Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Pikiran Ibu Sulit untuk Beristirahat Meski Sudah Lelah?
ilustrasi ibu dan anak (Pexels.com/Prio Buntapisza Soegriwo)
  • Beban pikiran ibu mencakup pekerjaan rumah yang tidak terlihat, seperti mengantisipasi kebutuhan, mengambil keputusan, dan memantau hasil.

  • Membantu membeli popok belum tentu berarti mengambil alih seluruh urusan, karena tanggung jawab juga mencakup memantau stok dan menentukan waktu pembelian.

  • Waktu istirahat dapat berarti 30 menit tanpa memegang semua keputusan, dengan pembagian pengasuhan yang lebih spesifik dan dukungan saat dibutuhkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2019

Penelitian Allison Daminger tentang pekerjaan kognitif di dalam rumah tangga terbit di American Sociological Review. Pekerjaan itu dibagi menjadi mengantisipasi kebutuhan, mencari pilihan, mengambil keputusan, dan memantau hasil.

2024

Penelitian Elizabeth Aviv dan koleganya menemukan bahwa porsi pekerjaan perencanaan rumah tangga yang lebih besar berkaitan dengan stres, kelelahan, dan kualitas hubungan yang lebih rendah.

22 September 2026

Pembaruan Peta Jalan Ekonomi Perawatan menempatkan keterlibatan ayah dan pembagian kerja perawatan sebagai bagian dari arah kebijakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • Apa?
    Pekerjaan rumah dan pengasuhan membuat pikiran ibu tetap aktif meski tubuh sudah lelah.
  • Siapa?
    Ibu dengan anak kecil, pasangan, keluarga, dokter, dan psikolog terlibat dalam pembagian tanggung jawab serta dukungan yang dibahas.
  • Di mana?
    Di dalam rumah tangga; studi yang disebutkan melibatkan ibu dengan anak kecil di Amerika Serikat.
  • Kapan?
    Situasi ini terjadi setelah anak lahir, termasuk ketika ibu sudah larut malam masih memikirkan kebutuhan rumah dan anak.
  • Mengapa?
    Karena ibu tetap mengantisipasi kebutuhan, mencari pilihan, mengambil keputusan, dan memantau hasil berbagai urusan rumah.
  • Bagaimana?
    Beban dapat dibicarakan dan dibagi dengan memegang satu urusan sampai selesai, menyediakan waktu istirahat, serta mencari dukungan profesional jika diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ibu sudah capek, tetapi pikirannya masih mengingat popok, cucian, dan barang anak. Ibu juga harus memikirkan banyak hal kecil sebelum pekerjaan selesai. Pasangan bisa membantu memegang satu urusan sampai selesai. Ibu juga bisa mendapat waktu istirahat sebentar. Jika lelah dan stres mengganggu, orang tua dapat bicara dengan dokter atau psikolog.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pembagian tanggung jawab rumah tangga dapat dinegosiasikan dan diuji mulai dari satu urusan kecil. Cara ini membantu membuat pekerjaan yang sebelumnya tidak terlihat menjadi lebih jelas, sekaligus membuka ruang bagi ibu untuk beristirahat tanpa tetap memegang semua keputusan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di satu rumah tangga, seorang ibu masih terjaga meski sudah larut. Dia baru saja menidurkan bayinya yang masih balita. Baru duduk sebentar, pikirannya tertaut dengan stok popok yang tinggal sedikit. Bergerak sedikit, dia teringat kembali soal jemuran dan cucian piring kotor yang menumpuk.

Situasi seperti ini cukup akrab bagi banyak ibu yang baru punya anak. Apalagi pada masa-masa awal, ketika hampir semua hal terasa baru dan harus dipelajari sambil jalan. Ada jadwal makan, tidur, imunisasi, cucian yang bertambah, kebutuhan yang cepat berubah, sampai barang-barang kecil yang baru terasa penting ketika ternyata habis.

1. Ada pekerjaan rumah yang tidak kelihatan

ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/august-de-richelieu)

Ambil contoh urusan popok. Membeli popok mungkin hanya butuh waktu beberapa menit kalau toko dekat rumah. Tapi sebelum itu, seseorang harus sadar bahwa stok hampir habis. Ia juga harus ingat ukuran yang dipakai anak, merek yang biasanya cocok, kira-kira berapa banyak yang dibutuhkan, dan apakah uang belanja masih cukup.

Kadang pekerjaan semacam ini tidak dianggap sebagai pekerjaan karena tidak kelihatan. Tidak ada cucian yang menumpuk atau lantai yang kotor. Ingatan malah tetap bekerja.

Sosiolog Allison Daminger pernah meneliti pekerjaan kognitif di dalam rumah tangga. Dalam penelitiannya yang terbit di American Sociological Review pada 2019, ia membaginya ke dalam empat bagian: mengantisipasi kebutuhan, mencari pilihan, mengambil keputusan, dan memantau hasil. Penelitian tersebut menggunakan 70 wawancara mendalam dengan anggota dari 35 pasangan.

Gambaran itu cukup dekat dengan banyak urusan kecil di rumah. Saat anak akan dibawa ke posyandu, misalnya, ada yang harus mengingat jadwalnya. Lalu mengecek buku kesehatan, menyiapkan popok cadangan, pakaian ganti, tisu, botol minum, dan barang lain yang mungkin dibutuhkan. Semua bisa selesai dalam satu tas, tetapi proses mengingatnya bisa dimulai sejak sehari sebelumnya.

Penelitian Elizabeth Aviv dan koleganya pada 2024 juga menemukan bahwa porsi pekerjaan perencanaan rumah tangga yang lebih besar berkaitan dengan stres, kelelahan, dan kualitas hubungan yang lebih rendah.

Studi yang diterbitkan dalam Archives of Women’s Mental Health itu melibatkan 322 ibu dengan anak kecil di Amerika Serikat. Temuan tersebut menunjukkan hubungan antarvariabel dan tidak secara khusus menggambarkan kondisi ibu muda di Indonesia.

Kalau ingin melihat seperti apa pekerjaan yang selama ini “tinggal di kepala”, coba catat kegiatan rumah selama satu hari.

Jangan hanya menulis “cuci baju anak”. Tulis juga siapa yang sadar baju bersih tinggal sedikit, siapa yang mengingat pakaian untuk besok, dan siapa yang memastikan semuanya sudah kering sebelum dibutuhkan.

Kadang, dari daftar sesederhana itu, pembagian kerja yang selama ini terasa samar mulai terlihat.

2. Membeli popok belum tentu berarti mengambil alih urusan popok

Ilustrasi ibu menggendong anak (pexels.com/Helena Lopes)

Suami mungkin sering membantu membeli popok. Itu tentu berguna. Tapi ada perbedaan antara “membantu membeli” dan benar-benar memegang urusan popok.

Kalau kamu masih harus memberi tahu stok tinggal sedikit, mengirim foto merek, menyebut ukuran, mengingatkan kapan harus beli, lalu mengecek apakah barangnya sudah benar, berarti sebagian besar urusan itu masih tetap kamu pegang.

Pembagian bisa dicoba dengan cara yang lebih sederhana. Misalnya, selama satu minggu pasangan memegang seluruh urusan popok.

Kalian cukup bicara di awal tentang ukuran, merek yang biasa dipakai, anggaran, dan pilihan pengganti kalau produk tertentu sedang kosong. Setelah itu, ia yang memperhatikan stok dan menentukan kapan harus membeli lagi.

Terkadang, tidak perlu dimulai dari banyak hal sekaligus. Satu urusan kecil justru lebih mudah dicoba. Setelah beberapa hari, baru terlihat apakah pembagian tersebut benar-benar mengurangi beban pikiran atau hanya memindahkan sebagian kecil pekerjaannya.

Pengalaman semacam ini juga muncul dalam publikasi proyek kerja rumah University of Southern California. Seorang peserta program Fair Play menceritakan bahwa ketika suaminya mengambil alih sebagian beban rumah tangga, hidup mereka terasa lebih mudah. Pengalaman satu orang tentu tidak bisa mewakili semua keluarga, tetapi menunjukkan bahwa pembagian tanggung jawab bisa dinegosiasikan dan diuji. [3]

Di Indonesia, pembaruan Peta Jalan Ekonomi Perawatan pada 22 September 2026 juga menempatkan keterlibatan ayah dan pembagian kerja perawatan sebagai bagian dari arah kebijakan.

Percakapannya tidak harus terdengar formal. Bisa dimulai saat sedang duduk bersama setelah anak tidur.

“Aku masih kepikiran stok popok terus. Minggu ini kamu yang pegang, ya. Dari ngecek sampai beli.”

Kadang, kalimat sederhana seperti itu lebih mudah dijalankan daripada membicarakan “pembagian beban rumah tangga” secara panjang.

3. Kadang yang dibutuhkan cuma waktu 30 menit tanpa harus mengingat apa pun

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/karola-g)

Setelah anak lahir, waktu istirahat sering terasa aneh. Kamu mungkin sedang duduk, tetapi masih sambil mendengar apakah bayi terbangun. Sedang makan, tapi tetap berpikir nanti siapa yang memandikan. Sedang mandi, tapi buru-buru karena merasa ada yang menunggu di luar.

Karena itu, istirahat tidak selalu berarti punya banyak waktu luang. Bisa juga berarti ada setengah jam ketika kamu tidak perlu memegang semua keputusan.

Misalnya, setelah pasangan pulang dan sempat beristirahat, ia mengambil alih urusan anak sebentar. Kamu bisa mandi lebih lama, makan sampai habis, tidur, atau sekadar rebahan tanpa sambil mengecek stok susu dan cucian.

Dokter anak Hina Talib, dalam wawancara yang dipublikasikan UNICEF, menjelaskan bahwa merawat diri juga dapat mencakup meminta bantuan di rumah dan dari keluarga ketika dibutuhkan. Panduan UNICEF mengenai stres orang tua juga menyarankan agar waktu untuk merawat diri direncanakan dengan dukungan orang sekitar.

Tentu, pembagian seperti ini tidak selalu langsung berjalan lancar. Bisa saja pasangan lupa mengecek popok. Bisa juga tas bepergian tetap tidak lengkap. Atau kamu masih refleks mengingatkan karena selama ini sudah terbiasa melakukannya sendiri.

Setelah beberapa hari, bicarakan lagi tanpa harus menunggu sampai sama-sama kesal.

Kalau pasangan sedang tidak ada, bantuan dari orang lain juga bisa dibuat lebih spesifik. Bantuan kecil seperti itu lebih mudah dipahami dan lebih mudah diberikan.

Jika rasa lelah atau stres sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan terasa sulit ditangani sendiri, UNICEF menyarankan orang tua mencari dukungan profesional. Kamu bisa membicarakannya dengan dokter atau psikolog.

Tidak semua urusan rumah harus dibereskan sekaligus.Minggu ini, mungkin cukup lihat satu hal yang paling sering muncul di kepala: popok, cucian, tas bepergian, atau jadwal anak. Lalu coba bagi urusan itu sampai selesai, bukan hanya sebagian.

Curated For You

Editorial Team

Related Article