5 Hal Unik yang Bisa Ditemui saat Ramadan di Medan

- Tradisi Asmara Subuh membuat pagi di Medan berbeda dari hari biasa.
- Hangatnya Toleransi di Antrean Takjil
- Antre Bubur Sup di Kawasan Masjid Raya
Ramadan di Medan selalu terasa seperti pulang. Ada sesuatu yang berubah begitu bulan suci tiba. Jalanan yang biasanya sibuk terasa lebih pelan. Wajah-wajah terlihat lebih ramah. Percakapan kecil di warung kopi terdengar lebih hangat dari biasanya. Kota seperti ikut menahan napas, lalu berjalan dengan ritme yang lebih lembut.
Pagi hari diisi suara kendaraan yang masih tersisa dari waktu sahur. Siang terasa teduh meski matahari tetap terik. Menjelang magrib, aroma santan, gula aren, dan gorengan menyatu dengan udara. Malamnya dipenuhi cahaya masjid dan langkah kaki orang-orang yang pulang dari tarawih. Semua bergerak dalam suasana yang terasa akrab.
Keberagaman etnis dan agama membuat Ramadan di Medan memiliki warna yang khas. Melayu, Mandailing, Minang, Jawa, China hingga Batak hidup berdampingan dan memberi sentuhan masing-masing pada suasana bulan puasa. Dari riuhnya pagi hingga hangatnya antrean takjil, ada banyak cerita yang membuat Ramadan di kota ini sulit dilupakan. Berikut lima hal yang paling terasa dan selalu hadir setiap tahun.
1. Asmara Subuh dan Riuhnya Pagi Hari

Sesudah sahur dan salat Subuh, sebagian orang memilih kembali beristirahat. Di Medan, banyak anak muda justru berkumpul di jalan. Tradisi yang dikenal sebagai Asmara Subuh membuat pagi terasa berbeda dari hari biasa.
Awalnya berupa jalan santai menikmati udara segar. Perkembangannya membuat suasana menjadi lebih ramai dengan kumpul-kumpul dan konvoi motor di beberapa ruas jalan. Ada yang menyayangkan keramaiannya, ada pula yang menganggapnya bagian dari Ramadan. Pagi hari di bulan puasa pun memiliki wajah yang khas dan sulit diabaikan.
2. Hangatnya Toleransi di Antrean Takjil

Menjelang magrib, hampir setiap sudut kota berubah menjadi tempat orang mencari makanan berbuka. Penjual kolak, gorengan, es buah, hingga Toge Panyabungan berdiri berjejer. Percakapan kecil terdengar di mana-mana.
Antrean diisi oleh berbagai latar belakang. Warga non-Muslim ikut membeli makanan untuk keluarga, teman kerja, atau sekadar menikmati suasana sore. Interaksi berlangsung alami tanpa canggung. Ramadan menghadirkan ruang pertemuan yang sederhana namun terasa bermakna.
3. Antre Bubur Sup di Kawasan Masjid Raya

Setiap sore, halaman sekitar dipenuhi warga yang membawa wadah sendiri. Mereka menunggu pembagian Bubur Sup dengan sabar.
Rasanya gurih dan hangat, pas untuk perut yang kosong sejak pagi. Lebih dari rasa, momen ini menyimpan cerita kebersamaan. Orang-orang berdiri berdampingan, berbagi senyum kecil sambil menanti azan magrib berkumandang.
4. Toge Panyabungan yang Manis dan Menenangkan

Toge Panyabungan berisi ketan hitam, tape, lupis, candil, dan siraman santan serta gula aren. Teksturnya lembut dengan rasa manis yang seimbang.
Saat disajikan dingin di tengah cuaca Medan yang panas, hidangan ini terasa menyegarkan. Banyak orang rela mengantre demi satu mangkuk kecil yang mampu menghadirkan rasa nyaman di sore hari.
5. Pakat dan Rasa Pahit yang Dicari

Pakat berasal dari rotan muda yang dibakar lalu dikupas untuk diambil bagian dalamnya. Teksturnya lembut dengan rasa pahit yang khas.
Pakat biasanya disantap bersama sambal atau anyang kelapa. Tidak semua orang langsung menyukainya, namun ada kepuasan tersendiri saat menikmati rasa getir tersebut. Seperti Ramadan itu sendiri, ada proses yang dijalani sebelum akhirnya terasa nikmat.
Ramadan di Medan menghadirkan banyak lapisan pengalaman. Ada riuh, ada hening, ada manis, ada pahit. Semua berpadu dalam satu bulan yang sama.
Ketika bulan suci berlalu, yang tertinggal sering kali adalah rasa kebersamaan. Kota terasa lebih dekat. Orang-orang terasa lebih peduli. Dan setiap tahun, rindu itu selalu datang lebih cepat dari yang dibayangkan.


















