Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jejak di Balik PROPER, Menilik Strategi Keberlanjutan Inalum

Jejak di Balik PROPER, Menilik Strategi Keberlanjutan Inalum
Proper Emas dan Hijau 2025 diraih PT Inalum (dok.Inalum)

Dari turbin air ke tungku peleburan, tidak hanya cerita soal produksi dan profit. Ada lingkungan dan ekosistem yang wajib dijaga hingga kehidupan masyarakat ikut tumbuh dan berdaya bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Empat PROPER Emas dan PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) selama empat tahun terakhir menjadi ganjaran dari konsistensi anggota MIND ID itu dalam memenuhi standar kepatuhan untuk aspek lingkungan, sosial dan tata kelola sesuai konsep ESG (Environmental, Social, and Governance).

PROPER adalah Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup melalui sistem peringkat warna. Instrumen ini mendorong dunia industri untuk melampaui kepatuhan (beyond compliance). Emas menjadi peringkat tertinggi yang berarti perusahaan memiliki kinerja lingkungan yan unggul dan melampaui ekspektasi alam keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Sementara hijau menjadi penanda perusahaan memenuhi standar lingkungan yang berlaku.

Inalum meraih PROPER Emas empat kali beruntun untuk pabrik peleburan Kuala Tanjung pada 2022, 2024, 2025, serta operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Paritohan pada 2023. Sementara PROPER Hijau untuk operasional PLTA pada 2022, 2024, dan 2025 serta Pabrik Peleburan pada 2023.

PROPER ibarat rapor, dan nilai yang bagus merupakan buah dari kemampuan Inalum melewati ujian mematuhi standar yang ditetapkan. Direktur Utama Inalum Melati Sarnita mengatakan, perusahaan terus berupaya untuk menerapkan prinsip ESG yang tepat. Tidak hanya memikirkan profit dan produksi, namun ada berkontribusi untuk lingkungan sekitar.

"Inalum berkomitmen menjalankan industri peleburan aluminium berkelanjutan melalui modernisasi teknologi, efisiensi energi, dan penguatan rantai pasok. Upaya ini merupakan bagian yang dari penerapan industri hijau yang peduli dengan masyarakat. Bersama pemangku kepentingan kami berkomitmen memberikan kontribusi yang berkelanjutan untuk masyarakat,” kata Melati dalam keterangan tertulisnya.

Bangun fondasi energi bersih sejak awal

Potret PLTA Sigura-Gura diambil dengan drone (dok.IDN Times/Dayu Yudana/bt)
Potret PLTA Sigura-Gura diambil dengan drone (dok.IDN Times/Dayu Yudana/bt)

Rekam jejak Inalum di balik PROPER bukan hal instan. Melainkan jejak dari sistem yang telah lama berjalan. Sejak lahir tahun 1976, PT Inalum sudah mengusung DNA energi bersih. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sigura-gura dan Tangga dengan aliran Sungai Asahan dari Danau Toba menjadi tulang punggung operasional perusahaan berkapasitas total 603 Megawatt (MW). Dengan energi bersih perusahaan memproduksi green aluminium bernilai jual yang tinggi di pasar global.

Jauh sebelum transisi energi bersih digaungkan pemerintah saat ini, Inalum sudah membangun fondasinya. Persentase penggunaan energi listrik PLTA untuk produksi aluminium terus meningkat. Dari 94,29 persen pada tahun 2024 menjadi 95,51 persen pada 2025. Inovasi pun terus dilakukan dalam upaya mengurangi emisi. Salah satunya penggantian Motoruc berbahan bakar biodiesel menjadi listrik. Ini efektif untuk mengurangi emisi 4,2 ton co2 eq/tahun.

Untuk pengolahan air limbah, Inalum menerapkan prinsip Polluter Pays, termasuk pemanfaatan kembali black dross sebagai bahan baku industri sekunder serta kerja sama dengan mitra berlisensi untuk pengolahan dan daur ulang limbah B3. Energi rendah emisi dari PLTA Inalum menjadi faktor penting dalam menekan jejak karbon hinga konsumsi air pada core process tercatat 0,43 m³/kg.

Inovasi di pabrik peleburan Kuala Tanjung membuat Inalum bisa memproduksi 280.082 Metrik Ton (MT) dengan kapasitas produksi saat ini maksimal mencapai 275.000 MT. Sebelum-sebelumnya mentok di angka 250 ribu MT.

Seiring perjalanan panjang setengah abadnya, pencapaian baru terus diukir. Teranyar, Inalum menerbitkan Environmental Product Declaration (EPD) untuk produk aluminium ingot G1. Dokumen yang terdaftar pada The International EPD System ini berlaku hingga 2030.

Aluminium Ingot G1 memiliki tingkat kemurnian 99,70 persen dan memenuhi standar JIS H2102 yang digunakan untuk industri otomotif, konstruksi, elektronik hingga manufaktur. Ini juga jadi langkah strategis perusahan memerkuat posisi Indonesia di pasar aluminium hijau dunia sekaligus mendukung agenda hilirisasi nasional, transisi energi, dan percepatan pembangunan ekonomi hijau Indonesia.

Perbaikan ekosistem dan pemberdayaan masyarakat

Dirut PT Inalum Meli Sarnita menerima Proper Emas dan Hijau 2025  (dok.Inalum)
Dirut PT Inalum Meli Sarnita menerima Proper Emas dan Hijau 2025 (dok.Inalum)

Pemanfaatan sumber daya alam itu tentunya sudah dipikirkan untuk perbaikan ekosistemnya. Bagi Inalum, Danau Toba jadi sumber kehidupan dan warisan bagi generasi mendatang. Aksi konservasi terpadu digalakkan di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba bekerja sama dengan berbagai stake holder. Mulai dari konservasi air, rehabilitasi hutan, hingga pemberdayaan masyarakat di kabupaten sekitar Danau Toba. Ini jadi bagian upaya Inalum untuk keberlanjutan ekosistem dan masyarakat bisa merasakan langsung manfaatnya.

