5 Alasan Memilih Salat Id di Masjid Raya Al Mashun

Gema takbir berkumandang dari puncak menara Masjid Raya Al Mashun pada Hari Raya Idul Adha di Kota Medan, Senin (17/6/2024) pagi. Menara setinggi 45 meter itu berjarak sekitar 20-an meter dari bangunan utama masjid.
Usai salat subuh, jemaah terus berdatangan. Hanya sebentar saja, masjid sudah penuh. Menyisakan barisan depan yang kosong karena akan ditempati oleh Sultan Deli dan kerabatnya.
Di selasar masjid, jemaah terus berdatangan. Hanya itungan menit, selasar juga penuh.
Takbir terus dikumandangkan dari dalam masjid, diikuti jemaah. Tepat pukul 08.00 WIB, Sultan Deli Yang Maha Mulia Seri Paduka Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah atau cukup disingkat Tuanku Aji tiba di gerbang utama masjid. Tuanku Aji kemudian masuk diiringi takbir sebagai tanda salat Ied akan dimulai. Prosesi seperti ini hanya ada saat lebaran.
Masjid Raya Al Mashun selalu menjadi tujuan warga hingga wisatawan saat hari raya. Ada beberapa alasan, kenapa masjid yang dibangun pada 1906 silam ini bisa menjadi tujuan untuk tempat melaksanakan salat Ied.
1. Berkesempatan bertemu dengan Sultan Deli secara langsung

Salah satu alasan kenapa menjadikan Masjid Raya Al Mashun sebagai lokasi salat Id, karena kita bisa bertemu langsung dengan Sultan Deli. Tuanku Aji selalu menyempatkan diri menajalankan salat Ied di masjid yang dibangun oleh pendahulunya itu.
Tuanku Aji langsung berangkat dari Istana Maimun dengan sanak saudaranya. Ciri khasnya, dia selalu mengenakan pakaian adat Melayu. Nuansa Melayu yang kental seolah mengembalikan ingatan pada era lampau.
Setelah salat Id, biasanya Tuanku Aji menyempatkan diri menyapa warga. Laki-laki kelahiran 1998 ini pun tidak menolak jika diajak berfoto dengan jemaah.
2. Bisa ikut tradisi menjunjung duli di Istana Maimun

Seusai salat Id di masjid, Kesultanan Deli biasanya akan melaksanakan tradisi menjunjung dulu. Tradisi ini hanya digelar ketika hari raya. Baik Idul Fitri atau pun Idul Adha.
Antara Istana Maimun dan Masjid Raya Al Mashun tidak lah terlalu jauh. Sekitar tujuh menit jika berjalan kaki.
Usai salat id, para pemimpin di kesultanan berkumpul di Istana. Layaknya acara bermaaf-maafan, hadirin yang ikut dalam Menjunjung Duli menghadap ke Pemangku Sultan. Menjadi pengalaman menarik bisa melihat langsung bagaiman tradisi Kesultanan Deli merayakan hari raya.
Saat menjunjung duli, warga yang datang juga bisa menikmati sajian khas Melayu. Semuanya secara gratis.
3. Berlomba datang lebih awal supaya bisa salat di dalam masjid

Menjadi pengalaman yang menarik ketika harus berlomba-lomba sepagi mungkin datang ke masjid supaya bisa salat di dalam bangunan utama. Karena ketika datang lebih lama, kita hanya bisa mendapat barisan di selasar.
Bahkan, ketika lebih lama lagi datang, kita hanya mendapat barisan di luar areal masjid. Karena biasanya, jemaah meluber hingga ke jalan raya.
4. Sempatkan untuk berfoto dengan arsitektur klasik

Setelah salat id, jangan langsung pulang. Sempatkanlah sebentar untuk berfoto di depan masjid. Baik bersama keluarga atau pun kerabat. Tentunya ini menjadi kenang-kenangan yang baik.
Masjid Raya Al Mashun adalah ikon Kota Medan. Menjadi destinasi wisata religi bagi wisatawan lokal, bahkan mancanegara.
Wisatawan selalu takjub dengan arsitektur bikinan orang Belanda bernama Van Erp yang lalu diteruskan oleh J.A Tingdeman. Pembangunan memakan waktu tiga tahun dan rampung pada 1909.
Masjid dibangun dengan pengaruh gaya arsitektur khas India, Spanyol dan Timur Tengah. Masjid dirancang berbentuk segi delapan. Menjadi bukti sejarah Kesultanan Deli yang tersohor di masa kejayannya. Masjid dibangun dimasa kepemimpinan Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam. Tepatnya pada 21 Agustus 1906 dan rampung pada 10 September 1909.
Konon katanya, pembangunan masjid memakan biaya satu juta gulden (mata uang Belanda dulu) . Memang sangat mewah. Karena sultan berprinsip rumah ibadah harus lebih mewah ketimbang istananya.
Pendanaan pembangunan masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan. Namun konon Tjong A Fie, tokoh Tionghoa dari Kota Medan yang sezaman dengan Sultan Ma’mun Al Rasyid turut berkontribusi mendanai pembangunan masjid ini.
5. Bisa bertemu teman baru dari luar kota hingga luar negeri

Dua kali setahun, masjid Raya Al Mashun selalu padat. Jemaah berdatangan tidak hanya dari Kota Medan. Melainkan dari berbagai daerah. Bahkan ada jemaah yang datang dari luar negeri, seperti Thailand dan Malaysia. Momen ini bisa menjadi kesempatan untuk menemukan teman baru.


















