Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Warga Binaan Rutan Medan Produksi 5 Ton Tempe Tiap Bulan

Kota Medan
Warga Binaan Rutan Medan Produksi 5 Ton Tempe Tiap Bulan
Warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Medan terlibat dalam berbagai aktivitas produksi. (Dok: Rutan Klas I Medan)
  • Warga binaan Rutan Kelas I Medan memproduksi sekitar 5 ton tempe atau 307 batang per hari melalui Bimker.
  • Tempe bersertifikat halal disalurkan antara lain untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis, sementara Bimker juga membuat beragam produk lain.
  • Hingga Juli 2026, usaha Bimker menghasilkan PNBP Rp24,5 juta dan menjadi sarana pembinaan keterampilan warga binaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times – Warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Medan tidak hanya menjalani masa pidana. Melalui Bimbingan Kegiatan Kerja (Bimker), mereka terlibat dalam berbagai aktivitas produksi, salah satunya membuat tempe yang mencapai sekitar 5 ton setiap bulan.

Produksi tersebut mencapai sekitar 307 batang tempe per hari dan sebagian hasilnya disalurkan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain tempe, Bimker juga mengembangkan produksi sandal, tas, kerajinan tangan, roti, keripik, produk olahan teri, hingga coffee shop.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian agar warga binaan memiliki keterampilan dan pengalaman kerja sebelum kembali ke masyarakat.

  1. 1. Warga binaan produksi 5 ton tempe setiap bulan

    WBP_1.jpg
    Warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Medan terlibat dalam berbagai aktivitas produksi. (Dok: Rutan Klas I Medan)

    Produksi tempe menjadi salah satu kegiatan unggulan di Bimker Rutan Kelas I Medan. Dalam sebulan, jumlah produksi disebut mencapai sekitar 5 ton dengan produksi harian sekitar 307 batang.

    Tempe yang dihasilkan juga telah memiliki sertifikat halal. Produk tersebut kemudian disalurkan, salah satunya untuk mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Kasubsi Bimbingan Kegiatan Kerja Rutan Kelas I Medan, Irawadi Purba, mengatakan kegiatan produksi tempe tidak hanya bertujuan menghasilkan produk, tetapi juga melatih warga binaan dalam bekerja secara teratur.

    “Produksi tempe ini menjadi salah satu kegiatan produktif yang kami kembangkan secara berkelanjutan. Dalam satu bulan, produksi dapat mencapai sekitar 5 ton, dengan hasil produksi yang turut mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain keterampilan, kegiatan ini juga mengajarkan Warga Binaan tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta proses kerja yang terarah,” ujar Irawadi Purba dalam keterangan, Minggu (30/8/2026).

    Menurut Irawadi, proses produksi juga dilakukan dengan memperhatikan kebersihan dan kualitas. Sertifikasi halal disebut menjadi bagian dari upaya memastikan produk yang dipasarkan memenuhi ketentuan yang berlaku.

  2. 2. Tak hanya tempe, ada sandal sampai coffee shop yang dibikin warga binaan

    WBP_4.jpg
    Warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Medan terlibat dalam berbagai aktivitas produksi. (Dok: Rutan Klas I Medan)

    Program Bimker di Rutan Kelas I Medan tidak hanya mengandalkan satu jenis usaha. Warga binaan juga dilibatkan dalam pembuatan berbagai produk, mulai dari kerajinan tangan, sandal, tas, sandal hotel, hingga aneka produk UMKM.

    Selain itu, terdapat produksi keripik pisang, keripik tempe, roti, olahan teri, serta coffee shop. Beragam kegiatan tersebut menjadi ruang bagi warga binaan untuk mempelajari keterampilan yang dapat digunakan setelah mereka menyelesaikan masa pidana.

    Kepala Rutan Kelas I Medan, Andi Surya, mengatakan pembinaan kemandirian diarahkan agar warga binaan tidak sekadar menghabiskan masa pidana, tetapi juga memiliki pengalaman bekerja dan menghasilkan sesuatu.

    “Kami terus mendorong agar pembinaan di Rutan Kelas I Medan tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga pada pembentukan kemandirian dan produktivitas Warga Binaan. Melalui Bimker, mereka diberikan ruang untuk belajar, bekerja, berkarya, dan mengembangkan potensi yang dimiliki sebagai bekal ketika nantinya kembali ke masyarakat,” ujar Andi Surya.

    Ia menilai hasil dari kegiatan tersebut menunjukkan bahwa keterampilan warga binaan dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif.

  3. 3. Bimker hasilkan PNBP Rp24,5 juta hingga Juli 2026

    WBP_3.jpg
    Warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Medan terlibat dalam berbagai aktivitas produksi. (Dok: Rutan Klas I Medan)

    Selain menjadi bagian dari pembinaan, kegiatan usaha di Bimker juga memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara melalui Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

    Hingga Juli 2026, PNBP dari berbagai produk dan kegiatan usaha Bimker mencapai Rp24,5 juta. Angka tersebut berasal dari akumulasi penjualan produk kerajinan, sandal, tas, sandal hotel, aneka produk olahan UMKM, serta coffee shop.

    Andi mengatakan pendapatan tersebut bukan berasal dari satu produk tertentu. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan berbagai kegiatan warga binaan bisa berjalan secara produktif.

    “PNBP yang dihasilkan merupakan akumulasi dari berbagai produk dan kegiatan usaha yang ada di Bimker, bukan berasal dari satu jenis produk saja. Ini menunjukkan bahwa pembinaan yang kita lakukan memiliki nilai produktif. Kami akan terus mendorong agar potensi dan keterampilan Warga Binaan dapat dikembangkan sehingga menghasilkan karya yang bernilai dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Andi Surya.

    Dengan target PNBP Rp36 juta dalam satu tahun, capaian hingga Juli 2026 tersebut menjadi salah satu indikator kegiatan Bimker telah menghasilkan aktivitas ekonomi di dalam Rutan Kelas I Medan.

    Program tersebut juga ditujukan untuk membangun disiplin, tanggung jawab, rasa percaya diri, dan keterampilan kerja warga binaan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

    “Harapannya, keterampilan yang diperoleh selama mengikuti kegiatan di Bimker dapat menjadi bekal bagi Warga Binaan setelah selesai menjalani masa pidana. Jadi, mereka tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga mendapatkan pengalaman kerja dan keterampilan yang bisa dikembangkan secara mandiri di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More