Comscore Tracker

Penyakit Alzheimer, Dianggap Remeh Berujung Penyesalan

Jangan maklum dengan pikun!

Medan, IDN Times - Penyakit Demensia Alzheimer bagi banyak kaum menjadi tanda tanya. Banyak yang tak tahu tentang penyakit ini. Penyakit ini mencuat saat legenda tinju dunia, Mohamad Ali divonis menderita penyakit ini.

Dari ketidaktahuan dan ketidakingintahuan (remeh) dapat berujung pada penyesalan. Hal ini merupakan kenyataan yang disampaikan oleh Koordinator Wilayah ALZI Medan, dr Fasihah Irfani Fitri.

Ia mengatakan seorang mengenang Ibunya terkena demensia Alzheimer sebelum wafat. Momen ini menjadi spesial bagi Fasihah sebagai bentuk inspirasi bagi orang yang
telah sadar akan pentingnya penyakit Alzheimer.

"Dia nangis, dia cerita orangtuanya (Ibunya) sudah meninggal tetapi dia baru tahu bahwa d itahun-tahun terakhir mendekati (wafat) ibunya itu terkena demensia dan dia marah. Udah disuruh apa-apa gak tahu. Disuruh mandi gak mau. Disuruh makan berulang-ulang dan dia marah. Setelah ibunya meninggal, dia hadir di salah satu edukasi kita dan selesai itu dia datangi saya dan bercerita. Sekarang dia menyesal," kata Fasihah.

Dirinya mengatakan Demensia Alzheimer luput dari perhatian. Padahal di sekitar mereka memiliki orang lansia. Edukasi taak mesti kalangan lansia saja, malah justru generasi muda. 

1. Berbagai macam tantangan dalam mengedukasi pengidap Alzheimer

Penyakit Alzheimer, Dianggap Remeh Berujung PenyesalanKegiatan ALZI Medan dalam edukasi pengidap Demensia Alzheimer (Dok. Istimewa)

Fasihah mengatakan bahwa, lewat berbagai kegiatan ALZI Medan bertujuan untuk meningkatkan kualitas orang dengan demensia alzheimer.

"Ada beberapa pilar kegiatan ALZI, salah satunya adalah edukasi kemudian kegiatan untuk meningkatkan kewaspadaan dari masyarakat secara luas terhadap Demensia secara umum maupun Demensia Alzheimer secara khusus. Jadi kegiatannya pertemuan rutin yang dilakukan untuk saling berbagi atau sharing dan menjadi wadah edukasi," ujarnya.

"Sebelum pandemik biasanya kita melakukan kegiatan sekali perbulan sesuai dengan kebutuhan dengan didampingi oleh pihak keluarga terdekat yang mau menemani," tambahnya.

Berbagai macam tantangan saat memberikan edukasi, seperti membuat grup dan salah satu ODD (Orang Dengan Demenesia Alzheimer) ada yang mulai suka keluar rumah, dan yang sudah lebih duluan menghadapinya. Sehigga harus dilakukan edukasi ekstra dengan materi-materi ringan untuk dapat diterapkan.

"Kita juga berikan training-training atau pelatihan. Meskipun sifatnya masih terbatas, "tuturnya.

Baca Juga: Hari Alzheimer Sedunia, Benarkah Penyakit Alzheimer Berbahaya?

2. Fasihah: Masyarakat lebih aware mendengar stroke dan jantung

Penyakit Alzheimer, Dianggap Remeh Berujung PenyesalanKegiatan ALZI Medan dalam edukasi pengidap Demensia Alzheimer (Dok. Istimewa)

Menurut Fasihah, hpenyakit ini merupakan prioritas bagi kesehatan masyarakat. Gak kalah berbahaya dengan penyakit lainnya.

"Mungkin masyarakat kalau mendengar stroke dan jantung itu lebih aware (menyadari). Jadi ketika kita edukasi animonya secara umum belum sebesar," ucapnya.

Fasihah mengakui, untuk mengedukasi tentang demensia alzheimer sudah 500-an orang yang didominasi rentang usia 50 tahun keatas. Disamping itu juga
tanpa disadari teredukasi anak muda saat menemani ODD ketika berkonsultasi.

"Secara kuantitas itu masih sedikit. Berharap bisa banyak yang teredukasi meskipun melalui online dengan media sosial seperti channel Youtube ALZI Medan," ucapnya.

