Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

RS Adam Malik Lakukan Pemeriksaan Neurologi Korban MBG Hilang Ingatan

Kota Medan
RS Adam Malik Lakukan Pemeriksaan Neurologi Korban MBG Hilang Ingatan
Humas RSUP H. Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • RSUP H. Adam Malik Medan menangani FP, 16 tahun, yang diduga keracunan usai makan MBG. Diagnosis belum dipastikan karena pemeriksaan EEG memerlukan tindak lanjut.
  • Sejak mengalami pusing, gatal, dan muntah setelah menyantap ikan tongkol pada 13 Agustus 2026, FP telah dirawat di lima rumah sakit dengan keluhan kejang, sulit bicara, dan gangguan ingatan.
  • Biaya perawatan FP disebut ditanggung BGN, sementara keluarga masih membayar transportasi, makan, dan penginapan selama berobat ke Medan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times – RSUP H. Adam Malik Medan menangani pasien anak berinisial FP, 16 tahun, asal Berastagi, Kabupaten Karo, yang mengalami keracunan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis. Humas RSUP H. Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak mengatakan FP datang untuk menjalani rawat jalan pada Senin (7/9/2026).

"Pasien hari ini ada berkunjung untuk menjalani pengobatan dan ditangani oleh spesialis dokter anak. Kemudian, ditangani dokter spesialis gastro anak dan neurologi anak serta dokter psikiater," ujar Rosario saat dikonfirmasi IDN Times.

  1. 1. Diagnosa sebenarnya belum bisa dipastikan

    IMG_20260907_204151.jpg
    Humas RSUP H. Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Ini merupakan kunjungan kedua FP ke RS Adam Malik. Sebelumnya pasien kontrol pada 31 Agustus 2026. "Untuk hari ini fokus pada psikiatri anak, neurologi dan menjalani pemeriksaan EEG. Hasil belum bisa dipastikan karena dari EEG ada pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosa sebenarnya dia ini sakit apa," jelas Rosario.

    EEG atau elektroensefalografi adalah pemeriksaan yang mengukur aktivitas listrik di otak menggunakan elektroda kecil yang ditempelkan pada kulit kepala pasien. Ini merupakan cara untuk mendiagnosa kondisi saraf korban.

  2. 2. Sudah dirawat di 5 rumah sakit sejak 13 Agustus

    IMG_20260907_134646.jpg
    a Elvinus Lusiana Sitanggang sebagai ibu FP saat diwawancarai usai pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Informasi dari pihak keluarga, FP mulai merasakan gejala setelah mengonsumsi MBG di sekolahnya pada 13 Agustus 2026. Menu saat itu ikan tongkol.

    "Awalnya pusing, badan gatal, muntah. Ibunya sempat kasih susu steril tapi dimuntahkan," kata Elvinus Lusiana Sitanggang, 49 tahun, ibu FP, saat ditemui IDN Times di depan poli psikiatri RS Adam Malik, Senin (7/9/2026).

    Saat itu FP sedang diperiksa di dalam ruangan dan didampingi 4 orang berpakaian dinas putih dengan lencana BGN. Sejak kejadian itu, FP sudah dirawat di 5 rumah sakit. Dari RSU Kabanjahe 3 hari, RS Efarina 2 hari, RS Haji Medan 1 minggu, RS Amanda 2 hari, dan bolak-balik ke RS Adam Malik.

    Keluhan yang muncul cukup serius. FP mengalami kejang berulang, sulit berbicara, dan gangguan ingatan. "Kejangnya 10 menit, terus bersambung-sambung. Aku rasa dari kejang itulah dia susah ngomong," ujar Elvinus.

  3. 3. Ibu korban minta penanganan yang tepat

    IMG_20260907_134655.jpg
    a Elvinus Lusiana Sitanggang sebagai ibu FP saat diwawancarai usai pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Yang paling dikhawatirkan keluarga adalah daya ingat FP. Siswa kelas XI di SMK Bersama Berastagi jurusan Multimedia ini dulunya juara 1 sejak SD hingga menjadi wakil ketua OSIS. Kini ia tak ingat nama teman, guru, bahkan adiknya sendiri.

    "Teman-teman dan guru datang nengok. Ditanya 'ini siapa' jawabnya 'gak kenal aku'. Sampai keringat dingin dia mengingatnya," cerita Elvinus sambil menahan tangis.

    Dari hasil pemeriksaan psikiatri, Elvinus juga menyebut dokter menyampaikan soal lidahnya terasa tertarik ke dalam.

    Elvinus menyebut biaya perawatan FP di rumah sakit telah ditanggung BGN. Namun keluarga masih harus menanggung biaya transportasi, makan, dan penginapan selama berobat ke Medan.

    Sebagai pekerja harian lepas tentu orangtua FP terbebani dengan biaya kehidupan sehari-hari. Karena akibat menemani anaknya berobat kedua orangtuanya tak bisa bekerja.

    "Maunya anakku ini dikasih (diberi) pengobatan yang tepat. Biar jangan bolak-balik lagi ke rumah sakit," harapnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More