Comscore Tracker

Masih Banyak Peninggalan Belanda, Potret Kota Medan Dahulu Vs Sekarang

Gedung-gedung bersejarah masih kokoh berdiri

Medan, IDN Times - Tahun ini, Kota Medan berusia 431 tahun. Kota ini merupakan kota terbesar di luar Pulau Jawa dan kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya Kota Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat.

Ada banyak Perubahan Kota Medan Tempo Doeloe dan Sekarang di Medan. Namun banyak bangunan-bangunan berarsitektur khas Belanda yang masih kokoh berdiri.

Berikut tiga foto kolase dulu vs sekarang lokasi bersejarah di Kota Medan.

Baca Juga: Udah Tahu Belum? Ini 9 Tempat Wisata yang Lagi Hits di Deli Serdang 

1. Gedung Lonsum

Masih Banyak Peninggalan Belanda, Potret Kota Medan Dahulu Vs SekarangPotret Gedung Lonsum pada 1909 dan 2020 (Dok. Gedung Arsip Pemko Medan, IDN Times/Indah Permata Sari)

Pada akhir abad ke 19, daerah Kesawan yang tadinya hanya berupa kampung biasa lambat laun telah berubah menjadi distrik komersial dan ekonomi di kota Medan. Jalan Kesawan diramaikan dengan berdirinya beberapa kantor perusahaan dagang, toko/kedai, bank dan restoran. Salah satu bangunan peninggalan era kolonial dan yg cukup terkenal ialah bekas kantor Perkebunan karet Harrisons & Crosfield atau kini disebut Gedung London Sumatra (Lonsum). Jalan Ahmad Yani tepat di depan Merdeka Walk

Gedung Lonsum sudah berdiri sejak 1909. Kini masih berdiri kokoh dan masih dipergunakan sebagai kantor Lonsum.

Kini merupakan salah satu objek wisata heritage di Kota Medan. Lokasi lengkapnya ada di Jalan Ahmad Yani tepat di depan Merdeka Walk. Gedung Lonsum cocok dijadikan sebagai tempat wisata murah di Medan karena kita tidak perlu mengeluarkan uang banyak.

2. Stasiun Besar Kereta Api Medan

Masih Banyak Peninggalan Belanda, Potret Kota Medan Dahulu Vs SekarangPotret Stasiun Kereta Api Medan pada 1920 dan 2020 (Dok. Gedung Arsip Pemko Medan, IDN Times/Indah Permata Sari)

Stasiun Besar Kereta Api Medan adalah stasiun kereta api yang melayani Kota Medan, dan berada di pertemuan antara Kelurahan Kesawan (Medan Barat) dan Gang Buntu (Medan Timur).

Stasiun yang  sudah ada sejak zaman kolonial Belanda ini terletak pada ketinggian +22 m ini merupakan pusat Divisi Regional I Sumatera Utara dan Aceh, dan terletak di depan Lapangan Merdeka, hingga kini merupakan stasiun kereta api terbesar di seantero DivRe, dan setiap harinya melayani 2000-2500 penumpang ke seantero Sumatera Utara.

3. Kawasan Kesawan Medan

Masih Banyak Peninggalan Belanda, Potret Kota Medan Dahulu Vs SekarangPotret Kawasan Kesawan Medan pada 1920 dan 2020 (Dok. Gedung Arsip Pemko Medan, IDN Times/Indah Permata Sari)

Kesawan Square adalah nama sebuah daerah di Kecamatan Medan Barat, Medan, Indonesia. Kawasan ini adalah kawasan yang dipenuhi bangunan-bangunan bersejarah dan Jalan Ahmad Yani yang berada di kawasan ini merupakan jalan tertua di Medan.

Sebelum 1880 Kampung Kesawan dihuni oleh orang-orang Melayu, namun kemudian orang-orang Tionghoa dari Malaka dan Tiongkok datang dan menetap di daerah ini sehingga Kesawan menjadi sebuah Pecinan.

Setelah kebakaran besar melalap rumah-rumah kayu di Kesawan pada tahun 1889, para warga Tionghoa lalu mulai mendirikan ruko-ruko dua lantai yang sebagian masih tersisa hingga kini.

