'Doomscrolling' Krisis Iklim, Gen Z Menolak Surut Suarakan Keadilan Iklim

Gen Z di Medan merespons krisis iklim dengan putus asa, jenuh, geram, atau dorongan untuk terus bersuara.
Mereka menilai tanggung jawab lingkungan tidak seharusnya dibebankan kepada individu ketika sistem dan institusi belum konsisten.
Meski menghadapi kelelahan mental, ketiga Gen Z memilih jeda untuk kembali menyuarakan keadilan lingkungan.
Medan, IDN Times – Layar gawai tak pernah sepi. Saban hari, kabar krisis iklim merangsek masuk. Mulai dari luapan banjir, hamparan hutan yang terbakar, hingga hiruk-pikuk konferensi lingkungan global.
Paparan masif ini nyatanya tak melahirkan reaksi tunggal di kalangan Generasi Z (Gen Z). Ada yang putus asa. Ada yang jenuh dan memilih jeda. Tak sedikit pula yang justru makin lantang bersuara.
Di tingkat global, para pemimpin dunia tengah berdebat di Konferensi Para Pihak Keanekaragaman Hayati (COP17) di Yerevan, Armenia, 19–30 Oktober 2026. Targetnya, melindungi 30 persen daratan dan laut pada 2030.
1. Baca berita iklim, lalu merasa apa?

ilustrasi seseorang bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio) Adalah Mahdiyyah Ardhina yang sudah akrab dengan isu ini. Sepekan terakhir, perempuan yang karib disapa Iyah itu terus memantau rentetan berita krisis iklim.
Namun, alih-alih terpacu, ia justru dirundung kegetiran. "Perasaan yang muncul justru hopeless (putus asa)," ungkap Iyah, Senin (26/10/2026).
Saat ini, batas kemampuannya sebatas melindungi diri sendiri. Sebab, kata dia, ancaman iklim lahir dari pihak-pihak penguasa yang memiliki kendali besar.
Lain halnya dengan Zidan Syahira. Laki-laki 23 tahun ini mengaku geram. Acapkali, masalah serupa datang silih berganti tanpa upaya nyata di lapangan.
“Masalah krisis iklim datang secara bergantian dengan pola yang sama, tanpa ada pencegahan atau upaya mitigasi yang serius,” tukasnya.
Respons berbeda datang dari Ahsan Rangkuti. Mahasiswa Fakultas Kehutanan USU ini justru makin terdorong. Teranyar, kampanye perlindungan ekosistem di Sumatra hingga Sulawesi memantik keberaniannya.
"Setelah membaca konten tersebut, saya tergerak untuk menyuarakan isu-isu lingkungan. Mengajak agar tidak apatis terhadap apa yang sedang terjadi," jelas Ahsan.
2. Beban menyelamatkan bumi ada di pundak siapa?

Ilustrasi bencana alam di Indonesia (Unsplash.com/ Iqro Rinaldi) Di jagat maya, anak muda kerap dihadapkan pada pertentangan ironis. Kampanye bawa botol minum (tumbler) terus digaungkan. Di saat bersamaan, korporasi perusak lingkungan malah melenggang bebas berlindung di balik slogan go green.
"Itu jelas-jelas tidak adil, bahkan terlihat seperti menipu," cecar Zidan.
Bagi Ahsan, hukum masih tumpul. Aturan yang bisa menjerat pelaku kejahatan lingkungan kelas kakap ibarat jauh panggang dari api.
Iyah menimpali dengan sudut pandang berbeda. Ia menjalani gaya hidup ramah lingkungan sebagai prinsip dan tanggung jawab pribadi atas sampah yang ia hasilkan. Bukan semata untuk menyelamatkan bumi.
Bagi Gen Z perkotaan, krisis iklim tak lagi sejauh es di kutub. Iyah mengaku, rumahnya kini tak mempan lagi didinginkan tanpa kipas angin. Tanaman di pekarangannya pun mati membusuk saat hujan, dan mengering kerontang saat kemarau.
Zidan menyebut, sengatan matahari di Medan kian membakar kulit. Banjir pun kerap dianggap sebagai tontonan lumrah. Padahal, itu sebuah kekeliruan fatal.
“Ini semestinya sudah bisa menjadi titik sambung bagi para anak muda. Menyadari bahwa ada yang salah dari cara kita dan sistem negara dalam merawat lingkungan,” kata Zidan.
3. Bersuara dari tongkrongan atau turun ke jalan

