Literasi Sumut Diklaim Naik, Masuk 10 Besar Nasional

- Sumatra Utara berhasil masuk 10 besar nasional dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat dan tingkat kegemaran membaca, menandakan peningkatan signifikan budaya literasi di daerah tersebut.
- Pemerintah Provinsi Sumut memperkuat layanan bacaan digital lewat program BACA DISUMUT serta pembinaan perpustakaan sekolah dan integrasi dengan Program Unggulan Bersekolah Gratis untuk pemerataan akses literasi.
- Gerakan literasi diperluas ke masyarakat melalui perpustakaan keliling, pojok baca, pelatihan storytelling, hingga lomba bertutur, melibatkan berbagai pihak demi membangun budaya baca berkelanjutan.
Medan, IDN Times - Pembangunan literasi di Sumatra Utara diklaim menguat. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tahun 2025 menempatkan Sumut di posisi 10 besar nasional.
Tak hanya itu, tingkat kegemaran membaca masyarakat juga ikut terdongkrak. Sumut kini berada di peringkat ke-9 secara nasional. Konidisi ini menandakan adanya pergeseran positif dalam budaya literasi.
1. IPLM dan minat baca Sumut masuk 10 besar nasional

Capaian tersebut disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumut, Desni Maharani Saragih, dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Kamis (23/4/2026).
“Hal ini menunjukkan bahwa kinerja pembangunan literasi masyarakat dan tingkat gemar membaca di Sumut relatif makin kompetitif dibanding provinsi lainnya,” kata Desni.
Peringkat ini menjadi indikator bahwa upaya penguatan literasi mulai menunjukkan hasil. Meski demikian, pemerintah daerah masih melihat adanya ruang untuk terus mendorong peningkatan di tahun-tahun berikutnya.
2. Program digital dan penguatan sekolah jadi strategi utama

Untuk menjaga tren positif tersebut, Pemprov Sumut menggencarkan sejumlah program strategis. Salah satu yang didorong adalah penguatan layanan bahan bacaan digital melalui program BACA DISUMUT, termasuk ekspansi ke wilayah Kepulauan Nias.
“Kami juga melakukan pembinaan perpustakaan SMA/SMK berupa peningkatan kualitas perpustakaan beberapa sekolah di Kepulauan Nias,” ujarnya.
Selain itu, penguatan literasi juga dilakukan melalui dukungan terhadap program pendidikan, termasuk integrasi dengan Program Unggulan Bersekolah Gratis (PUBG), guna memastikan akses bacaan merata hingga ke daerah.
3. Gerakan literasi diperluas hingga ke akar masyarakat

Upaya peningkatan literasi tidak hanya menyasar sekolah. Pemerintah juga mengembangkan program berbasis komunitas, seperti perpustakaan keliling, pojok baca, hingga layanan terpadu untuk wilayah terpencil.
“Kami juga melaksanakan program peningkatan literasi dan kegemaran membaca dengan kegiatan Read Aloud untuk TK/PAUD, pelatihan storytelling, pelatihan membaca kritis, workshop literasi media, gerakan sepekan satu buku, lomba bertutur, penyelenggaraan pengawasan kearsipan, dan program lainnya,” ucap Desni.
Menurutnya, pembangunan literasi membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
“Pembangunan literasi, tingkat kegemaran membaca, dan penguatan kearsipan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan Sumut. Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mengambil peran dalam membangun budaya literasi di tengah masyarakat,” ujar Desni.


















