5 Fakta Unik Masjid Al-Musannif, Dari Mimpi hingga Gerakan 99 Masjid

- Masjid Al-Musannif di Deli Serdang dibangun berawal dari mimpi almarhum H. Anif Shah saat berhaji, yang kemudian diwujudkan menjadi rumah ibadah penuh makna.
- Arsitekturnya memadukan unsur Timur Tengah, Melayu, Yunani Kuno, dan Eropa, menciptakan harmoni lintas budaya yang unik dan menenangkan bagi pengunjungnya.
- Melalui yayasan pengelola, masjid ini aktif dalam kegiatan sosial serta menginisiasi gerakan pembangunan 99 masjid di berbagai daerah Indonesia.
Pagi di Cemara Asri berjalan seperti biasa. Jalanan yang riuh di depannya, deretan ruko berderet rapi. Lalu di satu titik, kubah hijau itu terlihat lebih dulu daripada bangunannya. Ia tak mencolok, tapi cukup untuk membuat orang menoleh dan memperlambat langkah.
Dan di halaman masjid, suasananya cenderung lebih tenang. Ada yang datang untuk salat, ada yang sekadar duduk di serambi. Sesekali burung pun melintas rendah, suara sayapnya terdengar tipis di udara. Di tempat ini, waktu terasa bergerak lebih pelan.
Masjid indah itu pun bernama Al-Musannif yang terletak di Deli Serdang. Punya banyak cerita tapi bukan saja karena bentuknya yang berbeda, tetapi juga karena cerita dan gagasan yang menyertainya. Berikut lima hal yang membuatnya layak dikenal lebih dekat.
1. Berawal dari mimpi di Tanah Suci

Pembangunan masjid ini tidak lepas dari pengalaman pribadi almarhum H. Anif Shah. Saat menunaikan ibadah haji di Makkah, ia bermimpi bertemu seorang jamaah asal Afrika dengan tato kecil bergambar siluet masjid di tangannya. Mimpi itu sederhana, tetapi membekas.
Sepulang dari Tanah Suci, niat untuk membangun masjid tumbuh menjadi kenyataan. Masjid ini kemudian berdiri sebagai wujud dari keyakinan yang ia rasakan saat itu. Bagi sebagian orang, kisahnya mungkin terdengar personal. Namun dari sanalah semuanya berawal.
2. Perpaduan arsitektur lintas budaya

Begitu masuk ke dalam, detailnya mulai terlihat satu per satu. Jendela kaca patri berwarna memantulkan cahaya dengan lembut. Kaligrafi terpasang rapi, menyatu dengan ornamen yang tidak sepenuhnya lazim ditemui di masjid pada umumnya.
Ada motif meander khas Yunani Kuno di bagian tertentu, berdampingan dengan ukiran Julun Kacang dari tradisi Melayu. Unsur Timur Tengah dan sentuhan Eropa juga terasa. Perbedaannya tidak saling menonjolkan diri, tapi saling mengisi.
3. Berdiri di tengah masyarakat yang beragam

Masjid ini berada di sekitaran kawasan hunian dengan latar belakang warga yang beragam, termasuk non-Muslim. Keberadaannya tidak menciptakan jarak. Aktivitas berjalan seperti biasa. Warga tetap berinteraksi, saling menyapa, berbagi ruang.
Di kompleks yang tidak jauh dari masjid, terdapat kawasan rawa yang menjadi habitat burung bangau dan kuntul. Saat burung-burung itu melintas di sekitar kubah, suasananya terasa lebih hidup sekaligus tenang. Pemandangan yang jarang ditemukan di tengah kawasan perumahan.
4. Kerja sosial yang bergerak rutin

Pengelolaan masjid tidak berhenti pada kegiatan ibadah. Yayasan menyediakan sekitar 20 unit kendaraan yang berkeliling membersihkan masjid dan musala di berbagai daerah tanpa biaya. Kegiatan ini dilakukan rutin.
Setiap Jumat, bantuan beras juga dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Aktivitasnya tidak selalu terlihat dari luar, tetapi dampaknya dirasakan langsung oleh mereka yang menerima.
5. Target 99 masjid di berbagai daerah

Dari satu masjid di Cemara Asri, gagasan itu berkembang lebih jauh. Yayasan mencanangkan pembangunan 99 masjid di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga Januari 2025, pembangunan telah mencapai masjid ke-50 di Bantul, Yogyakarta. Langkahnya bertahap, tetapi konsisten. Dari Deli Serdang, gagasan itu menjangkau Sumatra Utara, Riau, hingga Pulau Jawa.
Masjid Al-Musannif berdiri dengan begitu banyak cerita, dengan kerja yang pelan tapi pasti. Di tengah kawasan yang tidak terlalu rapi, masjid ini menghadirkan ruang yang tenang tempat orang datang, beribadah, dan pulang dengan langkah yang mungkin sedikit lebih ringan.


















