Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Praktik Budidaya Ikan Rendah Karbon di Keramba Jaring Apung (KJA) milik PT Suri Tani Pemuka (Japfa) di Danau Toba, Kecamatan Tiga Ras, Simalungun (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Simalungun, IDN Times - Pembangunan rendah karbon tidak hanya semata dalam bentuk fisik di daratan. Di perairan hal ini juga bisa dipraktikkan, misalnya budidaya ikan. Hal sudah sejak lama dipraktikkan PT Suri Tani Pemuka (Japfa) pada usaha Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Toba, Kecamatan Tiga Ras, Simalungun, Sumatra Utara.

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas Leonardo Adypurnama awal Oktober lalu langsung meninjau ke lokasi.

“Pembangunan rendah karbon ini tidak semata-mata atau perubahan dari bagaimana kita menghasilkan ikan, terutama melalui aquaculture ini tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Tapi sebenarnya merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk melaksanakan pembangunan rendah karbon,” ujar Leonardo.

Leonardo mengatakan, Indonesia sebelumnya berada di posisi kedua sebagai produsen sekaligus eksportir ikan nila dunia, namun pada 2025 posisi ini disalip Vietnam.

Maka dari itu, Indonesia perlu untuk mengejar kembali posisi itu dengan peningkatan produksi sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar premium.

Leonardo juga menilai budidaya rendah karbon perlu diterapkan pada seluruh jenis ikan yang dibudidayakan karena kegiatan perikanan berhubungan langsung dengan daya dukung lingkungan dan aktivitas ekonomi lainnya.

Ia mencontohkan Danau Toba yang tidak hanya dimanfaatkan untuk budidaya ikan, tetapi juga transportasi, pariwisata, sumber air bersih, hingga pembangkit listrik.

“Sehingga mungkin bagian-bagian ini perlu dipertimbangkan bahwa sekecil apapun kontribusi kepada pencemaran, misalnya yang dihasilkan dari usaha budi daya ini juga mempengaruhi aktivitas dan kualitas dari aktivitas ekonomi yang lain,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Bappenas melihat penerapan budi daya ikan nila sebagai salah satu contoh praktik pembangunan rendah karbon yang bisa diperluas.

Penerapan tersebut mencakup penggunaan pakan dan desain keramba yang disesuaikan dengan kebutuhan ikan serta daya dukung lingkungan. Teknologi pakan juga dirancang untuk mengurangi penggunaan fosfor yang dapat memicu pencemaran danau.

Adapun sebagai pilar utama transformasi ekonomi hijau dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, Kementerian PPN/Bappenas mengintegrasikan Pembangunan Rendah Karbon (PRK) dan Berketahanan Iklim untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca.

Lewat intervensi di sektor transisi energi, pengelolaan lahan dan ekosistem karbon biru, ekonomi sirkular, industri hijau, serta transportasi ramah lingkungan, PRK menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89 persen hingga 43,2 persen pada 2030. Kemudian penurunan intensitas emisi ditargetkanb hingga 93,5 persen pada 2045.

Yuk lihat potret aktivitas Budidaya Ikan Rendah Karbon di Danau Toba:

Editorial Team

Related Article