5 Fakta Unik Patung Jamin Ginting, Ikon Medan di Jalan Terpanjang

- Ide patung berasal dari keluarga, bukan pemerintah
- Patung sempat disimpan di Bandung selama enam tahun
- Pembangunan patung menggunakan dana pribadi keluarga
Hampir semua warga Medan tahu Jalan Jamin Ginting. Jalan ini jadi jalur utama ke arah Berastagi dan Kabanjahe, sekaligus salah satu urat nadi lalu lintas kota. Tapi sejak beberapa tahun terakhir, ada satu hal yang langsung mencuri perhatian di titik awalnya, sebuah patung gagah Letnan Jenderal Djamin Ginting yang berdiri di persimpangan kawasan Medan Baru.
Patung ini berdiri tepat di tengah kesibukan kota. Lampu merah, pengamen, suara klakson, motor yang saling salip, angkot berhenti mendadak, semua hal itu pun berlalu di sekitarnya. Banyak orang melewati tanpa benar-benar tahu bahwa monumen itu menyimpan cerita panjang, bahkan sempat “terkatung-katung” bertahun-tahun sebelum akhirnya punya dudukan tetap.
Di balik patung itu ada kisah keluarga, birokrasi yang berliku, dan keputusan simbolik yang tidak dibuat secara asal. Dengan semua dinamika yang menyertai patung pahlawan ini, IDN Times akan berikan kamu lima fakta unik tentang patung Letnan Jenderal Djamin Ginting yang jarang diketahui. Yuk simak!
1. Gagasan Patung Lahir dari Kunjungan Keluarga

Ide pembangunan patung ini tidak muncul dari pemerintah, melainkan dari keluarga. Putri almarhum, Riahna Ginting terinspirasi setelah melihat Patung Jenderal Sudirman di kawasan protokol Jakarta. Ia merasa sosok ayahnya, yang jasanya diakui negara, layak mendapat penghormatan serupa di Medan.
Gagasan itu kemudian dibicarakan dalam keluarga, termasuk dengan sang ibu, Ny. Likas Tarigan, sebelum wafat. Harapannya sederhana, agar generasi muda tidak hanya mengenal nama Jamin Ginting sebagai nama jalan, tetapi juga tahu rupa dan kisah orang di balik nama itu.
2. Patung Ini Pernah “Mengendap” di Bandung Selama Enam Tahun

Patung Djamin Ginting sebenarnya sudah rampung sekitar 2015–2016. Namun, persoalan muncul saat menentukan lokasi penempatannya dan izin lahan di Medan yang tidak kunjung didapat.
Akibatnya, patung tersebut disimpan di sebuah gudang di Bandung selama kurang lebih enam tahun. Sempat ada rencana menempatkannya di Bandara Kualanamu, tetapi kembali terbentur izin. Baru pada 2021, setelah mendapat persetujuan Wali Kota Medan saat itu, patung akhirnya bisa ditempatkan di titik nol Jalan Jamin Ginting.
3. Dibangun dari Dana Pribadi Keluarga

Pembangunan patung ini tidak menggunakan dana APBD atau APBN. Seluruh biaya ditanggung oleh keluarga besar Djamin Ginting. Nilainya tidak kecil diperkirakan mencapai sekitar Rp2 miliar.
Meski demikian, setelah diresmikan pada Juni 2022, patung ini dihibahkan kepada Pemerintah Kota Medan. Artinya, monumen tersebut kini menjadi aset publik dan bagian dari ruang sejarah kota, bukan milik pribadi keluarga.
4. Berdiri di Titik Nol Jalan Pahlawan Terpanjang

Patung ini berdiri tepat di Kilometer Nol Jalan Letnan Jenderal Jamin Ginting. Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan. Jalan tersebut menjadi penghubung Medan dengan Tanah Karo, wilayah asal sang jenderal.
Menariknya, Jalan Jamin Ginting juga tercatat oleh MURI sebagai jalan nasional terpanjang di Indonesia yang menggunakan nama pahlawan, dengan panjang sekitar 80 kilometer hingga Kabanjahe. Patung ini berdiri persis di awal jalan yang menyandang rekor tersebut.
5. Dipahat Seniman Bali Lulusan ITB

Patung Djamin Ginting dikerjakan oleh I Ketut Winata, pematung asal Bali yang menempuh pendidikan seni di Institut Teknologi Bandung. Proses pembuatannya memakan waktu sekitar tujuh bulan dan dilakukan di Bandung.
Sosok Djamin Ginting digambarkan mengenakan pakaian dinas upacara lengkap, sesuai penampilannya dalam acara-acara kenegaraan semasa hidup. Detail seragam dan atributnya dibuat teliti agar masyarakat bisa melihat sosoknya secara lebih nyata, bukan sekadar nama dalam buku sejarah.
Patung Letnan Jenderal Djamin Ginting di Medan bukan monumen yang lahir secara instan. Ia melalui proses panjang, dari ide keluarga, persoalan izin, hingga akhirnya berdiri di ruang publik kota.
Di tengah lalu lintas yang padat dan ritme kota yang cepat, patung ini menjadi penanda sejarah yang diam tapi konsisten. Ia mengingatkan bahwa nama besar di papan jalan pernah menjadi manusia nyata, dengan perjalanan panjang yang ikut membentuk Sumatera Utara dan Indonesia.


















