Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Penabalan Merga dalam tradisi adat Karo Mburo Ate Tedeh (Dok. Diskominfo Medan)
  • Wali Kota Medan Rico Waas menerima Merga Ginting Suka dan istrinya, Airin, Beru Sembiring Pelawi dalam adat Karo Mburo Ate Tedeh pada 7 November 2026.

  • Penabalan berakar dari perjuangan kakek Rico, Letnan Jacob Waas, sebagai ajudan Letjen Djamin Ginting melawan Belanda di Tanah Karo dan Sumatra Utara pada 1947.

  • Panitia menegaskan prosesi ini merupakan penghormatan adat tanpa muatan politik; Rico dan Airin memandangnya sebagai amanah untuk merawat budaya Karo serta tanggung jawab sosial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1947

Letnan Jacob Waas, kakek Rico Waas, menjadi ajudan Letjen Djamin Ginting saat berjuang melawan Belanda di Tanah Karo dan Sumatra Utara.

setahun lalu

Para sesepuh Karo mulai mempersiapkan prosesi Mburo Ate Tedeh untuk merawat budaya.

setahun terakhir

Airin mempelajari makna adat dan sejarah Karo sebelum penabalan.

Sabtu (7/11/2026) kemarin

Rico Waas ditabalkan menyandang Merga Ginting Suka dan Airin Rico Waas menyandang Beru Sembiring Pelawi dalam tradisi Mburo Ate Tedeh di Gedung TP PKK Kota Medan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menerima Merga Ginting Suka, sedangkan istrinya Airin menerima Beru Sembiring Pelawi dalam tradisi adat Karo Mburo Ate Tedeh.
  • Who?
    Rico Tri Putra Bayu Waas, Airin Rico Waas, para sesepuh Karo, Muhammad Edison Ginting, Prof. Runtung Sitepu, serta keluarga Letnan Jacob Waas dan Letjen Djamin Ginting terkait dalam penghormatan adat ini.
  • Where?
    Penabalan adat berlangsung di Gedung TP PKK Kota Medan, Sumatra Utara.
  • When?
    Prosesi Mburo Ate Tedeh dilaksanakan pada Sabtu, 7 November 2026. Persiapannya dilakukan para sesepuh Karo selama sekitar satu tahun.
  • Why?
    Penabalan diberikan sebagai penghormatan adat Karo kepada keluarga Waas atas hubungan perjuangan Letnan Jacob Waas sebagai ajudan Letjen Djamin Ginting melawan Belanda pada 1947.
  • How?
    Para sesepuh Karo melaksanakan tradisi Mburo Ate Tedeh untuk menabalkan merga dan beru. Rico menerima Merga Ginting Suka, sementara Airin menerima Beru Sembiring Pelawi setelah mempelajari adat dan sejarah Karo.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Wali Kota Medan Rico Waas mendapat nama adat Ginting Suka. Istrinya, Airin, mendapat nama Beru Sembiring Pelawi. Ini dilakukan dalam acara adat Karo. Kakek Rico dulu membantu Letjen Djamin Ginting melawan Belanda. Rico dan Airin akan menjaga budaya Karo. Airin sudah belajar adat Karo selama setahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penabalan Merga Ginting Suka dan Beru Sembiring Pelawi bagi keluarga Waas menunjukkan penghormatan adat yang berakar pada sejarah perjuangan sekaligus dirawat dengan persiapan para sesepuh. Kesediaan Rico dan Airin memaknai gelar sebagai amanah, didukung pembelajaran adat selama setahun, mencerminkan perhatian pada budaya Karo dan ikatan sosialnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas kini menyandang Merga Ginting Suka, sementara istrinya Airin Rico Waas menyandang Beru Sembiring Pelawi. Penabalan dilakukan dalam tradisi adat Karo Mburo Ate Tedeh di Gedung TP PKK Kota Medan, Sabtu (7/11/2026) kemarin.

Di balik pemberian merga tersebut, ada ikatan sejarah yang panjang. Simak berikut ini:

1. Kakek Rico Letnan Jacob Waas merupakan ajudan Pahlawan Nasional Letjen Djamin Ginting saat berjuang melawan Belanda di Tanah Karo

Penabalan Merga dalam tradisi adat Karo Mburo Ate Tedeh (Dok. Diskominfo Medan)

Dimulai dari Kakek Rico, Letnan Jacob Waas, merupakan ajudan Pahlawan Nasional Letjen Djamin Ginting saat berjuang melawan Belanda di Tanah Karo dan Sumatra Utara pada 1947. Hubungan seperjuangan itulah yang menjadi dasar penghormatan adat Karo kepada keluarga Waas.

Ketua Panitia Mburo Ate Tedeh, Muhammad Edison Ginting, menyebut prosesi ini telah dipersiapkan sejak setahun lalu oleh para sesepuh Karo sebagai upaya merawat budaya, bukan seremoni simbolik.

2. Penabalan ini murni penghormatan adat, tidak bermuatan politik

Penabalan Merga dalam tradisi adat Karo Mburo Ate Tedeh (Dok. Diskominfo Medan)

Pemrakarsa acara, Prof. Runtung Sitepu, menegaskan penabalan ini murni penghormatan adat, tidak bermuatan politik.

Rico Waas sendiri menilai merga yang diterimanya bukan sekadar gelar.

"Ini bukan sekadar gelar, tapi amanah. Ada tanggung jawab besar bagaimana kesukuan dan kebangsaan harus dirawat sebaik mungkin," kata Rico.

3. Airin telah setahun terakhir mempelajari makna adat dan sejarah Karo sebelum penabalan

Penabalan Merga dalam tradisi adat Karo Mburo Ate Tedeh (Dok. Diskominfo Medan)

Dia mengatakan akan menjaga amanah tersebut dengan terus merawat kebudayaan Karo sebagai bagian dari keberagaman Medan. Ia juga menyebut istrinya, Airin, telah setahun terakhir mempelajari makna adat dan sejarah Karo sebelum penabalan.

Dalam adat Karo, merga dan beru bukan hanya identitas, melainkan penanda sistem kekerabatan yang mengikat tanggung jawab sosial.

Curated For You

Editorial Team

Related Article