Seorang massa aksi mematung dengan kostum Themis, dewi keadilan dalam mitologi Yunani. Matanya tertutup kain hitam. Tangan kirinya memegang neraca. Tangan kanan memegang pedang. Namun pedang itu tidak mengarah ke bawah. Sosok yang dikenal sebagai Justitia dalam ilmu hukum itu, meletakkan pedang ke lehernya sendiri.
Teatrikal ini menjadi bentuk kritik kelompok Aksi Kamisan Medan terhadap rezim pemerintahan Prabowo Subianto – Rakabuming Raka. Mereka menyebut, bahwa Themis sendiri sebagai simbol hukum harus membunuh dirinya sendiri, karena tidak sanggup lagi melihat jalannya pemerintahan yang ada.
“Makanan diracun, udara kita dicemari. Hukum tidak lagi menjadi panglima tertinggi. Teatrikal ini menjadi bentuk kritik kita terhadap pemerintah yang hari ini abai terhadap Hak Asasi Manusia,” ujar Hagana, pentolan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumut dalam Aksi Kamisan ke-128 di titik nol Kota Medan, Kamis (22/10/2026).
Dalam aksi itu, massa juga membawa map merah sebagai simpol rapor untuk pemerintahan. Mereka memberi catatan panjang kegagalan Prabowo dalam menjalankan pemerintahan. Bertolak belakang dengan apa yang diagungkan pemerintah dalam beberapa hari belakangan.
Penilaian Rakyat: Rapor Merah Dua Tahun Rezim Prabowo-Gibran. Begitu judul rapor itu. Setidaknya, ada 10 bidang yang menjadi pokok penilaian. Seluruhnya bernilai F.
Dalam dunia kampus, jika mahasiswa mendapat nilai F, maka dia dinyatakan gagal.
10 bidang yang jadi penilaian mulai dari pemenuhan hak asasi manusia (HAM), kebebasan sipil, ekonomi, hingga penanganan bencana. Setiap bidang disertai kritik terhadap kebijakan dan berbagai persoalan yang menurut mereka belum terselesaikan.
Rapor itu juga memuat daftar 25 persoalan yang menjadi sorotan publik. Di antaranya penangkapan anak muda dalam demonstrasi, kenaikan tunjangan DPR, penanganan bencana ekologis di Sumatra, hingga persoalan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
