Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Akreditasi Bermasalah, Mahasiswa UDA Demo Pertanyakan Nasib
Universitas Darma Agung Medan (Dok. Instagram @lilis_sandi_gulo)
  • Puluhan mahasiswa UDA Medan berunjuk rasa setelah BAN-PT mencabut akreditasi kampus pada 7 Juli 2026, sehingga statusnya menjadi Tidak Memenuhi Syarat Peringkat.
  • Massa menuntut kepastian kelanjutan kuliah, wisuda tertunda, dan hambatan administrasi akibat dualisme yayasan; mereka juga menolak pungutan Rp2 juta untuk pindah kampus.
  • Mahasiswa meminta pengembalian uang kuliah bila hak akademik tak diproses; aksi membakar ban sempat menutup jalan, sementara tak ada perwakilan yayasan menemui massa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
7 Juli 2026

BAN-PT mencabut akreditasi UDA. Kampus berstatus Tidak Memenuhi Syarat Peringkat akreditasi.

26 Agustus 2026

Puluhan mahasiswa UDA berdemonstrasi di depan kampus di Medan. Mereka menuntut kepastian kelanjutan kuliah dan wisuda, menolak pungutan pindah Rp2 juta, serta meminta pengembalian uang kuliah jika hak akademik tidak diproses; tidak ada perwakilan yayasan menemui massa hingga aksi selesai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Puluhan mahasiswa Universitas Darma Agung berunjuk rasa menuntut kepastian kelanjutan kuliah, wisuda tertunda, pencabutan hambatan administrasi, penolakan pungutan pindah Rp2 juta, dan pengembalian uang kuliah jika hak akademik tidak diproses.
  • Who?
    Mahasiswa UDA, dipimpin koordinator aksi Daniel Sinaga, menuntut Rektor dan Ketua Yayasan Perguruan Darma Agung. Hingga aksi berakhir, tidak ada perwakilan yayasan yang menemui massa.
  • Where?
    Aksi berlangsung di depan kampus UDA dan Gedung Sekretariat Biro Rektor, Jalan Dr. T.D. Pardede, Kelurahan Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan.
  • When?
    Demonstrasi digelar pada Rabu, 26 Agustus 2026. Pencabutan akreditasi UDA oleh BAN-PT terjadi pada 7 Juli 2026.
  • Why?
    Aksi dipicu status UDA sebagai Tidak Memenuhi Syarat Peringkat akreditasi setelah pencabutan akreditasi. Mahasiswa juga menyatakan konflik internal yayasan menghambat hak akademik serta administrasi perpindahan kampus.
  • How?
    Mahasiswa berorasi, membentangkan poster, dan membakar ban di badan jalan. Polisi sempat menutup akses jalan di sekitar lokasi aksi. Massa meminta Suryadi keluar untuk menemui mereka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Puluhan mahasiswa UDA di Medan berdemo karena kampus mereka tidak punya akreditasi lagi. Mereka takut kuliah dan wisuda jadi susah. Mereka juga bilang harus bayar Rp2 juta kalau mau pindah kampus. Mahasiswa membakar ban dan membawa poster. Sampai demo selesai, tidak ada orang yayasan yang keluar menemui mereka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah ketidakpastian, mahasiswa UDA menunjukkan keberanian dan kepedulian kolektif dengan menyampaikan tuntutan yang jelas mengenai kelanjutan studi, wisuda, serta hambatan administrasi. Aksi mereka menegaskan bahwa mahasiswa memahami hak akademiknya dan berupaya menjaga akses pendidikan tetap terbuka, terutama bagi mereka yang merasa terbebani persoalan biaya dan konflik yayasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Puluhan mahasiswa Universitas Darma Agung (UDA) menggelar aksi demonstrasi di depan kampus, Jalan Dr. T.D. Pardede, Kelurahan Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Rabu (26/8/2026). Aksi tersebut dipicu persoalan akreditasi UDA oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada 7 Juli 2026. Akibat keputusan itu, kampus milik Yayasan Perguruan Darma Agung (YPDA) berstatus Tidak Memenuhi Syarat Peringkat (TMSP) akreditasi.

1. Mahasiswa suarakan tiga tuntutan utama

Puluhan mahasiswa Universitas Darma Agung (UDA) menggelar aksi demonstrasi di depan kampus (Dok. Romi for IDN Times)

Di tengah terik matahari, para mahasiswa menyuarakan tiga tuntutan utama yang membuat suasana aksi semakin memanas. Koordinator Aksi, Daniel Sinaga, dalam orasinya di depan Gedung Sekretariat Biro Rektor, menuntut kejelasan status dan layanan akademik.

"Kepada Bapak Rektor dan Ketua Yayasan, aksi kami ini untuk meminta kepastian kelanjutan kuliah, proses wisuda yang tertunda, serta pencabutan hambatan administratif akibat dualisme Yayasan Perguruan Darma Agung," katanya dengan nada penuh emosi.

Tuntutan kedua, mahasiswa menolak adanya pungutan biaya pindah ke kampus lain sebesar Rp2 juta. "Kami bukan sapi perah. Jangan ada pungutan uang Rp2 juta yang dibebankan kepada mahasiswa saat mengurus surat rekomendasi atau izin pindah ke perguruan tinggi lain," tegasnya.

Tuntutan ketiga, mahasiswa meminta pengembalian uang kuliah yang telah disetorkan kepada pihak yayasan yang berkonflik, apabila hak akademik mereka tidak diproses.

"Kami orang miskin. Jangan persulit mahasiswa dengan urusan administrasi perpindahan kampus," ujarnya.

2. Mahasiswa menuding konflik internal yayasan justru menjadikan mereka korban

Universitas Darma Agung Medan (Dok. Instagram @lilis_sandi_gulo)

Kekecewaan memuncak ketika tidak ada pihak yayasan yang menemui massa. Mahasiswa menuding konflik internal yayasan justru menjadikan mereka sebagai korban. "Jangan kami, mahasiswa yang dibodoh-bodohi. Ini kami yang terlalu pintar atau pihak yayasan yang bodoh yang mencoba mengangkangi hak-hak mahasiswa," ujar orator lainnya dengan suara lantang.

Agar aspirasi didengar, mahasiswa membakar ban di badan jalan. Akibatnya, akses jalan di kawasan aksi sempat ditutup oleh pihak kepolisian.

"Jangan diam saja di dalam. Keluarlah Pak Suryadi, temui kami para mahasiswa di sini," seru massa aksi.

3. Tidak ada perwakilan Yayasan UDA yang keluar

Puluhan mahasiswa Universitas Darma Agung (UDA) menggelar aksi demonstrasi di depan kampus (Dok. Romi for IDN Times)

Hingga aksi selesai, tidak ada perwakilan Yayasan UDA yang keluar dari Gedung Rektorat untuk menemui mahasiswa. Bagi mereka, ini bukan sekadar soal demo. Ini soal hak untuk melanjutkan kuliah tanpa dipersulit.

Dari aksi ini, selain membakar ban bekas, mahasiswa juga membentangkan berbagai poster bertuliskan "Mahasiswa Jadi Korban Dualisme Yayasan", "Kampus Pemeras", dan "Kampus Mempersulit Mahasiswa".

Terdapat pula poster bertuliskan "Pak Najib Tolong Kami, Pak" sebagai bentuk permohonan kepada pihak terkait.

Editorial Team

Related Article