Ilustrasi unjuk rasa. (IDN Times/Prayugo Utomo) Bentuk perlawanan mereka tak seragam. Namun, semangatnya sama. Mereka ingin terus menyuarakan soal krisis iklim yang kian nyata.
Iyah memilih arena tongkrongan dan media sosial sebagai medan tempur. Baginya, obrolan santai bisa menjalar dari satu meja ke meja lainnya. "Daripada gosipin artis, lebih baik gosipin pemerintah," ujarnya.
Zidan mengamini. Bersuara lewat media sosial adalah langkah paling sederhana. Ia juga aktif membangun kelompok diskusi kecil untuk menyadarkan orang terdekat.
Sedangkan Ahsan masih meyakini kekuatan mimbar bebas jalanan. Ia mantap turun ke jalan agar suara anak muda didengar oleh penguasa, diiringi gelombang penyebaran informasi masif di dunia maya.
4. Kata sosiolog: Hentikan standar ganda struktural, beban tak cuma di pundak individu

Sosiolog Unimed Ricky Ardian Putra. (Dok: Pribadi) Fenomena ini tak luput dari kacamata akademisi. Sosiolog Universitas Negeri Medan (Unimed) Muhammad Ricky Ardiansyah Putra membedah pola ini melalui Teori Strukturasi Anthony Giddens. Baginya, krisis lingkungan bukan semata soal ekosistem yang hancur, tapi sangat lekat dengan struktur sosial masyarakat.
Ricky menyoroti lahirnya standar ganda struktural. Ada kontradiksi tajam antara tuntutan hidup ekologis dengan realita sistem ekonomi dan budaya keseharian yang mengepung Gen Z.
"Standar ganda struktural muncul ketika masyarakat menyampaikan tuntutan ekologis, tetapi institusi tidak konsisten mendukung tuntutan tersebut," terang Ricky, Selasa (27/10/2026).
Ia memberi contoh konkret. Anak muda diminta mengurangi kendaraan pribadi, tapi hidup di wilayah dengan transportasi umum yang terbatas. Mereka disuruh mengurangi plastik, tapi produk sekali pakai dibiarkan membanjiri pasar.
Jika dibiarkan, generasi muda akan menggugat. Mereka akan mempertanyakan mengapa tanggung jawab menjaga lingkungan dibebankan kepada individu, sementara keputusan tata ruang dan eksploitasi dikendalikan aktor penguasa.
Di sisi lain, Ricky menyebut ekosistem digital juga diatur oleh viralitas dan algoritma. Perhatian publik pada krisis lingkungan bisa tiba-tiba memuncak, namun gampang pula tersisih oleh arus tren informasi yang baru.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan generasi muda yang sadar akan krisis lingkungan. Melainkan membangun struktur sosial yang memungkinkan kesadaran itu diwujudkan dalam tindakan kolektif dan perubahan institusional," katanya.
5. Riset global: Cemas menguat saat pemerintah dinilai lamban

Ilustrasi dampak krisis iklim dan kerusakan lingkungan. (IDN Times/Generated by AI) Kegelisahan Gen Z di Medan sejalan dengan potret global. Jurnal The Lancet Planetary Health (2021) pernah membedah isi kepala 10 ribu pemuda di 10 negara.
Hasilnya bikin merinding. Sebanyak 75 persen dari mereka memandang masa depan dengan ketakutan. Sementara 64 persen lainnya menuding pemerintah gagal total mencegah bencana lingkungan.
Kecemasan iklim ini lahir dari persepsi bahwa negara lamban merespons. Pakar iklim dari University of Pennsylvania, Michael Mann, menyebut anak muda kini disandera fenomena doomscrolling—kebiasaan beracun terus-menerus menggulir layar gawai untuk mencari kabar buruk. Mereka tak henti-hentinya menelan berita suram soal iklim hingga memicu kecemasan akut
6. Memilih jeda, bukan berhenti

Ilustrasi Cuaca Ekstrem. (gambar: akal imitasi) Lantas, sampai kapan mereka sanggup bertahan? Ketiga Gen Z ini kompak menolak mengibarkan bendera putih atau menyerah
Iyah mengaku tak pernah terpikir untuk angkat tangan. Ia merasa berdosa jika sekadar diam menikmati hidup, sementara hak jutaan orang di luar sana dirampas oleh kebijakan yang timpang.
Bagi Zidan, kelelahan mental atau burnout adalah hal manusiawi. Saat kepala mulai buntu, ia memilih menepi sejenak. Membaca, menulis, menyegarkan pikiran, lalu kembali melawan.
Semangat serupa dikobarkan Ahsan. Mundur, bagi dia, bukanlah pilihan. "Saya masih memikirkan keadilan lingkungan seratus persen di kepala saya, dan tidak akan mundur memperjuangkan hak-hak lingkungan," pungkas Ahsan.

















