gambar orangutan bergelantungan di atas pohon (unsplash.com/Stuart Jansen)
Kasus tersebut memiliki relevansi langsung bagi Indonesia karena orangutan Sumatra dan orangutan Tapanuli merupakan satwa yang populasi liarnya berada di Indonesia. Sebagian besar populasi orangutan Kalimantan juga berada di wilayah Indonesia, sementara sebagian lainnya hidup di Malaysia.
Belum ada bukti yang memastikan kelima orangutan di Odisha berasal dari Indonesia. Karena itu, asal-usul mereka tetap harus dibuktikan melalui penyelidikan dan pemeriksaan ilmiah.
Namun, Indonesia memiliki alasan untuk mengikuti perkembangan kasus tersebut. Pemerintah, lembaga konservasi, laboratorium genetika, dan ahli orangutan dapat terlibat dalam identifikasi spesies, pemeriksaan kesehatan, analisis genetika, hingga kemungkinan penelusuran asal satwa.
“Belum ada bukti bahwa kelima orangutan yang ditemukan di India berasal dari Indonesia. Karena itu, kita tidak boleh mendahului hasil penyelidikan,” katanya.
Menurut Onrizal, kerja sama lintas negara penting jika hasil pemeriksaan nantinya mengarah ke Indonesia atau Malaysia. Sebab, perdagangan satwa liar lintas negara melibatkan jalur dan pihak yang tidak berhenti di satu wilayah.
Jika kelima orangutan terbukti berasal dari Indonesia, persoalannya tidak berhenti pada repatriasi. Asal populasi, kondisi kesehatan, kemampuan bertahan hidup, serta risiko penyakit perlu diperiksa sebelum menentukan apakah satwa dapat dikembalikan ke alam.
“Karena itu, urutannya harus jelas. Selamatkan terlebih dahulu, identifikasi asalnya, selidiki jalur perdagangannya, baru kemudian tentukan masa depannya.”
Onrizal menilai penyelidikan juga perlu diarahkan untuk mengungkap jaringan di balik perpindahan satwa. Perdagangan satwa liar internasional dapat melibatkan sejumlah mata rantai, mulai dari pemburu, pengumpul, perantara, pemalsu dokumen, pengemudi, pengelola titik transit, pedagang lintas negara, hingga pembeli akhir.
Pertanyaan mengenai dari mana kelima orangutan itu berangkat, jalur yang digunakan, negara transit, serta pihak yang menunggu di India menjadi bagian penting dalam penyelidikan.
“Keberhasilan yang lebih besar adalah ketika kita dapat mengetahui dari mana mereka berasal, bagaimana mereka dikeluarkan dari habitatnya, siapa yang membawa mereka melintasi negara, dan siapa yang hendak menerima atau memperdagangkannya,” ujarnya.
Bagi Onrizal, lima orangutan muda yang ditemukan jauh dari habitat alaminya tidak semestinya hanya berakhir sebagai kasus penyelamatan satwa.
“Lima orangutan muda yang ditemukan jauh dari hutan asalnya telah meninggalkan sebuah jejak,” pungkasnya.