Kisah Raminalai Dalhi Hidupkan Tenun Nias Lewat Tuwu Nukhada

Raminalai Dakhi mendirikan Tuwu Nukhada setelah bordir motif Nias yang dipesannya mengecewakan; desain awal dari anak-anaknya kemudian dikembangkan menjadi wastra berfilosofi.
Riset selama tiga tahun menemukan tradisi tenun Nias atau Fanoso telah punah; kain leluhur berbahan serat ladari mudah terurai, sementara inspirasi motif tersisa pada rumah adat dan artefak.
Tuwu Nukhada memadukan benang ulos, warna adat Nias, dan motif Nias Selatan; produksi utama berada di Medan, sambil mengirim 20 alat tenun untuk membina kelompok penenun di Nias Selatan.
Medan, IDN Times - Keresahan sederhana menjadi pemicu lahirnya sebuah gerakan kebudayaan. Yakni, Raminalai Dakhi, pendiri sekaligus pemilik merek kain tenun dan songket khas Nias bernama Tuwu Nukhada, yang memilih menjawab rasa penasaran dengan karya, bukan sekadar kata-kata.
Raminalai bercerita, sebagai pecinta wastra, ia kerap sedih ketika ingin memunculkan identitasnya sebagai orang Nias. Ia mencoba memesan bordir motif Nias kepada penjahit, namun hasilnya selalu mengecewakan.
Kekecewaan yang berulang justru menjadi titik balik. Saat itu, anak-anak perempuannya yang masih duduk di bangku kelas 5 SD hingga SMP membuat kejutan kecil. Mereka membuat pola dan mendesain motif Nias di atas kertas.
"Ini Mama, sudah nih bikin. Saya langsung tertarik. Loh, kok polanya seperti kain. Desainnya kok cantik," kenang Raminalai.
Dari coretan anak-anak itu, ia melihat peluang. Namun, ia tidak ingin sekadar indah. Sebagai salah satu suku tertua di Sumatra Utara, motif itu harus memiliki filosofi. Sumatra Utara sendiri merupakan pemasok wastra terbesar di Indonesia, dari Ulos Batak hingga Melayu. Mengapa tidak dengan Nias?
"Saya terinspirasi Batak, Palembang. Saya akan buat Nias begitu supaya bisa terkenal," katanya.
1. Butuh riset 3 tahun, menemukan budaya yang punah

Kain songket khas Nias dari Tuwu Nukhada (Dok. Istimewa) Bersama ketiga anaknya, Raminalai memulai riset panjang selama tiga tahun. Trial and error menghabiskan waktu dua tahun sebelum akhirnya Tuwu Nukhada diluncurkan 2,5 tahun lalu.
Di tengah penelitian, ia menemukan fakta pahit yaitu budaya menenun leluhur Nias, yang dalam bahasa Nias disebut Fanoso, ternyata telah punah.
"Kami hanya bisa mendapatkan alat tenunnya yang dipajang di museum. Dipajang hanya sekadar pajangan di Museum Nias," ungkapnya.
2. Bahan dasar tenun nenek moyang Nias pada zaman dahulu berasal dari serat tanaman

Kain songket khas Nias dari Tuwu Nukhada (Instagram @tuwunukhada_official) Setelah ditelusuri lebih dalam, penyebabnya terungkap. Bahan dasar tenun nenek moyang Nias pada zaman dahulu berasal dari serat tanaman bernama ladari, sejenis anggrek hutan. Serat alami itu akan terurai dalam dua dekade, sehingga jejak kainnya tidak dapat ditemukan hingga kini.
Motif asli tenun leluhur pun hanya polosan. Motif-motif yang kaya filosofi justru banyak ditemukan di rumah adat dan ukiran artefak.
"Kami berpikir, kalau polosan kami lestarikan kembali, tidak relevan dengan zaman sekarang. Kami sepakat tidak boleh mengesampingkan perkembangan zaman," jelasnya.
Akhirnya, ia mengombinasikan. Untuk bahan baku, ia masih serumpun dengan Sumatera Utara, menggunakan benang yang biasa dipakai penenun Ulos. Untuk warna, ia mengambil pakem warna adat Nias, yakni merah, kuning, dan hitam, berbeda dengan Batak yang identik merah dan hitam. Untuk motif, ia mengangkat motif-motif dari rumah adat Nias Selatan, yang dikenal sebagai pusat peradaban dengan bukti batu-batu megalitik.
3. Kirim 20 alat tenun ke Nias Selatan

Kain songket khas Nias dari Tuwu Nukhada (Instagram @tuwunukhada_official) Perjalanan membangkitkan kembali wastra Nias tidak mudah. Literasi di kampung halaman masih rendah. Banyak masyarakat Nias sendiri beranggapan nenek moyangnya tidak memiliki budaya tenun.
"Itu tantangan bagi saya," kata Raminalai.
Saat ini, ia mengaku masih kombinasi dalam produksi. Karena tinggal di luar Nias dan keterbatasan sumber daya manusia serta bahan baku di sana, rumah produksi utamanya ada di Medan, di kawasan Padang Bulan, tepatnya di Citra Garden. Sebelumnya, saat mengembangkan usaha, ia berada di Jawa, menyewa tanah kosong, membangun workshop, merekrut penenun, dan mendatangkan pelatih.
Namun, komitmen untuk pulang sangat kuat. Ia telah mengirimkan 20 set alat tenun ke Nias Selatan dan tengah menggagas binaan kelompok tenun di sana. Ia bahkan sudah membawa pelatih, meski sempat jatuh sakit saat pulang kampung.
Ia memanfaatkan pameran-pameran seperti Nusantara Creative Week (NCW) 2026 untuk memperkenalkan karya. Hasilnya mulai terlihat. Meski 80 persen pembeli saat ini masih orang tua, antusiasme masyarakat yang mengenal Tuwu Nukhada cukup besar.
"Banyak yang tertarik. Struggle kami karena kami tidak tinggal di Nias, banyak orang Nias sendiri belum tahu kami sudah ada kain tenun sekarang," tuturnya.
Bagi Raminalai, Tuwu Nukhada bukan sekadar bisnis fesyen. Ini adalah upaya mengembalikan identitas yang hilang, agar suatu hari nanti tidak ada lagi orang Indonesia yang bertanya, Nias itu di mana.
Sekedar informasi, Tuwu berarti menyokong, mengangkat, atau memunculkan kembali harapan baru bagi Pulau Nias.
Sedangkan Nukhada bermakna agar setiap orang Nias merasa memiliki, mengenal, dan bangga terhadap kain tenun dan wastra leluhur mereka.
Sementara filosofi visual nama dan motifnya terinspirasi dari Lawa-lawa (jendela bagian atas rumah adat Nias yang melambangkan cahaya dan harapan) serta ukiran khas Nias.
Warna khas menggunakan dominasi warna merah, kuning, dan hitam yang identik dengan pakaian adat Nias.


















