Cahaya merah berpijar terlihat di kawah puncak Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Kamis (3/9/2026) dinihari. Pijaran tersebut berasal dari material vulkanik bersuhu tinggi yang berada di sekitar kawah. (IDN Times/Prayugo Utomo)
Bukan kali pertama Kuta Tengah dikosongkan. Warga pun tidak mau mengambil risiko jika harus tetap tinggal di sana.
Sudah menjadi konsekuensi tinggal di Sinabung. Erupsi bisa sewaktu-waktu terjadi.
Dampaknya pun serius. Abu vulkanik berulang kali membuat pertanian rusak. Daun-daun tanaman menjadi gosong. Buah yang terkena abu tebal, tidak dapat dipanen karena rusak.
Meski mengungsi, warga masih diperbolehkan ke ladang yang ada di Kuta Tengah. Sore harinya mereka kembali ke pengungsian.
Pengalaman panjang menghadapi aktivitas Sinabung membuat pengungsian kali ini terasa berbeda. Warga sebelumnya sempat menjalani masa pengungsian bertahun-tahun setelah erupsi pada 2010 hingga 2017.
"Yang lari itu 2010-2012. Terus pulang sebentar ke kampung, balik lagi. Sampai 2013-2017 masih di posko. Kemudian pada 2019 sudah dipulangkan ke kampung. Setelah enam tahun, ini erupsi. Kami mengungsi lagi," ujar Ida beru Sitepu di posko pengungsian.