Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekspor Aceh Tembus 366 Juta Dolar AS, Surplus Perdagangan 105 Juta Dolar AS
Ilustrasi aktivitas ekspor impor (unsplash.com/Andy Li)
  • Aceh mencatat surplus perdagangan USD105,40 juta pada Semester I 2026, setelah ekspor mencapai USD366,66 juta dan impor USD261,26 juta.
  • Ekspor didominasi produk mineral, terutama batu bara senilai USD261,59 juta; Kuartal II naik 13,82 persen, dengan capaian tertinggi pada Juni sebesar USD85,31 juta.
  • Impor Aceh terutama berupa butana dan propana, masing-masing senilai USD132,56 juta dan USD123,36 juta, dengan Amerika Serikat sebagai asal utama kedua komoditas tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banda Aceh, IDN Times - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Aceh mencatat neraca perdagangan Aceh mengalami surplus sebesar USD105,40 juta sepanjang Semester I 2026 atau periode Januari-Juni.

Surplus tersebut berasal dari nilai devisa ekspor yang mencapai USD 366,66 juta, sementara nilai devisa impor tercatat USD261,26 juta.

“Aceh membukukan surplus perdagangan sebesar USD105,40 juta selama Semester I 2026,” kata Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Aceh, Leni Rahmasari, Selasa (8/9/2026).


1. Ekspor Aceh didominasi produk mineral

kontainer barang ekspor-impor (canva.com)

Leni Rahmasari mengatakan nilai devisa ekspor Aceh selama enam bulan pertama 2026 mencapai USD366,66 juta atau sekitar Rp6,3 triliun, dengan total berat bersih barang mencapai 7,09 juta ton.

Ekspor masih didominasi produk mineral dengan nilai devisa USD261,93 juta atau 71,4 persen dari total ekspor Aceh.

Sektor perkebunan berada di posisi kedua dengan nilai USD64,51 juta atau 17,6 persen. Selanjutnya komoditas minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) menyumbang USD29,74 juta atau 8,1 persen.

Ketiga kelompok komoditas tersebut menyumbang sekitar 97,1 persen dari total devisa ekspor Aceh.

Untuk produk mineral, batu bara menjadi komoditas utama dengan nilai devisa USD261,59 juta. Ekspor batu bara dilakukan PT Mifa Bersaudara, PT Bara Energi Lestari, dan PT Media Djaya Bersama.

PT Mifa Bersaudara menjadi eksportir terbesar dengan kontribusi 72,87 persen, disusul PT Bara Energi Lestari 21,33 persen dan PT Media Djaya Bersama 5,79 persen.

Seluruh ekspor batu bara tersebut berasal dari Aceh Barat dan Nagan Raya. Aceh Barat menyumbang nilai devisa terbesar, yakni USD205,79 juta, sedangkan Nagan Raya sebesar USD55,80 juta.

India menjadi negara tujuan utama ekspor batu bara Aceh dengan kontribusi 83,93 persen, diikuti China, Thailand, dan Vietnam.


2. Ekspor naik pada Kuartal II, Juni tertinggi

Transportasi laut dan udara dalam pengiriman ekspor-impor (canva.com)

Pada sektor perkebunan, ekspor didominasi komoditas kopi, teh, maté, dan rempah-rempah yang menyumbang 90,78 persen dari total devisa sektor tersebut.

Sementara ekspor CPO tercatat sebesar USD29,74 juta dengan total berat bersih sekitar 25,67 ribu ton. Seluruh ekspor CPO dilakukan PT Agro Murni, dengan negara pembeli Singapura dan tujuan fisik pengiriman ke sejumlah pelabuhan di India.

Secara kuartalan, nilai devisa ekspor pada Kuartal II 2026 mencapai USD195,18 juta. Angka tersebut meningkat 13,82 persen dibandingkan Kuartal I.

“Namun, total berat bersih ekspor justru mengalami penurunan sebesar 7,19 persen,” ujar Leni Rahmasari.

Secara bulanan, nilai ekspor Aceh mengalami fluktuasi sebelum kembali meningkat tajam pada Juni 2026. Nilai devisa ekspor pada Juni mencapai USD85,31 juta atau naik 61,31 persen dibandingkan Mei.

Capaian tersebut menjadi yang tertinggi selama Semester I 2026. Peningkatan tersebut sejalan dengan kenaikan Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang disertai peningkatan total berat bersih ekspor dibandingkan bulan sebelumnya.


3. Impor didominasi propana dan butana

Ilustrasi ekspor-impor. (IDN Times/Aditya Pratama)

Dari sisi impor, nilai devisa yang tercatat selama Semester I 2026 mencapai USD261,26 juta atau sekitar Rp4,49 triliun.

Komoditas propana dan butana menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi gabungan sekitar 97,96 persen dari total devisa impor Aceh. Nilai impor butana mencapai USD132,56 juta, sedangkan propana sebesar USD123,36 juta.

“Berdasarkan negara asal barang, impor propana dan butana didominasi Amerika Serikat dengan nilai sekitar 237 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar 93 persen dari total devisa kedua komoditas tersebut,” kata Leni Rahmasari.

Berdasarkan negara pemasok, Amerika Serikat menjadi pemasok utama dengan kontribusi sekitar 37 persen, disusul Uni Emirat Arab 32 persen, Singapura 18 persen, serta Aljazair dan Norwegia masing-masing 7 persen.

Aktivitas impor tertinggi terjadi pada Mei 2026 dengan nilai devisa USD89,16 juta dan total berat bersih 122,16 ribu ton.


Curated For You

Editorial Team

Related Article