Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Himantura arlyzae, Pari Cambuk Terancam Jadi Tas Mewah

Kota Medan
5 min read
Mengenal Himantura arlyzae, Pari Cambuk Terancam Jadi Tas Mewah
Pari cambuk dari spesies Himantura arlyzae(Sumber: https://doi.org/10.1051/alr/2026011)
  • BRIN dan IRD memperkenalkan Himantura arlyzae, spesies baru pari cambuk asli kepulauan Indo-Melayu.

  • Identitas spesies terungkap melalui pemindaian DNA terhadap 249 sampel, setelah ciri fisik dinilai tidak akurat.

  • Pari cambuk menghadapi tekanan penangkapan dan perdagangan kulit, sementara spesies baru belum masuk daftar perlindungan IUCN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

IDN Times – Pernah tidak kamu melihat dua orang yang wajahnya mirip banget sampai dikira anak kembar, padahal bukan saudara sama sekali? Di bawah laut Nusantara, fenomena "kembar tapi tak sama" ini ternyata dialami oleh keluarga ikan pari cambuk (whipray).

Saking miripnya corak totol di punggung mereka, para ilmuwan dunia sampai terkecoh selama puluhan tahun. Semua pari cambuk bercorak macan tutul itu sempat dianggap berasal dari jenis yang sama.

Misteri salah kenalan ini baru terpecahkan lewat riset kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama lembaga riset Prancis, Institut de recherche pour le développement (IRD). Dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Aquatic Living Resources (Volume 39, Nomor 28, Tahun 2026), tim peneliti yang digawangi Philippe Borsa, Udhi E. Hernawan, Régis Hocdé, dan Laurent Pouyaud resmi memperkenalkan satu spesies baru pari cambuk asli kepulauan Indo-Melayu: Himantura arlyzae.

  1. 1. Saat mata manusia tertipu, tes DNA jadi penentu

    PARI CAMBUK_2.jpg
    Pari cambuk dari spesies Himantura arlyzae(Sumber: https://doi.org/10.1051/alr/2026011)

    Selama 250 tahun terakhir, peneliti mengandalkan pengamatan morfologi untuk menamai spesies baru. Sederhananya begini, ilmuwan meneliti bentuk fisik luarnya saja, mulai dari moncong, duri punggung, sampai corak totol di kulitnya.

    Masalahnya, cara konvensional ini tida berhasil saat dipakai meneliti pari cambuk dari marga Himantura. Dari 16 ciri fisik yang diuji peneliti, tidak ada satu pun yang akurat karena motif totol di punggung pari ini bisa berubah seiring mereka tumbuh dewasa.

    Dalam dunia biologi, hewan seperti ini disebut cryptic species alias spesies kriptik. Dari luar wujudnya tampak kembar identik, tapi di dalam tubuhnya, susunan genetik mereka berbeda jauh dan tidak bisa kawin silang.

    Supaya tidak lagi tertipu penampilan luar, Udhi E. Hernawan dari Pusat Riset Oseanografi BRIN bersama tiga peneliti IRD Prancis memindai 249 sampel DNA pari cambuk menggunakan teknik DNA barcoding. Cara kerjanya mirip dengan kasir minimarket yang memindai kode batang (barcode) barang belanjaan.

    Bedanya, yang dipindai adalah urutan basa genetik pada gen CO1 untuk membaca identitas asli tiap ekor pari. Dari pemindaian kode genetik itulah terungkap bahwa pari cambuk ini sebenarnya terbagi menjadi delapan spesies berbeda, termasuk si spesies baru Himantura arlyzae yang sudah berpisah garis keturunan dari kerabatnya di Australia (Himantura australis) sejak lebih dari 4 juta tahun lalu.

  2. 2. Berukuran selebar kasur kamar dan mengabadikan nama ilmuwan perempuan Indonesia

    PARI CAMBUK_1.jpg
    Pari cambuk dari spesies Himantura arlyzae(Sumber: https://doi.org/10.1051/alr/2026011)

    Jangan bayangkan pari cambuk ini berukuran mungil seperti ikan hias di akuarium. Saat dewasa, kelompok pari dari marga Himantura punya lebar bentang tubuh mencapai 1,1 hingga 1,6 meter dengan ekor menjuntai panjang mirip cambuk.

    Kalau dibentangkan di lantai, lebar tubuhnya kira-kira seukuran kasur queen size di kamar tidurmu atau sebesar meja makan keluarga. Spesimen acuan (holotype) Himantura arlyzae yang masih berusia remaja saja punya lebar cakram tubuh 38,2 sentimeter dengan panjang total dari moncong ke ujung ekor mencapai 142 sentimeter.

