Medan, IDN Times - Keresahan sederhana menjadi pemicu lahirnya sebuah gerakan kebudayaan. Yakni, Raminalai Dakhi, pendiri sekaligus pemilik merek kain tenun dan songket khas Nias bernama Tuwu Nukhada, yang memilih menjawab rasa penasaran dengan karya, bukan sekadar kata-kata.
Raminalai bercerita, sebagai pecinta wastra, ia kerap sedih ketika ingin memunculkan identitasnya sebagai orang Nias. Ia mencoba memesan bordir motif Nias kepada penjahit, namun hasilnya selalu mengecewakan.
Kekecewaan yang berulang justru menjadi titik balik. Saat itu, anak-anak perempuannya yang masih duduk di bangku kelas 5 SD hingga SMP membuat kejutan kecil. Mereka membuat pola dan mendesain motif Nias di atas kertas.
"Ini Mama, sudah nih bikin. Saya langsung tertarik. Loh, kok polanya seperti kain. Desainnya kok cantik," kenang Raminalai.
Dari coretan anak-anak itu, ia melihat peluang. Namun, ia tidak ingin sekadar indah. Sebagai salah satu suku tertua di Sumatra Utara, motif itu harus memiliki filosofi. Sumatra Utara sendiri merupakan pemasok wastra terbesar di Indonesia, dari Ulos Batak hingga Melayu. Mengapa tidak dengan Nias?
"Saya terinspirasi Batak, Palembang. Saya akan buat Nias begitu supaya bisa terkenal," katanya.
