Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Prediksi Dampak Peran Iran-Amerika-Israel terhadap Ekonomi Sumatra Utara

Prediksi Dampak Peran Iran-Amerika-Israel terhadap Ekonomi Sumatra Utara
Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
  • Ekonom Gunawan Benjamin menilai inflasi Sumut pada Maret dipicu oleh kenaikan harga daging ayam dan emas, sementara beberapa komoditas hortikultura berpotensi alami deflasi.
  • Perang Iran–AS disebut dapat mengubah proyeksi inflasi karena berpotensi menaikkan harga pangan impor seperti kedelai dan gandum yang berdampak pada produk olahan lokal.
  • Kenaikan biaya transportasi laut juga diwaspadai akibat potensi gangguan di Selat Hormuz, yang bisa memicu lonjakan biaya distribusi dan asuransi barang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Medan, IDN Times-Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, menyoroti dampak memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat terhadap perekonomian Indonesia, khususnya di Sumatra Utara. Ia menyebutkan bahwa Sumut mencatatkan inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan (month to month) pada Februari lalu.

Sejumlah komoditas yang mendorong inflasi antara lain tomat, cabai merah, daging ayam, emas perhiasan, udang basah, daging sapi, serta berbagai komoditas hortikultura lainnya.

“Dan seperti perkiraan sebelumnya, Gunungsitoli masih akan mencatatkan deflasi pada Februari, setelah sempat mengalami laju inflasi yang cukup tinggi pada Desember 2025,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

1. Perang berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pangan

Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)
Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

Dia menilai bulan Maret ini, Sumut diperkirakan akan mengalami inflasi pada komoditas daging ayam, dan harga emas.

"Dan berpeluang mencetak deflasi dari komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai hijau, cabai merah, serta minyak goreng. Pada dasarnya saya melihat Sumut berpeluang untuk cenderung mencetak deflasi dibandingkan dengan inflasi di bulan ini," ungkap Gunawan.

"Namun, perang Iran dengan AS bisa mengubah perhitungan saya. Karena perang tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pangan seperti kedelai yang berpeluang memicu kenaikan harga tahu dan tempe, serta gandum yang berpeluang memicu kenaikan pada produk olehan tepung seperti roti, biskuit maupun kue olahan lainnya," sambungnya.

2. Daging ayam dan emas akan berkontirbusi pada pembentukan inflasi di Maret

ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)
ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)

Menurutnya, gambaran yang lebih memungkinkan terjadi berdasarkan hasil perhitungan Gunawan, daging ayam dan emas akan berkontribusi pada pembentukan inflasi di bulan Maret.

"Saya menghitung pasokan daging ayam memang alami kenaikan jelang idul fitri nanti. Meskipun disisi lainnya saya mengkuatirkan konsumsi yang bisa saja melompat diatas jumlah pasokan yang ada. Saat ini harga daging ayam di kota medan terpantau berada dikisaran Rp42.500 hingga Rp46.000 mengacu PIHPS kota Medan," ucapnya.

3. Harga emas perhiasan diproyeksikan naik dalam waktu dekat seiring dengan memburuknya tensi geopolitik global

ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)
ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Selain itu, harga emas berpeluang untuk bergerak naik dan bertahan mahal selama bulan maret ini. Dia menilai pemicunya adalah peralihan investasi ke instrumen save haven seperti emas, yang membuat harganya alami kenaikan dikisaran $5.300 hingga $5.400 per ons sejauh ini. Harga emas perhiasan diproyeksikan naik dalam waktu dekat seiring dengan memburuknya tensi geopolitik global.

Saat ini, menurutnya banyak pelaku usaha yang mulai mengkhawatirkan dampak perang terhadap pembentukan harga kebutuhan di lapangan. Meskipun sejauh ini perang belum memicu kenaikan harga BBM di tanah air, namun sejumlah harga kebutuhan pangan impor sudah menunjukan kenaikan harga. Harga gandum berada di kisaran $5.75 per bushel, dan harga kacang kedelai di kisaran $11.5 per bushel.

"Dan tidak berhenti disitu, biaya transportasi khususnya laut berpeluang alami lonjakan. Ditutupnya selat hormuz karena perang berpeluang mendorong kenaikan biaya asuransi. Termasuk juga berpotensi meningkatkan biaya jasa distribusi barang di perusahaan pelayaran karena ada potensi gangguan supply kontainer maupun kapal. Walaupun belum bisa dipastikan apakah gangguan perang ini akan mengganggu jasa layanan Lolo (lift on – lift off) perusahaan depo kontainer di pelabuhan," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More