Kolonel A.E. Kawilarang (Dok. Wikipedia)
Nama lengkapnya adalah Alexander Evert Kawilarang, lahir pada 23 Februari 1920 di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara). Ia lahir dari sebuah keluarga militer.
Ayahnya, Alexander Herman Hermanus Kawilarang, adalah seorang mayor KNIL.
Ibunya adalah Nelly Betsy Mogot. Kedua orang tuanya berasal dari Remboken di Sulawesi Utara. Kawilarang adalah seorang suku Minahasa dari sub-suku Toulour.
Dia juga merupakan sepupu dari Daan Mogot, direktur Akademi Militer Tangerang yang tewas dalam Pertempuran Lengkong yang berupaya melucuti depot tentara Jepang pada tahun 1946.
Ia adalah seorang perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) masa Revolusi Nasional Indonesia dan mantan anggota KNIL. Ia juga adalah pendiri Kesko TT yang kemudian menjadi Kopassus.
Pada tahun 1958 ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai atase militer di Amerika Serikat untuk bergabung dengan pemberontakan Permesta di mana ia harus melawan pasukan Kopassus yang ia bentuk sebelumnya.
Keterlibatannya dalam Permesta menghentikan karier militernya dengan TNI, tetapi ia tetap populer dan aktif dalam komunitas angkatan bersenjata sampai masa tuanya.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 11 Desember 1945 Kawilarang menjadi perwira penghubung dengan pasukan Inggris di Jakarta dengan pangkat mayor.[butuh rujukan] Pada bulan Oktober 1945, ia ditugaskan sebagai staf Komandemen I Jawa Barat di Purwakarta.
Pada bulan Januari 1946, ia menjadi Kepala Staf Resimen Infanteri Bogor Divisi II Jawa Barat dengan pangkat letnan kolonel.
Pada bulan Agustus 1946, ia menjadi komandan Brigade II/Surya Kencana yang meliputi Sukabumi, Bogor, dan Cianjur. Brigade ini termasuk dalam Divisi Siliwangi yang baru terbentuk.
Ia memimpin brigade ini selama Agresi Militer Belanda I. Dia juga sempat memimpin secara singkat Brigade I/Tirtayasa ketika brigade tersebut dipindahkan ke Yogyakarta.
Pada pertengahan tahun 1948, Kawilarang termasuk dalam kontingen pemerintah dan pejabat militer ke Bukittinggi di Sumatera Barat.
Pada 28 Desember 1949 ia menjabat sebagai Gubernur Militer wilayah Aceh dan Sumatera Utara merangkap Wakil Koordinator Keamanan dengan pangkat kolonel. Pada 21 Februari 1950, ia mendapatkan kepercayaan tambahan sebagai Panglima Tentara dan Territorium (TT) I/Bukit Barisan yang berkedudukan di Medan untuk mengantisipasi pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia setelah Konferensi Meja Bundar.
Selama kariernya, Kawilarang juga pernah menjadi panglima teritorial di dua komando daerah penting lainnya: Tentara dan Territorium VII/Indonesia Timur (sekarang Kodam XIV/Hasanuddin) pada bulan 15 April 1950 dan Tentara dan Territorium III/Siliwangi (sekarang Kodam III/Siliwangi) pada bulan 10 November 1951.
Pada tanggal 17 Oktober 1952, Kawilarang bersama-sama dengan sejumlah tokoh militer lainnya (antara lain AH Nasution dan TB Simatupang) terlibat dalam apa yang dikenal sebagai Peristiwa 17 Oktober, yang menentang campur tangan pemerintah dalam urusan militer.