Fasihah mengatakan penanganan Alzheimer butuh penanganan yang khusus, saat ini Pemerintah baginya sudah banyak membantu. Namun, perlu implementasi regulasi. Sehingga, lansia yang berusia 60tahun dapat langsung datang ke Puskesmas terdekat untuk bisa diedukasi karena bukan cuma obat yang dibutuhkan dan jika ada pasien yang mengkhawatirkan maka dapat dirujuk ke RS untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Jadi sebenarnya regulasi sudah ada. Tinggal bagaimana kita mengimplementasikan. Fungsinya bagi saya edukasi menjadi prioritas," jelasnya.

"Harapan saya, masyarakat memiliki rasa ingin tahu tentang Demensia Alzheimer. Minimal gejalanya, dan dukungan para pengidap kedepannya nanti bagaimana, baik untuk masyarakat dan Pemerintah.

3. Ada sepuluh gejala yang wajib diketahui

Penyakit Alzheimer, Dianggap Remeh Berujung PenyesalanKegiatan ALZI Medan dalam edukasi pengidap Demensia Alzheimer (Dok. Istimewa)

Untuk informasi, Penyakit Alzheimer adalah gangguan penurunan fungsi otak yang mempengaruhi daya ingat, emosi, perilaku dan fungsi otak lainnya. Satu dari 10 orang yang berusia diatas 65 tahun mengidap Alzheimer. Setiap 3 detik ada satu orang terdiagnosa Alzheimer di dunia, dan belum bisa disembuhkan. Obat yang ada, hanya untuk memperlambat progresivitas dan mengatasi gejala Alzheimer. Maka kurangi risiko terkena Alzheimer dan kenali 10 gejala umum Alzheimer.

1. Gangguan daya ingat yaitu, seperti sering lupa akan kejadian yang baru saja terjadi, menceritakan dan menanyakan hal yang sama berulang-ulang,lupa akan satu hal dalam frekuensi yang terlalu sering.

2. Sulit fokus contohnya, melakukan hal biasa dan sederhana menjadi lebih susah dan perlu waktu lama

3. Sulit melakukan kegiatan sehari-hari, contohnya sering kali sulit untuk merencanakan atau menyelesaikan tugas sehari-hari, bingung cara mengatur keuangan, bahkan bingung cara mengemudi

4. Disorientasi waktu dan tempat, contohnya bingung akan waktu dimana mereka berada dan tidak tahu jalan pulang.

5. Susah memahami visuospasial, contohnya kesulitan mengukur jarak, membedakan warna, tidak mengenali wajah sendiri di cermin, menabrak cermin, atau pintu kaca ketika berjalan serta kesulitan mencari jalan keluar yang sebelumnya dilalui.

6. Gangguan berkomunikasi. Contohnya dapat dilihat dari kesulitan berbicara, mencari kata yang tepat didalam sebuah percakapan serta bingung
untuk melanjutkannya.

7. Menaruh barang tidak pada tempatnya sebagai contohnya menyimpan tidak pada tempatnya bahkan kadang curiga atau menyembunyikan barang tersebut sehingga berdampak poada orang-orang di sekitarnya

8. Salah membuat keputusan yang meliputi bingung menentukan suatu hal, susah menghitung, berpakaian tidak serasi atau terbalik dan lain sebagainya

9. Menarik diri dari pergaulan biasanya tanpa alasan dan tidak memiliki inisiatif untuk melakukan aktivitas yang biasa dinikmati, cenderung diam saja
dengan mata menerawang.

10. perubahan perilaku dan kepribadian seperti contohnya orang berubah menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung, hal kecil dapat memicu kemarahan hingga meleedak yang berlebihan, iritabilitas, depresi, mudah kecewa dan putus asa.

Jika kesepuluh gejala itu ada, maka tindakan selanjutnya adalah memeriksakan ke dokter, meminta untuk diberikan deteksi dini, serta pemeriksaaan
lebih lanjut dan bergabung dengan komunitas peduli Alzheimer dilingkungan.

Serta untuk tindakan mengurangi resiko terkena Alzheimer dsarankan untuk melakukan olahraga teratur, menerapkan pola makan yang sehat dan gizi seimbang, melatih otak secara berkala, berpikiran positif, dan beraktifitas produktif.

Jangan maklum dengan pikun. Lupa dan kehilangan daya ingat bukanlah bagian normal dari penuaan #MelawanPikun.

Baca Juga: Mengenal Alzheimer Lebih Dalam, Kurangi Faktor Risikonya

Topic:

  • Doni Hermawan
  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya