Beras Mahal, Pasar Murah Harus Tepat Sasaran

Medan, IDN Times - Pengamat Ekonomi, Wahyu Ario angkat bicara terkait kenaikan harga beras. Dia mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah El Nino.
Diketahui El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.
Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.
“Penyebabnya kita sudah tahu bahwa dari tahun lalu kita ada El Nino. Asal muasalnya adalah perubahan iklim yang kemudian menyebabkan bukan hanya Indonesia. Banyak negara yang terkena dampak dari perubahan iklim ini jadi kenaikan suhu, kemudian El Nino kemarin lama dampaknya memang banyak negara yang mengalami pengurangan produksi beras,” ucap Wahyu, Sabtu (24/2/2024).
1. Beras paling banyak dikonsumsi di dunia terutama di Asia jadi berkurang produksi harga mahal

Menurutnya, beras ini paling banyak dikonsumsi di dunia terutama di Asia. Dengan berkurangnya produksi maka harga mahal.
Lanjut Wahyu, penyebab El Nino yang merupakan perubahan iklim dari kemaren menyebabkan jangka waktu yang sangat panjang. Padahal, dikatakannya El Nino itu seharusnya tidak waktu jangka panjang. Meskipun ini terjadi terus tapi tidak sepanjang sebelumnya.
“Jadi dengan lamanya periode musim kemarau di dunia, negara produsen beras mengalami kekurangan produksi,” jelasnya.
India terutama, dijelaskan Wahyu bahwa negara ini telah memberhentikan ekspor produksi berasnya karena ingin mengamankan produksi dalam negeri. Sehingga, menjadi hal wajar jika kemudian harga beras itu yang diperdagangkan lebih sedikit. Kalau sudah lebih sedikit artinya mahal.
2. Pemerintah diharapkan antisipasi stok di dalam negeri

Wahyu memberi catatan kepada pemerintah harus mengantisipasi agar stok didalam negeri tidak sampai terlalu berkurang atau langka.
“Yang penting sekarang kalaupun barangnya naik atau lebih mahal itu masih ada itu lebih penting dibandingkan barangnya sampai gak ada. Mahal pun gak ada lebih parah dibandingkan mahal tapi ada. Karena ini masalahnya adalah masalah pangan kebutuhan pokok maka perlu diantisipasi dengan cara ketersediaan stok dipantau terus,” tuturnya.
3. Diharapkan adanya pemantauan atau intervensi program pasar murah agar tepat sasaran

Kemudian, Wahyu menilai bahwa pemerintah telah mengupayakan dengan membuat program pasar murah yang ditargetkan khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Apalagi dengan kenaikan harga beras di pasar.
Namun, sangat disayangkan jika tidak ada pemantauan ataupun intervensi dari pemerintah untuk tepat sasaran dengan adanya program pasar murah tersebut.
“Jangan sampai nanti ternyata ketika ada operasi pasar pun pembelinya adalah orang-orang yang berkemampuan itu bagaimana pemerintah bisa menjamin. Jangan kembali seperti dahulu ada raskin, jadi benar-benar bantuan beras. Kemarin kan ada operasi pasar. Operasi pasar ini bisa tepat dan tidak tepat karena pembelinya tidak tahu dari kelompok mana. Apalagi belum diketahui adanya penyelewengan atau tidak. Mudah-mudahan tidak ada,” pungkasnya.

















