Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Kehidupan Praka Rico, Prajurit UNIFIL yang Tewas di Lebanon
Foto Praka Rico di karangan bunga (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Serdang Bedagai, IDN Times - Praka Rico Pramudia merupakan prajurit TNI yang gugur usai diserang Israel kala menjalani tugas perdamaian di Lebanon. Pria berumur 31 tahun itu tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Meski sempat dirawat secara intensif selama 4 pekan, namun nyawa Praka Rico Pramudia tak dapat diselamatkan karena mengalami luka parah di tubuhnya.

Rico gugur bersama dengan 3 prajurit TNI lainnya yang menjalani tugas sebagai Pasukan Perdamaian PBB. Ia terkena ledakan proyektil di markasnya yang berada di Adchit Al Qusayr, Lebanon.

Sampai saat ini, keluarga masih menunggu kepulangan jenazah Praka Rico. Setelah sampai di rumah duka nanti, rencananya Rico akan disemayamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Lubuk Pakam.

IDN Times merangkum profil Praka Rico dan 5 fakta terkait kehidupannya. Putra Dolok Masihul itu gugur meninggalkan jejak yang harum sebagai seorang patriot. Gugurnya Rico membuat Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memberikan kenaikan pangkat prajurit TNI kepadanya menjadi Kopral Dua (anumerta).

1. Praka Rico memiliki kembaran bernama Rica

Kediaman Praka Rico (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Praka Rico merupakan anak ke-9 dari 10 bersaudara. Kedua orang tuanya masing-masing bernama Pairin dan Kayah.

Di rumah sederhana bercat putih dusun 7 Desa Dolok Manampang, Kecamatan Dolok Masihul, Praka Rico dilahirkan. Menurut keterangan tetangga, sejak kecil Praka Rico sudah tinggal di sini.

“Dia memang kelahiran sini, Desa Dolok Manampang. Dari kecil juga sudah di sini. Kami kenal baik dengannya. Dia anaknya mendiang Kek Pairin dan Nek Kayah. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal," kata tetangga Praka Rico bernama Ngadinah.

Perempuan tua berumur 74 tahun itu menceritakan bahwa Praka Rico terlahir kembar. Kembarannya merupakan seorang perempuan.

"Iya benar si Rico ini anak kembar. Kembarannya bernama Rica. Jadi orang sini manggilnya Rico Rica," lanjut Ngadinah.

2. Sempat jadi buruh harian lepas dekorasi pelaminan

tetangga Praka Rico, Ngadinah (IDN TIMES/Eko Agus Herianto)

Setelah lulus sekolah, Rico tidak langsung mendaftar sebagai prajurit TNI. Ia mencari pundi-pundi Rupiah sebagai seorang buruh harian lepas.

"Rico dahulu bekerja di usaha anak saya. Kira-kira 1 tahun sebelum masuk tentara,” kenang Ngadinah.

Pekerjaan Rico kala itu mengangkut dekorasi pelaminan pesta pernikahan. Bersama anak Ngadinah mereka saban hari memindahkan pelaminan ke resepsi warga desa. Bahkan sesekali mereka mengantarnya ke luar kota.

"Bahkan saat mau nyoba tes masuk tentara dia pamit sama anak saya. Rico bilang, ‘Bang, aku mau masuk tentara. Kalau aku enggak diterima, nanti aku kerja sini lagi ya, Bang’ katanya gitu sama anak saya. Alhamdulillah dia diterima,” cerita Ngadinah haru.

3. Dikenal sebagai sosok yang ramah dan saleh

Foto Praka Rico di karangan bunga (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Rico Pramudia dikenal warga sebagai sosok tentara yang sangat baik dan ramah. Bahkan sebelum jadi prajurit ia sudah dikenal warga sebagai pribadi yang saleh.

“Dari lajang pun dia anaknya sopan, baik, rajin beribadah. Enggak sombong lagi. Jadi tentara pun dia enggak sombong sama orang-orang di sini. Kalau datang kita, dia keluar rumah dan langsung menyalami,” beber Ngadinah.

Bukan cuma kegiatan bersosial dengan warga kampung, di Instagram pribadinya, ia kerap mengunggah postingan dakwah. Ia juga sering membagikan kajian salah satu ustadz ternama.

"Memang saleh anaknya. Rico juga saya kenal sebagai pribadi yang bertanggung jawab," timpal Hendri Sudani, teman satu kampung Rico Pramudia yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dusun 7 Sukajadi, Desa Dolok Manampang.

4. Sebelum jadi tentara, Rico tergabung dalam klub sepak bola kampung

Kepala Dusun 7 Sukajadi Desa Dolok Manampang, Kecamatan Dolok Masihul, Hendri Sudani (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Kepada IDN Times, Hendri berbicara banyak mengenai figur Praka Rico. Mereka dulu sering bermain bola sebelum Rico mencoba peruntungan mendaftar sebagai anggota TNI.

"Di sini ada klub sepak bola, Rajawali FC namanya. Ya, termasuklah almarhum ini pemain sepak bola juga. Gabung seringlah. Saya juga sering bareng sama dia," kenang Hendri.

Sebagai teman sekampung, ia turut mengingat momen-momen bersama Rico. Beberapa kali mereka pernah berwisata bersama sebelum menapaki bahtera rumah tangga.

"Kenangan yang tak bisa dilupakan saat sama dia, mungkin main-main barenglah. Waktu kami masih lajang, ya, jalan-jalan sampai ke Danau Toba bareng," pungkasnya.

5. Dapat gelar kehormatan Kopda (Anumerta)

Gladi Resik pemakaman Kopda Rico di Makam Pahlawan Lubuk Pakam (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Dedikasi Praka Rico membuat dirinya mendapat kenaikan pangkat Kopral Dua (Anumerta). Hal ini secara terbuka disampaikan oleh Puspen TNI melalui Instagram resminya.

"Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto beserta seluruh jajaran menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya prajurit terbaik bangsa, Kopda Rico Pramudia, dalam tugas sebagai bagian dari Satgas Yonmek TNI Kontingen Garuda XXIII-S/UNIFIL di Lebanon. Pengabdian, keberanian, dan dedikasi almarhum menjadi teladan bagi seluruh prajurit dan bangsa Indonesia." Begitulah isi postingan Puspen TNI.

Gugurnya Rico dianggap kehilangan besar di tubuh institusi TNI. Namun semangat juangnya disebut Jenderal TNI Agus Subianto akan terus hidup sebagai inspirasi dalam menjaga perdamaian dunia.

Jenazah Praka Rico dikabarkan akan tiba di Medan Selasa (28/4/2026) malam nanti. Ia akan disemayamkan di Taman Makam Pahlawan esok harinya.

Editorial Team