Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cahaya Merah Muncul di Puncak Gunung Sinabung, Ini Penjelasan Ilmiah

Kota Medan
Cahaya Merah Muncul di Puncak Gunung Sinabung, Ini Penjelasan Ilmiah
Cahaya merah berpijar terlihat di kawah puncak Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Kamis (3/9/2026) dinihari. Pijaran tersebut berasal dari material vulkanik bersuhu tinggi yang berada di sekitar kawah. (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • Cahaya merah muncul di sekitar puncak Gunung Sinabung selama dua malam terakhir dan terpantau melalui CCTV.
  • Armen Putra mengaitkan cahaya itu dengan erupsi serta material bersuhu tinggi, tanpa pertumbuhan kubah lava yang terlihat.
  • Hujan deras belum berpengaruh signifikan terhadap kegempaan vulkanik, tetapi dapat membuat asap terlihat lebih tebal dan putih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apa yang paling terkait dengan cahaya merah Sinabung?
Share Article

Karo, IDN Times - Aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali menjadi perhatian setelah muncul cahaya merah di sekitar puncak gunung dalam dua malam terakhir. Fenomena tersebut turut diamati melalui kamera pemantau atau CCTV serta menjadi perhatian sejumlah fotografer yang memantau aktivitas Sinabung dari kejauhan.

Cahaya merah itu lantas memunculkan pertanyaan apakah terjadi perubahan pada kubah lava di puncak Sinabung. Namun, berdasarkan pemantauan saat ini, belum terlihat adanya pertumbuhan kubah lava di puncak gunung api tersebut.

Penelusuran IDN Times, dalam artikel U.S. Geological Survey (USGS), penampakan Cahaya merah ini berkaitan dengan fenomena Incandescence atau pijaran termal. adalah fenomena ketika suatu material yang sangat panas memancarkan cahaya tampak karena suhunya tinggi.

Koordinator Pos Pemantauan Gunung Api Sinabung Armen Putra menjelaskan, cahaya merah yang terlihat berkaitan dengan aktivitas erupsi Sinabung. Fenomena itu dapat muncul karena material yang keluar dari tubuh gunung api masih memiliki suhu tinggi.

  1. 1. Cahaya merah terlihat dari sisi utara Sinabung

    SINABUNG_6.jpg
    Gunung Sinabung terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya, Kamis (3/9/2026). Cahaya merah dan asap terus ke luar dari kawah Sinabung. (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Armen Putra mengatakan, fenomena cahaya merah tersebut juga terpantau melalui CCTV. Berdasarkan pengamatan, cahaya tampak di sisi utara Gunung Sinabung dan muncul bersamaan dengan aktivitas erupsi.

    "Ya yang pertama cahaya merah itu memang nampak dari kami dari CCTV disini juga teramati bahwa di sisi utara ada cahaya merah. Nah itu adalah cahaya yang muncul ketika erupsi itu. Erupsi itu ada seperti bias cahaya di dalamnya mungkin ada lavanya tapi masih di dalam," kata Armen Putra.

    Meski demikian, Armen menegaskan belum terlihat adanya pertumbuhan kubah lava di puncak Sinabung. Cahaya yang muncul dapat terlihat dari lokasi keluarnya abu, terutama ketika aktivitas tersebut diamati pada malam hari.

    "Kita belum melihat pertumbuhan kubah lapa di puncak gunung api Sinabung. Jadi itu tempat keluarnya abunya itu memang kadang nampak merah dan kadang kalau siang hari memang tidak teramati," ujarnya.

  2. 2. Bisa menjadi indikasi magma mulai lebih dangkal

    SINABUNG_7.jpg
    Gunung Sinabung terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya, Kamis (3/9/2026). Cahaya merah dan asap terus ke luar dari kawah Sinabung. (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Kemunculan cahaya merah tersebut juga tidak serta-merta menunjukkan adanya pertumbuhan kubah lava. Armen mengatakan, fenomena itu dapat menjadi salah satu indikasi bahwa magma mulai berada pada posisi yang lebih dangkal dari bibir kawah.

    "Ya ini mungkin bisa jadi kita lihat pertandanya bahwa itu magma sudah lebih dangkal. Sudah mulai naik ke atas," kata Armen.

    Namun, cahaya merah juga dapat muncul karena material erupsi memiliki temperatur tinggi. Ketika material panas keluar dari tubuh gunung api, panas tersebut dapat menghasilkan bias cahaya yang terlihat dari kejauhan.

    "Atau juga bisa kita lihat itu yang namanya erupsi itu tentu sangat panas dengan suhu yang cukup tinggi. Nah itu bias Cahaya yang kita lihat,” imbuhnya.

  3. 3. Hujan lebih berpengaruh terhadap tampilan asap

    SIN_12.jpg
    Gunung Api Sinabung masih memperlihatkan aktivitas vulkanik pada Rabu (2/9/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Di tengah aktivitas Sinabung, kondisi cuaca juga menjadi perhatian karena hujan deras terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kendati demikian, Armen mengatakan sejauh pemantauan yang dilakukan, hujan belum memberikan pengaruh signifikan terhadap kegempaan vulkanik Sinabung.

    "Kondisinya tadi keluar sudah ada pendangkalan lava. Sampai saat ini pengaruh ke gempa-gempa vulkaniknya memang belum signifikan pengaruh hujan," ujar Armen.

    Menurutnya, pengaruh hujan justru lebih mudah diamati secara visual. Kandungan air yang meningkat dapat membuat asap dari aktivitas gunung terlihat lebih tebal dan berwarna putih karena didominasi uap air.

    "Asapnya mungkin semakin tebal dan semakin tebal ini mungkin akan terlihat warna putih karena ini uap air. Berbeda dengan keluarnya abu vulkanik. Nah kalau hujan itu paling mempengaruhi asapnya agak besar dan kemungkinan putih," katanya.

    Armen juga menjelaskan bahwa munculnya asap tidak selalu berarti Gunung Sinabung sedang mengalami erupsi yang mengeluarkan material padat. Erupsi sendiri merupakan keluarnya material dari dalam tubuh gunung api, dengan bentuk keluaran yang dapat berbeda-beda.

    "Sebenarnya erupsi itu adalah yang keluar dari dalam tubuh gunung api itu kita namakan erupsi. Tapi erupsinya ada yang hanya berupa asap saja ada yang mengeluarkan material seperti abu atau batu atau juga lavanya," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More