi Sinabung.
3. 2014-2018, pengungsi mulai direlokasi permanen

Gunung Sinabung kembali erupsi, Kamis (29/10/2020). (Dok.IDN Times/istimewa) Aktivitas Sinabung tidak berhenti setelah rangkaian erupsi 2013-2014. Pada 2 Juni 2015 pukul 23.00 WIB, status Sinabung kembali berada pada Level IV atau Awas setelah aktivitas vulkaniknya menunjukkan peningkatan dan potensi ancaman bahaya.
Pada periode ini, masyarakat diminta menjauhi kawasan rawan, termasuk radius 3 kilometer dari puncak dan sejumlah sektor yang memiliki potensi luncuran awan panas. Ancaman juga mencakup guguran lava serta lahar di sungai-sungai yang berhulu di Sinabung.
Status Awas itu bertahan hingga 2019. Dengan demikian, Sinabung menjalani hampir empat tahun dalam Level IV sebelum statusnya diturunkan.
Pada 2017, erupsi dan awan panas masih terjadi. Salah satu peristiwa penting berlangsung pada 2 Agustus 2017. Sejak pukul 08.09 WIB terjadi rangkaian awan panas guguran, kemudian beberapa kali erupsi mulai pukul 09.36 WIB. Kolom abu mencapai sekitar 2.000-3.000 meter di atas puncak dan hingga pukul 11.10 WIB tercatat 16 kali awan panas guguran dengan jarak luncur 2.500-4.500 meter ke arah tenggara-timur.
Pada 19 Februari 2018, Sinabung kembali mengalami erupsi besar. Kolom letusan mencapai sekitar 5.000 meter dari atas puncak. Setelahnya, terjadi 10 kali awan panas guguran dengan jarak luncur hingga 4,9 kilometer ke arah selatan-tenggara dan 3,5 kilometer ke arah timur-tenggara.
Erupsi yang berulang membuat pemerintah mengambil kebijakan merelokasi warga dari radius bahaya. Desa-desa tertentu berada di kawasan rawan bencana yang terus mendapat ancaman awan panas, guguran lava, dan lahar.
Pada Oktober 2014, BNPB mencatat 2.986 jiwa atau 956 KK masih mengungsi di 10 titik. Pada periode yang sama, pemerintah mempercepat pembangunan hunian tetap.
Relokasi tahap pertama diarahkan ke Siosar, Kecamatan Merek. Kelompok pertama terdiri dari 370 KK dari Desa Bekerah, Simacem, dan Sukameriah. BNPB mencatat 370 unit hunian tetap dibangun, sementara warga juga disiapkan lahan pertanian. Pada September 2015, BNPB menyebut dari 370 KK atau 1.212 jiwa yang menjadi prioritas pertama, rumah telah selesai tetapi baru 21 KK yang menempatinya karena lahan pertanian belum tersedia sepenuhnya. Pada akhir 2015, seluruh 370 KK akhirnya menempati kawasan relokasi Siosar.
Namun, relokasi tidak berhenti pada 370 KK. Ketika kawasan rawan bencana meluas, pemerintah merancang tahap berikutnya. BNPB kemudian mencatat sebanyak 1.903 KK menjadi sasaran relokasi tahap II, sedangkan kelompok lain sebanyak 1.098 KK direncanakan masuk relokasi tahap III. Pada periode tersebut, BNPB juga mencatat sebanyak 3.331 KK secara keseluruhan harus direlokasi karena berada di kawasan rawan bencana.
Sumber data: BNPB, termasuk laporan Relokasi Pengungsi Erupsi Sinabung di Siosar (5 Mei 2015), Presiden Tanda Tangani Kepres Percepatan Relokasi Korban Sinabung (21 September 2015), dan laporan mengenai percepatan relokasi Sinabung. Angka sasaran relokasi berbeda pada sejumlah dokumen karena pendataan dan skema program berubah dari waktu ke waktu.
4. 2016-2021, rumah dibangun tetapi lahan usaha jadi masalah baru

