Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Warga Kuta Tengah Dievakuasi saat Gunung Sinabung Erupsi

Kota Medan
Cerita Warga Kuta Tengah Dievakuasi saat Gunung Sinabung Erupsi
Pengungsian penyintas erupsi Gunung Api Sinabung d Desa Sukatepu, Kecamatan Namanteran, Karo, Sumatra Utara, Kamis (4/9/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • Warga Desa Kuta Tengah dievakuasi ke Desa Sukatepu setelah aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo kembali meningkat.
  • Lokasi pengungsian dipilih warga karena dekat dengan ladang, sehingga mereka masih dapat memantau tanaman pertanian.
  • Sebanyak 650 warga berada di pengungsian Sukatepu dan masih diperbolehkan pergi ke ladang di Kuta Tengah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Karo, IDN Times - Warga Desa Kuta Tengah harus meninggalkan rumah setelah aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara kembali meningkat. Sinabung kembali erupsi besar pada Senin (31/9/2026).

Warga dievakuasi ke Desa Sukatepu, Kecamatan Namanteran. Jaraknya sekitar lima kilometer dari kampung mereka. Mereka dievakuasi untuk mengantisipasi kemungkinan aktivitas gunung semakin meningkat.

  1. 1. Warga sempat bertahan di rumah sebelum akhirnya dievakuasi

    SINABUNG_11.jpg
    Pengungsian penyintas erupsi Gunung Api Sinabung d Desa Sukatepu, Kecamatan Namanteran, Karo, Sumatra Utara, Kamis (4/9/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Setelah erupsi terjadi pada siang hari, pemerintah dan aparat mulai melakukan persiapan evakuasi. Personel TNI disebut telah berada di desa pada malam harinya untuk bersiaga.

    "Karena kami disuruh semua ke titik kumpul. Jadi ada bupati, memang malamnya itu sudah digerakkan sama semua TNI. Sudah jaga malam di tempat kami. Rencananya akan diangkut malam itu," kata warga tersebut.

    Namun, evakuasi tidak langsung dilakukan malam itu. Sebagian warga masih berada di rumah masing-masing karena pemerintah belum mengambil keputusan untuk segera melakukan evakuasi.

    "Terus sebagian tahu, sebagian enggak. Tapi karena pemerintah pun belum panik sekali, jadi kami dibiarkan dulu istirahat malam," ujarnya.

    Keesokan paginya, warga dikumpulkan untuk mendapat penjelasan mengenai kondisi Gunung Sinabung. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pihak kecamatan memberikan arahan mengenai rencana pemindahan warga ke lokasi yang telah disiapkan.

    "Jadi tiba paginya, pagi-pagi, disuruh kami semua titik kumpul dicampur untuk rapat lah mengenai kondisi gunung. Jadi diberikan aba-aba kepada kami, ada BNPB, ada camat, semualah. Terus katanya hari ini kita diberangkatkan ke satu tempat," katanya.

  2. 2. Warga memilih lokasi pengungsian yang dekat dengan ladang

    GOY_0908.JPG
    Kondisi pengungsian penyintas erupsi Sinabung di Desa Sukatepu, Kecamatan Namanteran. (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Pemerintah menawarkan beberapa lokasi untuk menampung warga. Namun, warga memilih lokasi yang dianggap lebih dekat dengan lahan pertanian mereka.

    "Jadi dia memilih tiga tempat, tiga pancur hingga di sini. Jadi kami minta ke sini karena kami beraktifitas ke ladang," ujarnya.

    Keputusan tersebut berkaitan erat dengan aktivitas warga yang sebagian besar masih bergantung pada lahan pertanian. Lokasi pengungsian yang relatif dekat membuat mereka tetap memiliki akses untuk memantau ladang dan tanaman.

    "Jadi bagaimanapun gunung, bisa kami cepat lari ke sini. Itunya informasi yang kami dapat," katanya.

    Evakuasi kemudian dilakukan setelah seluruh persiapan dianggap cukup. Warga menyebut kendaraan telah disiapkan untuk mengangkut masyarakat menuju lokasi pengungsian.

    "Jadi pas hari siangnya, siap makan siang, semua mobil sudah dikerakkan untuk siaga. Jadi hari itulah kami diangkut ke sini," ujarnya.

    Tidak semua warga langsung menerima keputusan tersebut. Sebagian sempat mempertanyakan alasan harus dipindahkan karena kondisi gunung belum separah erupsi-erupsi sebelumnya.

    "Pas kami rapat itu kan, namanya kita kan rapat, ada yang menolak. Tapi karena sudah diberi arahan mengenai gunung, ya sudah sepakat sebagian. Menolak begini dia, bukan karena apa, jangan terlampau jauh dari ladang," katanya.

  3. 3. Pernah merasakan erupsi besar, warga kini lebih waspada

    SINABUNG_6.jpg
    Gunung Sinabung terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya, Kamis (3/9/2026). Cahaya merah dan asap terus ke luar dari kawah Sinabung. (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Pengalaman erupsi Sinabung pada periode sebelumnya menjadi alasan warga tidak ingin mengambil risiko. Mereka masih mengingat dampak abu vulkanik yang pernah membuat tanaman pertanian rusak.

    "Dia abunya saja. Tapi abunya yang begitu besar, semua tanaman-tanaman hancur, gosong," ujar warga tersebut.

    Tanaman seperti terong dan kentang menjadi salah satu yang terdampak. Abu vulkanik yang menempel pada permukaan tanaman membuat hasil pertanian warga mengalami kerusakan.

    "Daun terong, daun kentang, semuanya kena abunya itu gosong," katanya.

    Kondisi berbeda dirasakan warga dalam aktivitas Sinabung kali ini. Abu yang turun disebut masih tipis sehingga tanaman masih dapat dipanen.

    "Kalau yang kemarin enggak. Kami sampai sekarang pun abunya belum tebal sekali," ujarnya.

    Tanaman pun masih bisa dipanen. Saat ini, ada 650 warga di pengungsian Sukatepu. Meski mengungsi, mereka masih diperbolehkan ke ladang yang ada di Kuta Tengah. Sore harinya mereka kembali ke pengungsian.

    Kesiapsiagaan juga dilakukan terhadap warga yang masih harus berada di desa untuk menjaga ternak.

    "Truk tentara pun masih menunggu. Malam pun tentara, seandainya ada pun anak-anak kami yang tinggal di kampung, bapak-bapak untuk menjaga ternak-ternak, didampingi sama tentara. Motor pun disediakan, mobil disediakan," ujarnya.

    Pengalaman panjang menghadapi aktivitas Sinabung membuat pengungsian kali ini terasa berbeda. Warga sebelumnya sempat menjalani masa pengungsian bertahun-tahun setelah erupsi pada 2010 hingga 2017.

    "Yang lari itu 2010-2012. Terus pulang sebentar ke kampung, balik lagi. Sampai 2013-2017 masih di Bosko. 2016 masih di posko pengungsian. Pada 2019 sudah dipulangkan ke kampung. Setelah enam tahun, ini erupsi. Kami mengungsi lagi," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More