Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Lirih Ibu Korban Keracunan MBG, Kini Tak Kenal Teman dan Keluarga

Kota Medan
Cerita Lirih Ibu Korban Keracunan MBG, Kini Tak Kenal Teman dan Keluarga
Elvinus Lusiana Sitanggang sebagai ibu FP saat diwawancarai usai pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • FP, siswi SMK di Berastagi, mengalami pusing, gatal, muntah, dan lemas setelah menyantap ikan tongkol dari program Makan Bergizi Gratis pada 13 Agustus 2026.
  • Setelah dirawat di lima rumah sakit dan mengalami kejang berulang, FP mengalami gangguan ingatan, sulit mengenali orang terdekat, serta lidah terasa tertarik ke dalam.
  • BGN menanggung biaya rumah sakit, tetapi keluarga tetap menghadapi pengeluaran lain dan berharap FP mendapat pengobatan tepat agar tidak terus bolak-balik dirawat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times – Elvinus Lusiana Sitanggang, 49 tahun menceritakan kondisi terkini anaknya pasca keracunan MBG pertengahan Agustus lalu. Hingga saat ini anaknya FP, 16 tahun, tak kunjung sembuh dan sedang menjalani pemeriksaan di dalam ruangan psikiatri RSUP Adam Malik, Medan, Senin (7/9/2026).

Saat bertemu dengn IDN Times, Elvinus duduk menunggu sambil sesekali melirik ke pintu ruangan. Di sampingnya berdiri 4 orang laki-laki berpakaian dinas putih dengan lencana BGN yang ikut mendampingi proses pemeriksaan hari itu.

Beberapa menit kemudian FP keluar dari ruangan. Kaos biru dongker dengan corak di bagian depan. Di bahunya tersampir kain bermotif garis-garis. Celana putih tulang. Tubuhnya langsung dipindahkan ke kursi roda yang sejak pagi disorong Elvinus dari Berastagi.

FP bukan anak biasa. Sejak SD, SMP, hingga kini duduk dibangku SMK kelas XI di SMK Bersama Berastagi jurusan Multimedia, dia selalu juara 1. Dia juga wakil ketua OSIS.

"Makanya dia selalu bilang, 'aku mau sekolah, aku mau sekolah'. Kayak mana kita mau kasih dia sekolah," lirih Elvinus.

Namun, anak yang dulu hapal semua nama teman satu kelasnya, kini tak bisa mengingat siapa-siapa.

  1. 1. Keracunan terjadi pada 13 Agustus, setelah berbulan-bulan konsumsi MBG

    IMG_20260907_134644.jpg
    a Elvinus Lusiana Sitanggang sebagai ibu FP saat diwawancarai usai pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari)

    FP sebenarnya sudah menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak sekitar Februari atau Maret 2026 di sekolahnya. Namun, pada 13 Agustus 2026, kondisi FP berubah setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG.

    Awalnya, FP hanya mengeluhkan pusing. Setelah itu, tubuhnya mulai terasa gatal hingga mengalami muntah-muntah. Saat itu, menu yang disajikan adalah ikan tongkol.

    "Ikan tongkolnya pahit rasanya, keras. Namanya dia anak-anak, dipikirnya mungkin memang begitu rasa ikan. Jadi dimakan saja karena sudah lapar," cerita Elvinus.

    Sepulang sekolah, FP mengeluh kepada ibunya bahwa kepalanya terasa pusing.

    "Mak, kayaknya aku pusing ini," kata FP kepada Elvinus.

    Awalnya, Elvinus mengira kondisi itu disebabkan kelelahan. Saat itu, FP memang sedang sibuk sebagai pengurus OSIS dalam persiapan menyambut HUT Kemerdekaan RI.

    Namun, setibanya di rumah, FP kembali mengeluh. Kali ini, seluruh tubuhnya terasa gatal. Elvinus kemudian mencoba memberikan susu steril Bear Brand. Namun, susu itu hanya diminum sedikit sebelum kembali dimuntahkan.

    Tak lama berselang, tubuh FP mulai melemah.

    "Terus ku gendong dia. Kebetulan depan rumah ada tentara. Ditanya anakku kenapa, ku jawab ini anakku keracunan. Langsung dimasukkan ke ambulans," kenang Elvinus.

    FP kemudian dibawa ke RSU Kabanjahe dan menjalani perawatan selama tiga hari sebelum diperbolehkan pulang.

    Namun, sehari setelah pulang, kondisi FP kembali memburuk. Ia mengalami kejang di rumah.

    "Kejangnya sekitar 10 menit, terus kejang lagi bersambung-sambung. Kurasa kejangnya ini yang membuat dia jadi susah ngomong," kata Elvinus.

    Sejak saat itu, FP harus berpindah-pindah rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Dari RSU Kabanjahe, ia kemudian dirawat di RS Efarina selama dua hari. Setelah itu, FP dibawa ke RS Haji Medan dan menjalani perawatan selama sekitar satu minggu.

    Sempat pulang selama sepekan, FP kembali menjalani kontrol ke RS Adam Malik pada 31 Agustus 2026. Namun, saat itu ia kembali mengalami kejang hingga akhirnya dibawa ke RS Amanda dan dirawat selama dua hari.

    Terakhir, FP kembali menjalani pemeriksaan lanjutan di RS Adam Malik pada Senin (7/9/2026). Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, FP sudah menjalani perawatan di lima rumah sakit berbeda.

    "Kami pun capek seperti ini, selalu bawa-bawa dia berobat," ujar Elvinus

  2. 2. Tidak hanya ingatan yang hilang namun lidahnya juga terasa tertarik ke dalam

    IMG_20260907_134646.jpg
    a Elvinus Lusiana Sitanggang sebagai ibu FP saat diwawancarai usai pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Pada Senin (7/9/2026), pemeriksaan FP berfokus pada poli psikiatri anak, neurologi, serta pemeriksaan electroencephalography (EEG).

    "Hasil EEG belum keluar, katanya besok. Tadi kami juga ke neurologi, katanya besok diberikan obat dari neurologi. Untuk sekarang masih diberikan obat dari poli psikiatri," jelas Elvinus.

    Namun, hingga kini belum ada kesimpulan pasti dari dokter terkait kondisi anaknya. Elvinus mengatakan, sebelumnya saat menjalani perawatan di RS Haji Medan, dokter sempat menyampaikan dugaan adanya gangguan pada otak yang berkaitan dengan paparan racun.

    "Belum ada kesimpulan dari dokter. Cuma waktu di RS Haji dulu dibilang otaknya memang ada (gangguan), katanya gara-gara racun itu," tambahnya.

    Hal yang paling membuat hati Elvinus terpukul adalah perubahan pada ingatan anaknya yang hilang. Padahal, teman-teman sekolah dan guru FP sempat datang menjenguk.

    "Ini kawan-kawan ndu nakku satu kelas ndu," kata Elvinus memperkenalkan teman-teman FP.

    FP hanya mengangguk. Namun, ketika gurunya bertanya, "Ini namanya siapa?", FP justru menjawab, "Gak kenal aku."

    Elvinus mengatakan, momen itu menjadi pukulan berat baginya. FP terlihat berusaha mengingat, tetapi tidak berhasil mengenali orang-orang terdekatnya.

    "Dia sampai keringat dingin mengingatnya. Diingatnya, tapi tidak dapat ingatannya. Terus dia bilang, 'aku gak kenal'," ucap Elvinus sambil menahan tangis.

    Kondisi serupa juga terjadi ketika FP bertemu dengan bibinya.

    "Ini siapa suami bibinya?" tanya Elvinus.

    "Kila ndu nakku," jawab keluarga kepada FP.

    "Oh kila," kata FP.

    Menurut Elvinus, ingatan anaknya saat ini hanya sebatas mengenali hubungan sederhana. Hal serupa terjadi ketika adiknya yang sering melakukan video call saat FP dirawat di RS Haji Medan datang menjenguk.

    "Sudah gak tanda dia. Yang dia tahu cuma, 'oh ini adik, oh ini kakak'. Gitu saja," tuturnya.

    Selain ingatan, kondisi fisik FP juga mengalami perubahan. Elvinus menyebut dokter dari poli psikiatri menjelaskan adanya gangguan pada bagian lidah anaknya.

    "Menurut dokter, kata psikiatri tadi lidahnya terasa tertarik ke dalam. Karena saat dikeluarkan, lidahnya bergoyang," kata Elvinus.

    Meski begitu, Elvinus masih menyimpan harapan. Ia melihat ada sedikit perkembangan pada ingatan anaknya setelah mengalami kejang terakhir.

    "Kalau ingatannya sekarang sudah sedikit mulai pulih. Semenjak dia kejang yang terakhir ini, pikiran saya mungkin karena dia sudah kejang sekali lagi, makanya ingatannya mulai pulih kembali," ujarnya.

    Namun, harapan itu kembali sirna ketika kondisi FP tiba-tiba memburuk.

    "Dia sempat sadar dan sudah membaik, sampai aku bilang puji Tuhan. Cuma tiga menit, kembali lagi seperti ini," ungkap Elvinus.

  3. 3. Beban yang tak kunjung usai

    IMG_20260907_140035.jpg
    FY salah satu korban keracunan MBG saat menjalani pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Sehari-hari, Elvinus berjualan jajanan di sebuah kedai kecil yang berada di depan SMA Negeri 1 Berastagi. Sementara suaminya bekerja sebagai penyusun jeruk. FP merupakan anak keempat dari enam bersaudara.

    Kondisi itu membuat keluarga harus membagi peran agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mendampingi FP menjalani pengobatan.

    "Kalau dua-duanya kita gak kerja, apa mau kita makan," kata suami Elvinus.

    Karena itu, Elvinus dan suaminya bergantian menjaga FP selama menjalani perawatan dan pemeriksaan medis.

    Sejak FP jatuh sakit, biaya pengobatan rumah sakit ditanggung oleh BGN. Namun, Elvinus mengatakan masih ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi keluarga.

    "Iya, meskipun dibiayai sama BGN, tapi tidak bisa menutupi biaya yang lain," ucapnya.

    Bagi keluarga FP, harapan mereka tidak muluk. Mereka hanya ingin anaknya mendapatkan pengobatan yang tepat agar kondisinya bisa kembali membaik dan tidak terus keluar-masuk rumah sakit.

    "Maunya anakku ini diberi pengobatan yang tepat. Biar jangan anakku ini kembali lagi bolak-balik ke rumah sakit. Tolonglah dikasih obat yang tepat buat anakku ini," harap Elvinus.

    Sebelum meninggalkan rumah sakit, FP sempat berbisik pelan kepada keluarganya.

    "Ayoklah kita pulang, sudah capek," ucapnya.

    Dengan kondisi yang masih lemah, FP kemudian digotong dan dipapah oleh keluarganya untuk pulang.

    Wajahnya tampak pucat. Namun, sorot matanya masih menyimpan harapan. Seolah ada mimpi sederhana yang ingin ia raih kembali: bisa pulang, pulih, dan suatu hari kembali duduk di bangku sekolah.

    Di balik langkah kecil FP meninggalkan rumah sakit, ada doa seorang ibu yang terus menyertai agar anaknya tidak lagi harus berulang kali kembali menjalani perawatan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More