Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Dekade ET 45 Dukung Musisi Medan, Dorong Kolaborasi Lintas Genre
In Release 2 menghadirkan Founder ET 45 Hans Teo (kiri), Jumat (7/8/2026) (dok.In Release)
  • ET 45 selama lebih dari 40 tahun mendukung ekosistem musik Medan lewat ruang promosi dan distribusi rilisan fisik bagi musisi lokal maupun dari daerah lain.
  • Melalui In Release02 di Serayu Cafe and Space, ET 45 mengajak musisi membangun kepercayaan diri dan kolaborasi lintas genre untuk menciptakan karya segar serta menjangkau pendengar baru.
  • WITA membawakan lima lagu dari mini album Memoir of the Music Man, sementara Filsafatian menampilkan lima lagu dan memperkenalkan Protest Prayer serta Hanya dari mini album mendatang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times- Lebih dari empat dekade hadir di Kota Medan, toko kaset fisik legendaris ET 45 terus mengambil bagian dalam perjalanan ekosistem musik lokal. Tak hanya menjadi ruang bagi pencinta musik, ET 45 juga membuka kesempatan bagi musisi dan band Medan untuk memperkenalkan hingga mengedarkan karya mereka.

Komitmen tersebut kembali terlihat melalui In Release02 yang digelar di Serayu Cafe and Space, Jumat (7/8/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan musisi, komunitas, dan penikmat musik untuk berbagi cerita sekaligus menikmati karya-karya musisi lokal.

Owner ET 45, Hansen Teo, mengatakan musisi dan band Medan perlu memiliki kepercayaan diri serta keberanian untuk terus mencoba hal baru. Menurutnya, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membuka kolaborasi lintas musisi dan genre.

"No music no life, life without music must be mistaken. Musisi atau band harus punya self confidence dan berani mencoba hal baru. Misalnya berkolaborasi dengan musisi atau band di luar genrenya agar menghasilkan karya baru yang lebih segar dan bisa diterima di segmen fan base masing-masing," ungkap Hansen.

1. Keluar dari batas genre dapat membuka peluang lahirnya karya yang lebih segar

In Release 2 menghadirkan Founder ET 45 Hans Teo, WITA dan Filsafatian, Jumat (7/8/2026) (dok.In Release)

Menurut Hansen, keberanian untuk keluar dari batas genre dapat membuka peluang lahirnya karya yang lebih segar sekaligus mempertemukan basis pendengar yang berbeda.

Selama lebih dari 40 tahun, ET 45 juga konsisten memberikan ruang bagi musisi dan band asal Medan maupun daerah lainnya. Salah satu bentuk dukungan tersebut dilakukan dengan memberikan kesempatan bagi musisi yang memiliki rilisan fisik untuk menitipkan dan mengedarkan karya mereka melalui gerai ET 45.

Bagi ET 45, dukungan terhadap musisi lokal menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem musik Medan agar terus tumbuh. Karya musisi tidak hanya mendapatkan ruang untuk dipentaskan, tetapi juga memiliki kesempatan menjangkau lebih banyak pendengar.

2. WITA Bawa Energi Rock Alternatif

WITA saat beraksi di In Release 2, Jumat (7/8/2026) (dok.In Release)

Semangat tersebut kemudian terlihat dalam rangkaian In Release02 melalui penampilan sejumlah band lokal. Salah satunya WITA, unit rock alternatif asal Medan yang terbentuk sejak 2021.

WITA kini beranggotakan Hawdy Anders Laifa (drum), Riansyah (bass), dan Aldi Renaldi (vokal/gitar). Dalam sesi live interview, ketiganya menceritakan asal-usul nama WITA yang ternyata berawal dari kebiasaan mereka datang terlambat ketika jadwal latihan.

"Jadi kalau janji mau latihan jam waktu Indonesia mana nih? Waktu Indonesia Tengah (WITA)," ungkap Hawdy, Riansyah, dan Aldi.

Usai sesi wawancara, WITA langsung tampil membawakan lima lagu dari repertoar mini album debut mereka, Memoir of the Music Man.

Penampilan energik tersebut ditutup dengan single Son of Adam yang semakin menghidupkan suasana In Release02.

3. Filsafatian andalkan kejujuran dalam menulis lirik

Filsafatian saat beraksi di In Release 2, Jumat (7/8/2026) (dok.In Release)

Setelah WITA, giliran Filsafatian yang hadir dalam sesi live interview. Band ini tampil dengan formasi lengkap, yakni Santus (vokal/gitar), Boim (gitar/vokal), Restu (bass), dan Acie (drum).

Dalam kesempatan tersebut, Filsafatian berbagi cerita mengenai proses kreatif mereka dalam menghasilkan lirik yang kritis sekaligus tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Bagi Filsafatian, tidak ada formula khusus untuk memilih kata-kata yang terdengar puitis. Mereka justru mengandalkan kejujuran dalam menuangkan apa yang dirasakan ke dalam karya.

"Kita tidak punya kiat memilih diksi-diksi yang puitikal atau kiat lainnya. Kami hanya menulis lirik yang jujur sesuai dengan apa yang kami rasakan," ungkap Filsafatian.

Setelah sesi wawancara, Filsafatian tampil membawakan lima lagu. Penampilan mereka dibuka dengan Pening Dan Berang.

Filsafatian juga memperkenalkan dua lagu yang akan menjadi bagian dari mini album terbaru mereka yang segera dirilis, yakni Protest Prayer dan Hanya.

Editorial Team

Related Article