Erupsi Gunung Api Sinabung, Karo, Sumatra Utara, Rabu (19/8/2020) pukul 18.23 WIB. (Istimewa) Relokasi membuat sebagian warga berpindah dari posko pengungsian menuju hunian baru. Namun, perpindahan rumah tidak otomatis menyelesaikan persoalan kehidupan mereka. Data BNPB menunjukkan pada 29 Januari 2016 masih terdapat 3.315 jiwa pengungsi. Pada Agustus 2016, jumlahnya kembali tercatat mencapai 9.318 jiwa atau 2.592 KK yang tersebar di sembilan posko ketika aktivitas Sinabung meningkat dan awan panas terus meluncur.
Dalam program relokasi, pemerintah juga menerapkan pola relokasi mandiri. Data BNPB pada 2016 mencatat pembangunan hunian tetap untuk 1.683 KK melalui pola relokasi mandiri, kemudian jumlah penerimanya bertambah 220 KK sehingga menjadi 1.903 KK. Sementara itu, BNPB juga mencatat sebanyak 1.098 KK direncanakan direlokasi ke kawasan Siosar. Artinya, angka-angka tersebut merupakan sasaran pada program atau tahap berbeda, sehingga tidak tepat dijumlahkan sebagai jumlah keluarga yang berbeda.
Persoalan lain muncul setelah rumah tersedia. Sebagian besar warga Sinabung menggantungkan hidup pada pertanian sehingga lahan usaha menjadi bagian penting dari keberhasilan relokasi. Data BNPB menunjukkan warga di Siosar membutuhkan lahan pertanian untuk memulihkan mata pencaharian. Bahkan survei BNPB pada 2015 menunjukkan sebagian penghuni belum langsung menempati rumah baru karena menunggu masa sewa rumah dan kesiapan lahan pertanian.
Pada 2020, persoalan relokasi masih belum sepenuhnya selesai. IDN Times melaporkan ribuan warga masih menunggu proses relokasi. Pada tahap III, pemerintah kemudian membangun hunian tetap untuk 892 KK. Kementerian Sosial pada Desember 2020 juga memberikan bantuan isi hunian tetap kepada 892 KK. Namun, proses penyediaan lahan usaha tani terus berjalan hingga tahun-tahun berikutnya.
Data teranyar juga menyebut Pemkab Karo segera mengeksekusi lahan Usaha Tani (LUT) Relokasi Tahap III, yang akan digunakan untuk mendukung pemulihan kehidupan masyarakat terdampak erupsi Gunung Sinabung.
Adapun lahan yang akan dieksekusi meliputi ±260 hektar di wilayah Desa Partibi Lama, Kecamatan Merek, serta ±100 hektar di wilayah Desa Kacinambun dan Desa Sukamaju, Kecamatan Tiga Panah. Lahan-lahan tersebut telah ditetapkan sebagai lokasi Usaha Tani Relokasi Tahap III bagi warga korban erupsi Gunung Sinabung.
Pada periode ini, erupsi juga belum seutuhnya berhenti. Pada 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB, statusnya diturunkan dari Level IV menjadi Level III atau Siaga. Meski demikian, guguran awan panas dan aktivitas kubah lava masih menjadi perhatian.
Pada 10 Agustus 2020, Sinabung kembali erupsi dengan kolom abu sekitar 5.000 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna kelabu dan bergerak ke arah timur serta tenggara. Saat itu status Sinabung masih Level III atau Siaga.
Erupsi kembali terjadi pada 5 September 2020. Kolom erupsi mencapai sekitar 800 meter di atas puncak. Badan Geologi kemudian masih mencatat aktivitas guguran awan panas dan gempa-gempa vulkanik pada akhir Oktober tahun yang sama.
Memasuki 2021, aktivitas erupsi masih berlangsung. Salah satu erupsi signifikan terjadi pada 2 Maret 2021. Kolom abu mencapai sekitar 5.000 meter di atas puncak dan sebarannya terbawa hingga sejumlah wilayah di Aceh, termasuk Aceh Tenggara dan Aceh Selatan.
Data capaian Kementerian ESDM mencatat Sinabung termasuk gunung api yang mengalami erupsi sepanjang 2021. Dalam laporan tersebut, Sinabung juga tercatat mengalami 13.500 guguran lava dan 55 kejadian awan panas. Erupsi terakhir dalam rangkaian aktivitas tersebut tercatat pada 28 Juli 2021. Setelahnya, aktivitas vulkanik cenderung menurun.
Sumber data: BNPB, Data Bencana Indonesia 2016, laporan BNPB tentang relokasi mandiri, Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan pemberitaan IDN Times. Data pengungsi 3.315 jiwa merupakan kondisi pada 29 Januari 2016, sedangkan 9.318 jiwa merupakan kondisi pada Agustus 2016; keduanya tidak menggambarkan total warga yang pernah mengungsi.
5. 2022-2026, aktivitas Sinabung relative menurun

Erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Senin (31/8/2026). (Dok: PVMBG) Setelah bertahun-tahun berada dalam status tinggi, aktivitas Sinabung mulai menurun. Status gunung diturunkan menjadi Level II atau Waspada pada 17 Mei 2022. Badan Geologi dalam laporan 12 Agustus 2026 menyebut status Level II tersebut telah berlaku sejak 17 Mei 2023. Pada periode ini, aktivitas erupsi besar memang menurun dibandingkan fase 2013-2021.
Namun, penurunan status tidak berarti seluruh persoalan Sinabung selesai. Pemerintah daerah masih menghadapi pekerjaan terkait lahan usaha tani bagi warga relokasi. Hingga 2025, sekitar 360 hektare lahan usaha tani untuk relokasi tahap III masih menjadi bagian dari proses penyelesaian. Ini terdiri dari sekitar 260 hektare di Desa Partibi Lama dan sekitar 100 hektare di Desa Kacinambun serta Sukamaju.
Aktivitas vulkanik kemudian kembali menunjukkan peningkatan pada Agustus 2026. Pada 12 Agustus, Badan Geologi mencatat peningkatan gempa Vulkanik Dalam dan Hembusan, disertai kemunculan gempa Low Frequency dan Hybrid yang sebelumnya jarang terekam. Asap kawah juga semakin tebal dan mencapai sekitar 1.000 meter. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki kemudian diminta tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari puncak serta radius sektoral 3,5 kilometer untuk sektor selatan-timur.
Dua pekan lebih kemudian, Sinabung kembali erupsi. Pada 31 Agustus 2026 pukul 10.17 WIB, kolom abu hitam tebal membumbung hingga 3.500 meter di atas puncak. Hingga laporan awal dibuat, erupsi masih berlangsung. Teranyar, status gunung ditingkatkan pada Level III asiaga, dengan rekomendasi tidak beraktivitas di desa-desa yang telah direlokasi, radius 3 kilometer dari puncak, dan radius sektoral 4,5 kilometer ke arah selatan-tenggara.
Sumber data: Badan Geologi Kementerian ESDM, laporan peningkatan aktivitas Gunung Sinabung 12 Agustus 2026, serta laporan erupsi 31 Agustus 2026.
Disclaimer: Pengumpulan data memanfaatkan kecerdasan buatan dan melalui proses verifikasi ketat redaksi.



![[BREAKING] Gunung Sinabung Erupsi, Kawasan Danau Lau Kawar Ditutup](https://image.idntimes.com/post/20231031/234200724-909534509599126-1080077558241490122-n-9c1b3d886f1892ace56555052f878904.jpg)











