Jalan di Medan Deli Diaspal dengan Bahan Olahan dari Limbah FABA

Medan, IDN Times – Siapa sangka limbah batubara bisa disulap menjadi bahan perbaikan infrastruktur jalan agar untuk nyaman dilalui warga? Di Medan Deli, inovasi itu kini jadi kenyataan. Hal ini menjadi program PLN bersama Baitulmaal Muamalat (BMM) Sumatra Utara dengan memanfaatkan limbah fly ash dan bottom ash (FABA) untuk memperbaiki jalan rusak di Lingkungan 27, Kelurahan Tanjung Mulia.
Lewat program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), akses yang sebelumnya berlubang dan belum teraspal kini berubah lebih layak, sekaligus menghadirkan solusi ramah lingkungan. Manager PLN UPT Medan, Doni Andreas, menjelaskan bahwa perbaikan ini berangkat dari kebutuhan mendesak di lapangan, terutama akses menuju Gardu Induk GIS Mabar yang kerap dilalui warga.
“Salah satu akses menuju Gardu Induk GIS Mabar melewati Jalan Kemuning yang sebelumnya dalam kondisi rusak,” ujar Doni, Rabu (22/4/2026).
1. Limbah jadi solusi, bukan lagi masalah

Kondisi jalan yang memprihatinkan mendorong PLN mencari pendekatan berbeda. FABA pun dimanfaatkan sebagai campuran material aspal, menghadirkan solusi yang tidak hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi juga mengurangi limbah industri.
“Dari situ muncul inisiatif untuk melakukan pengaspalan dengan memanfaatkan FABA sebagai campuran,” katanya.
Menurut Doni, langkah ini membuka peluang baru di sektor konstruksi. Limbah yang selama ini dipandang sebelah mata kini justru punya nilai guna.
“Pemanfaatan FABA tidak hanya berdampak pada perbaikan jalan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah di sektor konstruksi,” ujarnya.
Ia berharap inovasi ini bisa diperluas ke wilayah lain dan mendapat dukungan lebih luas, termasuk dari pemerintah pusat.
2. Perbaikan jalan menjadi salah satu yang dibutuhkan warga
Di sisi lain, Baitulmaal Muamalat memastikan program ini berbasis kebutuhan masyarakat. Kepala Perwakilan BMM Sumut, Budi Syahputra, menyebut perbaikan jalan menjadi prioritas setelah dilakukan asesmen sosial bersama pemerintah setempat.
“Berdasarkan hasil pemetaan sosial yang kami lakukan, salah satu kebutuhan utama masyarakat adalah perbaikan atau pengerasan jalan,” ujarnya.
Koordinasi pun dilakukan dengan camat, lurah, hingga dinas terkait agar program sejalan dengan rencana pembangunan daerah.
3. Sentuh 900 meter persegi jalan warga

Perbaikan dilakukan di beberapa titik, yakni Jalan Melati, Jalan Kemuning, dan Gang Keri, dengan total luas mencapai sekitar 900 meter persegi.
Dalam prosesnya, FABA digunakan sebagai campuran agregat dengan komposisi sekitar 12 persen. Sejak 2021, FABA telah dikategorikan sebagai limbah non-B3, sehingga aman dimanfaatkan.
“FABA yang kami gunakan merupakan limbah non-B3 sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Budi.
Lebih jauh, inovasi ini juga membuka peluang pengembangan lain. Selain untuk aspal, FABA telah digunakan dalam pembuatan batako dan menjadi bahan kajian ilmiah di sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Utara.
“Ini menjadi peluang bagaimana limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya


















