Erupsi Gunung Sinabung, Begini Kondisi Kuta Tengah yang Dikosongkan

- Erupsi Gunung Api Sinabung pada 31 Agustus 2026 membuat warga Desa Kuta Tengah meninggalkan perkampungan.
- Sebanyak 650 warga dievakuasi ke posko Desa Sukatepu karena Kuta Tengah berada dalam radius enam kilometer dan dekat jalur awan panas.
- Sejumlah warga bergantian menjaga rumah dan ternak, sementara warga masih dapat ke ladang lalu kembali ke pengungsian.
Karo IDN Times – Erupsi Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo memaksa warga untuk meninggalkan perkampungan. Erupsi pada 31 Agustus 2026, membuat warga Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpangempat mengosongkan perkampungan mereka.
Ada 650 warga yang menjadi penyintas. Mereka dievakuasi ke posko pengungsian di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran. Sekitar 5 Km dari Kuta Tengah.
1. Warga tinggalkan harta benda, hanya membawa yang penting ke pengungsian

Kondisi Desa Kuta Tengah yang ditinggalkan warga karena mengungsi setelah Sinabung kembali erupsi pada Senin (1/8/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo) IDN Times melakukan pengamatan langsung ke Kuta Tengah. Dari desa, Sinabung memang terlihat sangat jelas.
Hanya ada satu akses menuju desa itu. Gapura menjadi penanda pintu masuk ke arah desa. Di sekelilingnya terdapat perkebunan sayur dan beberapa jenis buah. Di antaranya juga terdapat tanaman kopi.
Masuk ke pemukiman, suasana langsung terasa. Kondisinya begitu sepi. Rumah – rumah digembok. Warga tidak sempat mengevakuasi harta benda mereka saat dievakuasi.
Kampung itu di jaga langsung TNI dan Polri. Mereka membuat posko di salah satu Jambur –tempat pertemuan bagi etnis Karo--.
2. Beberapa warga tetap tinggal, menjaga ternak supaya tidak hilang

Melki Ginting, warga Desa Kuta Tengah memberi makan ternak kambingnya, Kamis (3/8/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo) Di sepan sebuah warung, sejumlah warga duduk berkumpul di atas dipan. Mereka asyik bercengkrama. Bercerita seputar kondisi Sinabung.
Mereka adalah warga yang secara bergantian berjaga secar mandiri. Mereka menjaga rumah hingga ternak.
“Sebagian besar warga di sini punya ternak. Jadi harus dijaga,” ujar Melki Ginting usai memberi makan ternak kambingnya, Kamis (4/9/2026).
Kata Melki, ternak harus dijaga. Karena, pada saat erupsi sebelumnya, warga sempat kehilangan ternak. Diduga karena dicuri.
“Kalau tidak jangan, nanti pasti ada pencurian. Sudah kosong kampung ini,” katanya.
3. Sudah berulangkali Kuta Tengah terdampak erupsi

Cahaya merah berpijar terlihat di kawah puncak Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Kamis (3/9/2026) dinihari. Pijaran tersebut berasal dari material vulkanik bersuhu tinggi yang berada di sekitar kawah. (IDN Times/Prayugo Utomo) Bukan kali pertama Kuta Tengah dikosongkan. Warga pun tidak mau mengambil risiko jika harus tetap tinggal di sana.
Sudah menjadi konsekuensi tinggal di Sinabung. Erupsi bisa sewaktu-waktu terjadi.
Dampaknya pun serius. Abu vulkanik berulang kali membuat pertanian rusak. Daun-daun tanaman menjadi gosong. Buah yang terkena abu tebal, tidak dapat dipanen karena rusak.
Meski mengungsi, warga masih diperbolehkan ke ladang yang ada di Kuta Tengah. Sore harinya mereka kembali ke pengungsian.
Pengalaman panjang menghadapi aktivitas Sinabung membuat pengungsian kali ini terasa berbeda. Warga sebelumnya sempat menjalani masa pengungsian bertahun-tahun setelah erupsi pada 2010 hingga 2017.
"Yang lari itu 2010-2012. Terus pulang sebentar ke kampung, balik lagi. Sampai 2013-2017 masih di posko. Kemudian pada 2019 sudah dipulangkan ke kampung. Setelah enam tahun, ini erupsi. Kami mengungsi lagi," ujar Ida beru Sitepu di posko pengungsian.

![[FOTO] Sinabung Masih Mengeluarkan Asap, Masyarakat Tetap Waspada](https://image.idntimes.com/post/20260902/sin_1_f9892b88-7bd1-48d5-a7ff-3600a86df036_watermarked_idntimes-2.jpg)















