Lake Toba Music Festival 2026 Skema Ganjil-Genap untuk Ekonomi Kreatif

- Lake Toba Tradisional Music Festival 2026 menerapkan skema ganjil-genap: tahun ganjil mengembangkan dan menginkubasi talenta Sumatera Utara, sedangkan tahun genap berfokus pada pasar internasional.
- Festival keenam ini mengusung talk show, speed meeting, dan showcase untuk mempertemukan musisi dengan delegasi, membuka peluang transaksi serta undangan tampil di negara atau acara lain.
- Sebanyak 122 pemusik dan delegasi terlibat, termasuk sembilan delegasi Indonesia dan mancanegara; acara 5–6 September di The Caldera menargetkan 3.000–4.000 pengunjung.
Medan, IDN Times – Lake Toba Tradisional Music Festival kembali digelar untuk keenam kalinya. Tahun ini festival mengusung 3 konsep utama: talk show, speed meeting, dan showcase dengan target menciptakan ruang ekonomi kreatif bagi musisi tradisional.
Direktur Lake Toba Tradisional Music Festival, Ramanta Sinulingga, menjelaskan Lake Toba tahun ini mengusung skema "Ganjil-Genap".
"Di tahun ganjil kita fokus ke pengembangan ekosistem di Sumatera Utara. Jadi tidak akan mengundang performers dari luar. Kita fokus mencari talenta, mencari talenta kemudian bagaimana kita bisa menginkubasi mereka untuk persiapan," ujar Ramanta.
Sementara di tahun genap, festival akan masuk ke ranah pasar. "Di tahun 2028, di tahun genap kita akan masuk lagi ke wilayah market. Kita mengundang berbagai delegasi dan juga mengundang performers dari luar," katanya.
1. Ada 3 pilar utama dari Talk Show, Speed Meeting, Showcase

Direktur Lake Toba Tradisional Music Festival, Ramanta Sinulingga (IDN Times/Indah Permata Sari) Ramanta merinci ada tiga poin penting dalam Lake Toba Resonansi Festival tahun ini.
Pertama, talk show yang berisi transfer pengetahuan dari delegasi dan para penampil. Ada dua sesi talk show, yaitu "Diplomasi Budaya: Kearifan Musik Tradisional" dan "Industri dan Pasar Musik Tradisional".
Kedua, speed meeting yang menjadi poin utama. Dalam sesi ini, para penampil dari Sumatera dan internasional akan bertemu langsung selama 5 menit dengan delegasi secara eksklusif.
"Jadi para performance kita, penyanyi musik kita itu setiap perwakilan akan masuk, dia akan duduk di satu meja. Setelah 5 menit akan bergantian. Fungsinya adalah apa? Di situ kita harapkan ada yang terjadi transaksi," jelas Ramanta.
"Transaksi dalam artian delegasi suka dengan karya mereka. Ya syukur-syukur mereka akan diajak perform ke negara mereka atau ke event mereka. Itu poin pentingnya," tambahnya.
Ketiga, showcase sebagai wadah penampilan agar delegasi tertarik mengundang musisi ke festival mereka.
2. Hadirkan 9 delegasi dari Indonesia dan mancanegara

Direktur Lake Toba Tradisional Music Festival, Ramanta Sinulingga (IDN Times/Indah Permata Sari) Tahun ini Lake Toba menghadirkan 9 delegasi. Enam dari Indonesia dan 3 dari luar negeri.
Delegasi Indonesia di antaranya Bagas dari Jazz Gunung Bromo, Satria Ramadan dari Aksian Festival Bali, Hilmi Faik dari Harian Kompas, Vicky Sianipar, Rino Djapari dari Rio Rhythm, dan Agus Basuni dari World Meeting Jazz Jakarta.
Sementara delegasi internasional ada Jay Nayongjo selaku Festival Director dari Korea, Muhammad Arif dari Malaysia selaku record label, dan Ridwan Jalani dari Singapura selaku composer dan director festival.
Penampil juga akan datang dari Singapura, Malaysia, dan Korea.
3. Target 3.000-4.000 pengunjung

Direktur Lake Toba Tradisional Music Festival, Ramanta Sinulingga (IDN Times/Indah Permata Sari) Total peserta yang terlibat, baik pemusik maupun delegasi, mencapai 122 orang.
Untuk pengunjung, panitia menargetkan sekitar 500 orang per hari di The Caldera. Secara akumulasi selama 2 hari pelaksanaan pada 5-6 September, ditargetkan 3.000-4.000 orang.
"Tujuan kita sebenarnya kita ingin menciptakan ekonomi di sini. Selama ini mungkin pemahaman kita tentang musik tradisional itu hanya prospek kerjanya bisa di pesta atau di penelitian. Ternyata banyak sekali. Bisa menjadi booking agent, bisa menjadi producer," kata Ramanta.
Ia berharap Lake Toba bisa menjadi wadah agar Sumatera Utara menjadi pintu gerbang musik tradisi Indonesia ke berbagai negara, mengingat posisi strategis yang dekat dengan Singapura dan Malaysia.
"Tidak ada lagi emblem satu etnis. Tapi kita keberagaman itu kita kunci di sini. Musik tradisi itu bukan berarti pure kita mainkan musik tradisi. Tapi bagaimana membungkus musik tradisi ini menjadi sebuah olahan. Bisa masuk ke jazz, ke rock, ke pop dan lain sebagainya untuk menarik peminat kalangan," ujarnya.
Lake Toba 2026 berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Film, Musik dan Seni, Manajemen Talenta Nasional (MTN), BPODT, serta Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif.













![[FOTO] Sinabung Masih Mengeluarkan Asap, Masyarakat Tetap Waspada](https://image.idntimes.com/post/20260902/sin_1_f9892b88-7bd1-48d5-a7ff-3600a86df036_watermarked_idntimes-2.jpg)