Reboisasi Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba juga terus digeber. Mulai dari 2018-2020 dengan 400 hektare (ha). Pada 2021 dan 2022 seluas 247 ha dan 260 ha. Kemudian tahun 2023 ditingkatkan lagi menjadi 370 ha. Kini tahun 2024 dan 2025 mencapai 500 ha. Total sudah 2.304 ha yang direboisasi selama tujuh tahun.

Selain itu sepanjang 2025, Inalum dan mitra merealisasikan pembangunan 10 ribu lubang biopori di wilayah rawan limpasan air seperti Simalungun dan Samosir. Inalum juga membangun 500 unit sumur resapan di Kabupaten Toba, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Utara untuk meningkatkan cadangan air tanah dan mengurangi risiko banjir.

Untuk keberlanjutan penghijauan, Inalum membangun tiga unit Kebun Bibit Rakyat (KBR) berkapasitas 50 ribu bibit per tahun, serta Pembibitan Modern Paritohan berkapasitas hingga 500.000 bibit per tahun. Ini menadi penopang utama rehabilitasi lahan secara berkelanjutan.

Hingga akhir 2025, Inalum bersama mitra sudah melakukan penanaman pohon di lahan seluas 1.050 hektare dengan total 420 ribu pohon yang ditanam di berbagai kabupaten sekitar Danau Toba. Tanaman itu memiliki fungsi ekologis untuk pengendalian erosi, peningkatan daya resap air, hingga penguatan tutupan hijau. Ini juga jadi bagian dari mitigasi bencana hidrometeorologi di Sumatra Utara.

Untuk pemberdayaan masyarakat, PT Inalum aktif melakukan pengembangan UMKM, pendidikan, hinggaa kesehatan. Berbagai program Inalum mendukung PROPER Emas diterjemahkan dalam Hikayat si Kuta. Ini menjadi upaya mengatasi masalah sampah, rendahnya Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), kemiskinan dan pendidikan.

Beberapa inisiatif yang dilakukan mulai dari pengolahan sampah organik di Desa Kuala Tanjung, Batubara, menggunakan magot yang diinisiasi kelompok tani Sari Larva Berdaya yang kemudian berkembang menjadi Bank Sampah Berseri. Ada juga Kuta View yang diinisiasi bersama kelompok sadar wisata yang menjadi eduagrowisata di Desa Kuala Tanjung dengan memanfaatkan sawah. Gubuk Jamur Dani menjadi upaya budidaya jamur tiram dengan memanfaatkan potensi warga lokal.

Berbagai program untuk PROPER Hijau di sekitar PLTA Sigura-gura memaksimalkan potensi Air Terjun Ponot, Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan. Di sekitar air terjun yang diklaim tertinggi di Indonesia itu, Inalum menggeber beragam program dari wisata hingga konservasi dan pengembangan UMKM.

Air Terjun Ponot dikemas dengan sistem ecotourism, dan memanfaatkan potensi masyarakat lokal mulai dari Ponot Water Rescue Team, Ponot Indigenous Engineer, Ponot Store, Kreasi Bunda Ponot hingga umah Makan Nasional Silalahi. Inalum juga mengembangkan mode Pertanian Nusantara, Bank Sampah Tangga Jaya, Sanggar Tari Desa Tangga, hingga Zero Waste to School.

Di area air terjun ini juga Inalum membangun Pembangkit Listrik Tenaga Pico Hydro (PLTPH) yang menjadi program energi terbarukan Inalum. Konservasi flora juga dilakukan di sini.

Upaya penerapan ESG merupakan nilai jangka panjang

Ketua Kelompok Sadar Wisata Naharuddin menjelaskan soal padi kepada anak-anak di Kuta View, Batubara (IDN Times/Doni Hermawan)
Ketua Kelompok Sadar Wisata Naharuddin menjelaskan soal padi kepada anak-anak di Kuta View, Batubara (IDN Times/Doni Hermawan)

Sementara untuk tata kelola, Inalum juga terus memperkuat transparansi dan akuntabilitas melalui pelaporan keberlanjutan serta penerapan good corporate governance.

“Komitmen ESG bagi PT Indonesia Asahan Aluminium bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, tetapi merupakan fondasi dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan. Kami percaya bahwa kinerja operasional harus berjalan selaras dengan tanggung jawab terhadap lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta tata kelola yang transparan. Melalui inovasi dan kolaborasi, kami terus berupaya menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,”kata Daniel Hutahuruk Ka-Grup Layanan Strategis PT Inalum dalam keterangan tertulisnya.

Ini sesuai dengan tiga prinsip Batak Dalihan Na Tolu (Tungku Berkaki Tiga) yang diterapka Inalum. Hula-hula untuk penjaga nilai dan ruang hidup, Donga Tubu untuk harmoni dan kohesi sosial serta Boru untuk penyangga kehidupan. Tungku berkaki tiga ini harus disangga dengan kaki-kaki yang seimbang. Seperti halnya prinsip ESG, lingkungan, sosial dan tata kelola.

Kini tantangan besar menanti Inalum dalam program hilirisasi nasional melalui pengembangan terintegarasi bauksit-alumina-aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Seiring dengan mimpi besar meningkatkan produksi, tugas untuk menjaga lingkungan, sosial dan tata kelola menjadi tanggung jawab untuk masa depan industri berkelanjutan.

Share
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

5 Tips Memilih Kelas Parenting yang Tepat untuk Gaya Pengasuhanmu 

30 Apr 2026, 10:05 WIBNews