Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gusnita Bahagia Produk Rumahan Rempah Koe Berpeluang Terbang ke Belanda

Gusnita Bahagia Produk Rumahan Rempah Koe Berpeluang Terbang ke Belanda
Gusnita saat menghadiri acara “Unlocking Opportunities for UMKM Minang with BNI Xpora around Netherlands”, Sabtu (20/6/2026). (Dok. Pribadi)
Intinya Sih
  • Gusnita, pendiri UMKM Rempah Koe asal Bukittinggi, berpeluang mengekspor produknya ke Belanda setelah mengikuti program Business Matching BNI Xpora yang mempertemukan pelaku usaha dengan buyer luar negeri.
  • BNI melalui program Xpora mendukung 46 UMKM potensial, termasuk Rempah Koe, agar mampu naik kelas dan memperluas pasar internasional dalam rangka peringatan 100 Tahun Jam Gadang.
  • Inisiatif BNI mendapat apresiasi dari pemerintah daerah karena dinilai memperkuat daya saing produk lokal lewat kolaborasi perbankan, pelatihan digitalisasi, serta fasilitas pembayaran non tunai bagi pelaku UMKM.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bukittinggi, IDN Times

“Dulu Belanda jauh-jauh datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah. Sekarang saya dibukakan jalan oleh BNI untuk menjual Rempah Koe langsung ke Belanda.”

Kalimat itu terucap dari mulut Gusnita, Pendiri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Rempah Koe usai mengikuti Business Matching dengan buyer luar negeri yang digelar Kantor Cabang BNI Bukittinggi dengan tajuk “Unlocking Opportunities for UMKM Minang with BNI Xpora around Netherlands”, Sabtu (20/6/2026).

Gusnita adalah satu dari 20 pelaku UMKM yang diundang menghadiri langsung kegiatan ini di di Kantor Cabang BNI Bukittinggi, Jalan Perintis Kemerdekaan, Aur Tajungkang Tengah Sawah, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia mengaku senang bukan kepalang bisa mendapat kesempatan dari BNI untuk hadir pada acara ini.

“BNI bersedia jadi perantara ekspor mendukung UMKM untuk naik kelas atau naik level, tidak hanya jalan di tempat tapi bisa juga membantu perekonomian rakyat. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Jika ada peluang besar untuk ekspor kenapa tidak, produk Rempah Koe sangat berpeluang untuk itu,” ungkap perempuan yang akrab disapa Ita ini.

Selama ini ia mengaku mengembangkan produk Rempah Koe dari rumah.Bermula dari pengetahuannya membuat temu lawak, jahe, kunyit asam dan rempah lainnya menjadi minuman berkhasiat. Semuanya masih ia kerjakan sendiri.

Ita memilih olahan rempah karena bahan bakunya murah, banyak di Bukittinggi, serta bermanfaat untuk kesehatan. Sehingga permintaannya tidak akan pernah habis. Kemudian Ita juga belajar mengekstraknya agar bisa tahan lama dan dikemas dengan baik.

Berbagai pelatihan ia ikuti untuk membuat usahanya naik kelas. Seperti pelatihan dari Dekranasda, Dinas Koperasi dan UMKM, dan lain sebagainya. Termasuk pelatihan soal manajeman keuangan UMKM dan berjualan di platform digital yang digelar BNI dan Bank Indonesia.

Pelan-pelan Ita menyempurnakan produknya. Misalnya dari nama yang dulu Zalita Rempah menjadi Rempah Koe. Kemasan yang dulunya dari toples plastik transparan diubah menjadi kemasan alumunium agar lebih elegan dan mudah dikemas untuk pengiriman ekspedisi.

Hasilnya mulai ia rasakan. Setahun terakhir ia berjualan lewat e-commerce sudah berhasil menjual Rempah Koe hingga ke Pulau Jawa. Bahkan sekarang sudah memiliki reseller di Pulau Mentawai, Sumbar hingga Gunung Sitoli, Kepulauan Nias, Sumut.

Investor Jepang.jpg
Gusnita saat kedatangan investor dari Jepang (Dok. Pribadi)

Puncaknya, pada 19 Mei 2026 rumah tempat ia menjajakan produk Rempah Koe kedatangan calon investor dari Jepang.

“Mereka sangat antusias melihat kualitas produk kami yang banyak macamnya. Saya menjelaskan masing-masing manfaatnya dan produk kami ini tidak pakai pengawet dan bahan kimia, karena murni Alami, simple dan praktis, tahan lama, dan ramah lingkungan. Bangga bisa membawa inovasi lokal ke mata dunia,” katanya.