Kini Kesawan menjadi kawasan heritage sekaligus wisata kuliner lesehan saat malam hari. Sepanjang trotoar dari simpang jalan Palang Merah hingga simpang Lonsum para pedagang berjualan dengan konsep lesehan.

4. Menara Air Tirtanadi

Masih Banyak Peninggalan Belanda, Potret Kota Medan Dahulu Vs SekarangPotret Menara Air PDAM Tirtanadi Medan pada 1920 dan 2020 (Dok. Gedung Arsip Pemko Medan, IDN Times/Indah Permata Sari)

Menara Air Tirtanadi merupakan salah satu ikon kota Medan. Keberadaan menara ini dapat dikatakan sangat vital bagi masyarakat kota Medan. Bangunan ini didirikan pada tahun 1908, oleh pemerintah Belanda, sebagai tempat penampungan air bagi masyarakat Medan.

Namun tidak semua masyarakat medan dapat memanfaatkan menara air tersebut, hanya golongan menengah ke atas saja yang diperkenankan memanfaatkan menara air tersebut sebagai sumber penghasil air untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat golongan menengah kebawah masih menggunakan sumur-sumur untuk memenuhi kebutuhan air mereka sehari-hari.

5. Lapangan Merdeka Medan

Masih Banyak Peninggalan Belanda, Potret Kota Medan Dahulu Vs SekarangPotret Lapangan Merdeka Medan pada 1880 dan 2020 (Dok. Gedung Arsip Pemko Medan, IDN Times/Indah Permata Sari)

Lapangan Merdeka Medan ditetapkan sebagai titik nol Kota Medan oleh Gemeente Medan.

Penetapan ini mengikut kebiasaan di Belanda dan Eropa karena Lapangan Merdeka adalah pusat perdagangan dan aktivitas kota yang disekitarnya berdiri bangunan dan kantor penting, seperti balaikota, bank, hotel, kantor pos, stasiun kereta api, dan kantor perusahaan.

Kondisi terkini lapangan merdeka Medan sebagai tempat masyarakat berolahraga dan bermain. Di sebelahnya kini dijadikan Merdeka Walk, pusat kuliner atau food court yang paling hits di Kota Medan saat ini.

6. Kantor Pos Medan

Masih Banyak Peninggalan Belanda, Potret Kota Medan Dahulu Vs SekarangPotret Kantor Pos Medan pada 1930 dan 2020 (Dok. Gedung Arsip Pemko Medan, IDN Times/Indah Permata Sari)

Kantor Pos Medan adalah salah satu bangunan bersejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh di Kota Medan. Letaknya yang berhadapan dengan Lapangan Merdeka, tidak jauh juga dari Merdeka Walk membuat bangunan ini menjadi objek wisata bersejarah yang ramai dikunjungi wisatawan asing maupun lokal.

Gaya arsitektur Belanda yang masih kental, mirip dengan gaya arsitektur Titi Gantung di dekat stasiun, dan memang dipertahankan hingga sekarang. Sampai saat ini, bangunan ini menjadi bangunan vital bagi masyarakat Medan. Fungsi bangunannya dari dulu hingga sekarang tetap sama, yaitu untuk mengirim surat dan fungsi lainnya.

Kantor Pos Medan berdiri tahun 1911, yang diarsiteki oleh salah seorang arsitek Belanda Snuyf. Bangunan ini memiliki luas 1200 meter persegi, dengan tinggi mencapai 20 meter. Kantor pos ini setiap harinya ramai dengan lalu lalang petugas kantor pos dan hilir mudik masyarakat Medan yang berkepentingan mengirim surat atau giro.

7. Istana Maimun Medan

Masih Banyak Peninggalan Belanda, Potret Kota Medan Dahulu Vs SekarangPotret Istana Maimum Medan pada 1809 dan 2020 (Dok. Gedung Arsip Pemko Medan, IDN Times/Indah Permata Sari)

Istana Maimun adalah istana Kesultanan Deli yang merupakan salah satu ikon kota Medan, Sumatera Utara, terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun.

Didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid. Pembangunan istana ini dimulai dari 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan. Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan.

Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. Namun sayang, tempat wisata ini tidak bebas dari kawasan Pedagang kaki lima.

Baca Juga: Sinabung Tak Bisa Didaki, 5 Rekomendasi Tempat Naik Gunung di Sumut

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya