Status Desil Warga Dinilai Tak Akurat, Ini 2 Faktornya Menurut Ekonom

- Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menyebut masalah peringkat desil dipicu metode proxy means testing yang memakai indikator rumah, aset, pekerjaan, pendidikan, dan listrik, sehingga berisiko tidak akurat.
- Penggunaan indikator secara homogen dapat salah mengelompokkan warga; seseorang dengan rumah permanen atau tinggal di kawasan mewah belum tentu memiliki pendapatan cukup atau kondisi ekonomi mapan.
- Perubahan ekonomi yang cepat membuat data desil mudah tertinggal. Masyarakat diminta mengecek statusnya, sementara lurah, kepala desa, dan kepling didorong aktif memutakhirkan serta mengklarifikasi data.
Medan, IDN Times – Keluhan masyarakat terkait peringkat status desil semakin meningkat. Banyak warga mengajukan permohonan perubahan peringkat karena data yang digunakan dinilai tidak sesuai kondisi di lapangan.
Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, menilai ada dua hal utama yang memicu persoalan tersebut.
Pertama, metode penilaian desil yang masih mengandalkan pendekatan tidak langsung atau proxy means testing. Kedua, perubahan status sosial ekonomi masyarakat yang terjadi sangat cepat.
"Penentuan desil menggunakan sejumlah indikator proxy seperti kondisi bangunan rumah, kepemilikan aset barang, pekerjaan, pendidikan, hingga penggunaan daya listrik. Dengan pendekatan seperti ini memiliki kelemahan utama dalam hal akurasi pengelompokan kesejahteraan sosial," ujar Gunawan di Medan, Minggu (31/8/2026).
1. Muncul ketika indikator proxy digunakan secara homogen

Ilustrasi grafik ekonomi naik dan turun (pexels.com/energepic.com) Dia memberi contoh seorang sopir mobil rental yang berpendidikan tinggi dan memiliki rumah permanen warisan. Secara indikator proxy orang tersebut mudah dipersepsikan mapan.
"Padahal jika ditelusuri lebih dalam, faktanya bisa berbeda. Kerjanya tidak menentu, mobil lebih sering parkir daripada mengangkut penumpang, pendapatan tidak sebanding atau lebih rendah dari pengeluaran kebutuhan dasar, bahkan terjerat utang. Hal-hal inilah yang membuat pengelompokan memiliki kesalahan atau deviasi," jelasnya.
Kelemahan lain, kata Gunawan, muncul ketika indikator proxy digunakan secara homogen. Misalnya warga di kompleks perumahan mewah otomatis diasumsikan masuk desil 10.
"Bisa saja pendekatan tersebut benar menggambarkan rata-rata masyarakat di dalamnya masuk desil 10. Tetapi tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan dalam pendekatan tersebut," katanya.
2. Dampak perubahan ekonomi cepat

grafik ekonomi dari klikmu.co Lanjutnya, faktor kedua adalah perubahan status sosial ekonomi yang berlangsung cepat di tengah dinamika ekonomi yang cenderung melemah.
Gunawan mencontohkan pendapatan pengemudi ojek online saat awal industri ini berkembang. Saat itu banyak pemberitaan menyebut pendapatan mencapai dua digit atau di atas Rp10 juta. Namun kondisinya saat ini sudah berbeda.
Begitu juga dampak efisiensi anggaran pemerintah. Kebijakan peniadaan rapat di hotel berdampak langsung pada pekerja perhotelan yang jam kerjanya dikurangi atau kehilangan pekerjaan. Nasib serupa dialami tukang bangunan yang kehilangan proyek karena kontraktor tidak mendapat pekerjaan konstruksi.
"Sehingga status sosial ekonomi seseorang berubah cepat di situ. Jika tidak dibarengi dengan pemutakhiran data yang adaptif, maka data yang tersaji tidak lagi mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sesungguhnya, sekalipun data dikumpulkan dari banyak instansi lalu dianalisis," ungkapnya.
3. Pemerintah Desa diminta aktif memutakhirkan data

Ilustrasi analisis big data. (pexels.com/Pixabay) Gunawan menyarankan masyarakat segera mengecek peringkat desil masing-masing. Jika tidak sesuai realita, segera ajukan perubahan data.
Ia juga mendorong perangkat pemerintah di tingkat paling bawah untuk lebih adaptif melihat perubahan kondisi warganya.
"Perangkat pemerintah setempat level lurah atau kepala desa hingga kepling harus seadaptif mungkin melihat perubahan kondisi sosial ekonomi warganya. Dan lakukan pengecekan satu per satu status desil warganya agar segera mengajukan perubahan data atau klarifikasi jika desil tidak menggambarkan kondisi sosial ekonomi warganya," pungkas Gunawan.
















![[BREAKING] Gunung Sinabung Erupsi, Kawasan Danau Lau Kawar Ditutup](https://image.idntimes.com/post/20231031/234200724-909534509599126-1080077558241490122-n-9c1b3d886f1892ace56555052f878904.jpg)