Ilustrasi ternak sapi. (IDN Times/Prayugo Utomo)
Idul Adha tentu identik dengan hewan kurban. Di masa pandemik ini, para penjual hewan baik itu berupa sapi ataupun kambing terkena imbas. Apalagi di masa PPKM darurat yang menerapkan peraturan lebih ketat.
Suara-suara keresahan dari para penjual hewan pun terdengar nyaring.Betapa tidak, hewan-hewan kurban yang dipajang di lapak masih banyak lantaran tak laku. Salah satu penjual hewan kurban di kawasan Ketintang, Surabaya, Purnomo mengeluh. Dari 60 sapi yang dipajang, hingga saat ini baru terjual enam ekor saja. Sehingga saat ini masih tersisa 54 sapi.
"Lumayan tahun lalu, 20 ekor terjual satu minggu sebelum Idul Adha. Sekarang yang laku baru enam ekor," ucap Purnomo.
"Karena sekarang orang jarang keluar, saya menawarkan ke masjid dan musala. Akhirnya saya juga keliling umumkan ke kampung dan perumahan sekitar," ungkapnya.
Di Medan, salah seorang pedagang hewan kurban, Solahuddin merasakan betul dampak pandemik. Padahal biasanya setiap Idul Adha dia bisa meraup untung besar. Saat H-4 Idul Adha, dia baru menjual beberapa. “Sangat sepi dari tahun sebelumnya. Ini baru 20 persen penjualan,” ujar Solahuddin.
“Biasa kami menyediakan di sini sampai 130 ekor. Tapi kalau sekarang hanya 70-an ekor,” ungkapnya.
Begitu juga dengan Taufik Ismail, salah seorang pedagang di Semarang. Pria yang bisa berjualan sapi hingga ke Bandung, Jakarta dan Banten ini juga berkeluh soal penurunan jualannya. Soalnya banyak juga konsumen yang membatalkan.
“Untuk penjualan kita sangat drastis turunnya, bisa hampir 50 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah ini sekitar 100 ekor, kalau tahun kemarin bisa 250 sampai 300 ekor. Saya khususnya sapi yang gede-gede untuk para pejabat khususnya banyak yang dibatalin pengaruh PPKM ini,” kata Taufik.
Sementara Kusnadi seorang pedagang di Surabaya sudah sejak awal mengantisipasi. Ia berjaga-jaga untuk menghindari kerugian dengan hanya membawa setengah dari stok kambing biasanya.
"Kalau biasanya saya bawa 300-an. Tapi tahun ini saya sudah antisipasi jadi cuma bawa 120-150 kambing. Cuma setengah," sebut pria asal Lumajang itu.
Ia terpaksa menaikkan harga kambingnya untuk menuruti protokol kesehatan bagi pedagang kambing. Ia harus memastikan dirinya dan para karyawannya sudah divaksin, diswab, dan dalam keadaan sehat agar bisa melayani para pelanggan dengan nyaman.
"Untuk memeriksa dan menjaga kesehatan kambingnya juga bertambah. Jadi printilannya itu tambah banyak," imbuhnya.
Selain itu pedagang juga tak bebas masuk ke pasar. Seperti di Pasar Hewan Siono Harjo, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, banyak pedagang dan pembeli yang terpaksa putar balik karena diharuskan menunjukkan surat bebas COVID-19 agar bisa masuk ke pasar hewan sesuai aturan PPKM Darurat.
Petugas kepolisian bersama Satpol PP dan Dinas Perhubungan melakukan penyekatan di jalan masuk menuju pasar hewan terbesar di Gunungkidul. Setiap pengendara oleh petugas ditanyai membawa surat bebas COVID-19 atau rapid tes antigen.
Akhirnya banyak pedagang dan pembeli bertransaksi di pinggir jalan. Para pedagang hewan ini berhenti di jalan Yogya-Wonosari, pertigaan Kepil dan sekitar RS PKU Muhammadiyah Wonosari.