Salah satu kandang ayam di peternakan wilayah Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Gunawan menemukan benang merah penyebab anjloknya harga. Menurutnya, kondisi ini dipicu oleh pasokan Day Old Chicken (DOC) untuk Grand Parent Stock (GPS) yang masuk pada Juni 2025 lalu.
Dari GPS tersebut akan menghasilkan Parent Stock (PS), yang kemudian menghasilkan ayam siap potong atau final stock (FS). Periode waktu dari DOC GPS ke FS membutuhkan waktu setidaknya 1,5 tahun.
"Sehingga memang saat ini adalah masa panen awal FS dari GPS yang awalnya disediakan pada 2025 silam. Penurunan harga saat ini lebih dipengaruhi oleh pasokan yang melimpah, atau bisa dikatakan over supply," jelasnya.
Jika kondisi over supply ini bertahan dan peternak terus merugi, Gunawan memprediksi akan ada pemangkasan jumlah DOC pada final stock di awal. Jika biaya operasional terus naik, tekanan selanjutnya adalah pengurangan jumlah GPS.
"Yang pada akhirnya nanti peternak dan pemerintah akan berembuk untuk menghitung harga keekonomian ayam potong. Yang turut serta dibarengi dengan langkah atau upaya untuk memperbaiki rantai pasok, khususnya terkait dengan pasokan ayam potong di lapangan," pungkas Gunawan.