Gunung Sinabung terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya, Kamis (3/9/2026). Cahaya merah dan asap terus ke luar dari kawah Sinabung. (IDN Times/Prayugo Utomo)
Pengalaman erupsi Sinabung pada periode sebelumnya menjadi alasan warga tidak ingin mengambil risiko. Mereka masih mengingat dampak abu vulkanik yang pernah membuat tanaman pertanian rusak.
"Dia abunya saja. Tapi abunya yang begitu besar, semua tanaman-tanaman hancur, gosong," ujar warga tersebut.
Tanaman seperti terong dan kentang menjadi salah satu yang terdampak. Abu vulkanik yang menempel pada permukaan tanaman membuat hasil pertanian warga mengalami kerusakan.
"Daun terong, daun kentang, semuanya kena abunya itu gosong," katanya.
Kondisi berbeda dirasakan warga dalam aktivitas Sinabung kali ini. Abu yang turun disebut masih tipis sehingga tanaman masih dapat dipanen.
"Kalau yang kemarin enggak. Kami sampai sekarang pun abunya belum tebal sekali," ujarnya.
Tanaman pun masih bisa dipanen. Saat ini, ada 650 warga di pengungsian Sukatepu. Meski mengungsi, mereka masih diperbolehkan ke ladang yang ada di Kuta Tengah. Sore harinya mereka kembali ke pengungsian.
Kesiapsiagaan juga dilakukan terhadap warga yang masih harus berada di desa untuk menjaga ternak.
"Truk tentara pun masih menunggu. Malam pun tentara, seandainya ada pun anak-anak kami yang tinggal di kampung, bapak-bapak untuk menjaga ternak-ternak, didampingi sama tentara. Motor pun disediakan, mobil disediakan," ujarnya.
Pengalaman panjang menghadapi aktivitas Sinabung membuat pengungsian kali ini terasa berbeda. Warga sebelumnya sempat menjalani masa pengungsian bertahun-tahun setelah erupsi pada 2010 hingga 2017.
"Yang lari itu 2010-2012. Terus pulang sebentar ke kampung, balik lagi. Sampai 2013-2017 masih di Bosko. 2016 masih di posko pengungsian. Pada 2019 sudah dipulangkan ke kampung. Setelah enam tahun, ini erupsi. Kami mengungsi lagi," pungkasnya.