    Pari remaja bersejarah itu dulunya dikumpulkan langsung oleh almarhum Irma S. Arlyza (1974–2019) dari tangkapan nelayan lokal di perairan dangkal Pulau Selayar, Laut Flores, pada November 2009. Sebelum berpulang, Irma adalah srikandi peneliti genetika hiu dan pari (Elasmobranchii) di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI—lembaga yang kini melebur menjadi BRIN.

    Riset disertasi Irma pada 2013 silam menjadi fondasi utama yang membuka jalan bagi penemuan ini. Sebagai bentuk penghormatan abadi atas dedikasinya memetakan genetika ikan pari di laut Indonesia, tim peneliti menyematkan namanya menjadi nama ilmiah spesies baru tersebut: Himantura arlyzae, atau pari cambuk bertutul Indo-Melayu.

  3. <p><strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kenapa nasib pari cambuk di dasar laut nyambung ke isi piring dan dompet kulit?</strong></p>

    PARI CAMBUK_2.jpg
    Pari cambuk dari spesies Himantura arlyzae(Sumber: https://doi.org/10.1051/alr/2026011)

    Mungkin kamu bertanya-tanya, apa hubungannya penemuan spesies pari di dasar laut dengan kehidupan kita di darat? Jawabannya, nyambung banget ke rantai makanan dan tren gaya hidup.

    Di ekosistem laut dangkal, pari cambuk adalah predator menengah sekaligus "tukang kebun" dasar laut. Saat berenang mengaduk pasir untuk mencari pakan, kepakan tubuh mereka melepaskan nutrisi yang terpendam di lumpur dan menjaga sirkulasi oksigen di dasar laut tetap sehat.

    Kalau pari cambuk habis ditangkap, keseimbangan ekosistem pesisir bakal rusak. Dampaknya tidak berhenti di situ, populasi ikan karang dan hasil laut yang biasa ditangkap nelayan ikut anjlok, sehingga stok ikan konsumsi menyusut dan harga seafood di pasar bisa makin mahal.

    Ironisnya, ancaman terbesar pari cambuk justru datang dari selera fesyen manusia. Selain dagingnya dikonsumsi, kulit pari cambuk yang punya tekstur bintik mutiara eksotis sangat diburu oleh industri barang mewah (luxury goods).

    Kulit mereka dikuliti untuk disulap menjadi dompet, ikat pinggang, hingga tas mahal. Akibat perburuan masif menggunakan pukat harimau, jaring insang, hingga tombak, populasi pari cambuk di perairan Indo-Pasifik Barat terjun bebas dalam beberapa dekade terakhir.

    Dalam laporan riset di jurnal Aquatic Living Resources dan rilis resmi BRIN, terkuaknya identitas Himantura arlyzae sekaligus membongkar kekeliruan fatal dalam peta konservasi dunia. Selama ini, Daftar Merah Badan Konservasi Dunia (IUCN Red List) hanya mencatat empat spesies dalam kelompok pari cambuk ini, yang tiga di antaranya (H. leoparda, H. uarnak, dan H. undulata) sudah berstatus Terancam Punah (Endangered).

    Bayangkan kalau kamu mengira ada 1.000 ekor ikan dari satu spesies yang sama di laut, sehingga terlihat masih banyak. Padahal setelah dites DNA, 1.000 ekor itu ternyata terdiri dari delapan spesies berbeda yang wilayah hidupnya terpisah-pisah. Artinya, jumlah asli per spesies jauh lebih sedikit dan jauh lebih kritis dari yang diperkirakan pemerintah maupun lembaga internasional.

    Peta genetik terbaru ini membuktikan bahwa Himantura arlyzae hanya hidup di perairan kepulauan Indo-Melayu. Wilayahnya membentang dari Laut Flores, Laut Bali, Selat Makassar, Laut Banda, Laut Sulu, Laut Filipina, hingga Laut Cina Selatan.

    Bahkan dengan tetangga sebelahnya di selatan, Himantura australis, mereka punya pola hidup parapatrik. Sederhananya, rumah kedua spesies ini bersebelahan persis di peta, tapi dipisahkan oleh jurang bawah laut sedalam 3.000 meter di Laut Timor yang membuat mereka tidak pernah saling menyeberang.

    Karena ruang hidupnya sempit dan terkotak-kotak di perairan Nusantara yang padat aktivitas penangkapan ikan, risiko kepunahan Himantura arlyzae menjadi berlipat ganda. Apalagi, spesies baru ini beserta kerabatnya, Himantura tutul, sama sekali belum masuk dalam daftar perlindungan IUCN karena dulu dianggap sebagai spesies yang sama dengan pari dari Laut Merah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More