Seperti gayung bersambut. Pintu menuju pasar internasional seakan semakin terbuka setelah Ita mendapat undangan menghadiri program BNI Xpora untuk Business Matching dengan buyer luar negeri dari Kantor Cabang BNI Bukittinggi. Dimana salah satu pembicaranya yang hadir secara daring adalah Chief Representative Kantor Perwakilan BNI Amsterdam.

Ita dan puluhan UMKM lain mendapat pemahaman baru tentang cara mempromosikan dan mengekspor produk UMKM ke luar negeri.

“Setelah gak masa penjajahan lagi, ternyata sampai sekarang mereka (Belanda) tetap berminat dengan hasil bumi Indonesia, tapi sekarang beda cerita nya, bukan mereka rampas tapi kita menjual kepada mereka dengan perhitungan yang sesuai, sangat bersyukur bisa hadir di acara ini,” ungkapnya.

Produk Rempah Koe.jpg
Produk Rempah Koe produksi rumahan ala Gusnita (Dok. Pribadi)

Regional CEO BNI Wilayah 02, Khairul Salam menjelaskan bahwa ini menjadi bagian dari dukungan BNI dalam rangka memperingati 100 Tahun Jam Gadang melalui tema “Unlocking Opportunities for UMKM Minang with BNI Xpora around Netherlands”. Sekaligus mendorong pengembangan UMKM Sumatera Barat agar mampu bersaing dan memperluas ekspansi ke pasar internasional, khususnya Belanda.

Langkah ini, menurutnya, bukti komitmen BNI mendukung UMKM Indonesia agar mampu naik kelas dan menjadi pemain global melalui berbagai program pemberdayaan, salah satunya BNI Xpora. Total ada 46 pelaku UMKM potensial yang diundang, 20 di antaranya hadir secara luring dan 26 lainnya hadir secara daring.

“Melalui BNI Xpora, kami ingin membuka akses yang lebih luas bagi UMKM untuk menembus pasar internasional. Kegiatan business matching ini menjadi jembatan yang mempertemukan pelaku usaha dengan buyer luar negeri sehingga tercipta peluang transaksi dan kerja sama yang berkelanjutan,” ujarnya.

Semangat peringatan 100 Tahun Jam Gadang, tambah Khairul, menjadi momentum penting bagi pelaku UMKM Minang untuk melebarkan sayap bisnis ke pasar dunia. Melalui program BNI Xpora ini ia berharap semakin banyak UMKM Sumatera Barat yang mampu memperluas jaringan bisnis, meningkatkan kapasitas ekspor, serta menjadikan produk-produk unggulan Minangkabau semakin dikenal di mancanegara.

“Bersama BNI Xpora, UMKM diajak membangun Ranah Minang sekaligus menciptakan masa depan bisnis yang lebih inovatif, berdaya saing, dan mendunia,” jelasnya.

Chief Representative BNI Amsterdam, Dwi Wibowo menjelaskan bahwa Belanda merupakan salah satu gerbang strategis bagi produk Indonesia untuk memasuki pasar Eropa. Oleh karena itu, pelaku UMKM perlu memanfaatkan peluang tersebut dengan meningkatkan kualitas produk dan memenuhi standar pasar internasional.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bukittinggi, Herriman, mengapresiasi inisiatif BNI dalam mendukung pengembangan UMKM daerah. Menurutnya, kolaborasi antara perbankan, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing produk lokal di pasar global.

Ini bukan kali pertama Kantor Cabang BNI Bukittinggi mendukung UMKM naik kelas bersama Pemko Bukittinggi. Pada 2017 BNI Bukittingi melakukan revitalisasi terhadap kios pedagang objek wisata Taman Panorama melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) BNI.

Pada 2023 BNI Bukittinggi menyalurkan CSR berupa sarapa prasarana untuk pusat kuliner baru di Bukittinggi bernama Stasiun Lambuang berupa 2000 kursi dan 600 meja.

Pada 2024 BNI menggelar edukasi pada 150 pelaku UMKM binaan Pemko Bukittinggi, Sumbar di Stasiun Lambuang Bukittinggi. Kegiatan ini bertujuan agar pelaku UMKM lebih memahami produk dan layanan perbankan, mengetahui manfaatnya, serta mengantisipasi risiko finansial yang mungkin muncul.

Pada tahun yang sama BNI juga menyediakan fasilitas pembayaran non tunai melalui QRIS dan EDC atau Elektronik Data Capture untuk seluruh pedagang di Stasiun Lambuang. Ini menjadi bukti konsistensi BNI mendorong agar UMKM lokal seperti Gusnita bisa naik kelas.

Share Article
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi

Latest News Sumatera Utara

See More