TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Dampak Corona, Jutaan Orang Terancam Kehilangan Pekerjaan

Tanda-tanda ekonomi melumpuh mulai terlihat

Komunitas disabilitas menjadi kelompok rentan yang terpukul ekonominya karena dampak wabah corona (IDN Times/Prayugo Utomo)

Medan, IDN Times – Tidak hanya kesehatan, COVID-19 juga memukul perekonomian masyarakat di Sumatera Utara. Meskipun penanganan dari sisi kesehatan terus digencarkan oleh pemerintah dan masyararakat.

Jika tidak terus ditangani, kemiskinan menjadi ancaman besar di depan mata. Pemerintah pun harus bertanggung jawab atas hal ini.

Penanganan dampak sosial harus segera diambil. Apalagi pemerintah pusat juga sudah menetapkan status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (KKM) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Saat ini sudah banyak masyarakat mengeluh karena sulit untuk memenuhi kebutuhan nafkah sehari-hari. Masyarakat banyak yang hilang pekerjaan, setidaknya saat masa dimana covid 19 menyerang dan memaksa pemerintah memberlakukan darurat corona. Masyarakat pun diminta untuk ikut membantu mencegah corona dengan mengurangi aktifitas. Dan yang paling buruk, industri terpaksa harus membatasi aktifitasnya seiring dengan langkah pemerintah untuk mengurangi penyebaran corona itu sendiri,” ungkap Pengamat Ekonomi asal Sumatera Utara Gunawan Benjamin lewat keterangan tertulisnya, Rabu (1/4).

Baca Juga: [UPDATE] Positif Corona di Sumut 30 Orang, Data PDP Meninggal Samar

1. Tanda-tanda ekonomi melumpuh mulai terlihat

Ilustrasi perkembangan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

Gunawan pun tak bisa menampik jika perekonomian di Sumut mulai lumpuh perlahan. Pusat-pusat perbelanjaan mulai melakukan penutupan. Kafe – kafe juga sudah membatasi jam operasional untuk menghindari penumpukan kerumunan. Sejumlah kantor juga juga sudah tutup. Bahkan beberapa di antaranya tanpa menentukan batas waktu, masih melihat perkembangan pandemi corona.

“Sekolah hingga kampus ditutup, layanan umum masyarakat perlahan mulai berkurang, pabrik banyak yang tutup, yang pada intinya aktifitas ekonomi masyarakat mengalami kelumpuhan,” katanya.

Saat ini juga, kata dia, beberapa industri perhotelan mulai merumahkan karyawannya. Bahkan ada yang dirumahkan tanpa mendapat upah, meskipun belum di-PHK. Tenaga kerja informal mulai kehilangan pekerjaan.

“Dari aktifitas ekonomi masyarakat yang menurun ini, banyak dari kita yang mau tidak mau harus berjuang sendiri dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari,” ungkapnya.

2. Masyarakat miskin perkotaan akan mendapat imbas ekonomi yang sangat buruk

Ilustrasi kemiskinan (IDN Times/Arief Rahmat)

Pandemi corona saat ini juga sangat memukul dan melemahkan perekonomian masyarakat miskin kota. Banyak yang kini menggantungkan hidup bekerja sebagai buruh kasar, ojek online, mengamen, hingga berdagang kecil-kecilan terkena imbasnya.

Melemahnya perekonomian dimulai saat pemerintah menerapkan social distancing. Belum bisa dibayangkan apabila pemerintah memberlakukan karantina wilayah atau sejenisnya.

“Jadi memang kuncinya ada di pemerintah saat ini. Kalau berbicara berapa orang jumlah warga miskin? Tentu jawabannya tidak ada angka yang pasti. Karena pasti akan terus mengalami kenaikan selama corona masih terus mengganas,” ujarnya.

3. Ekonomi Sumut mulai mengalami kontraksi 30 persen

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

Gunawan menilai, saat ini perekonomian di Sumut sudah mengalami kontraksi atau masuk dalam fase penurunan sebesar 30 persen. Dia sudah melakukan pemantauan dari mulai pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern dan industri pada umumnya. “Yang paling terkena dampaknya adalah industri perhotelan, pusat perbelanjaan, perdagangan. Dan yang paling terpukul disitu adalah tenaga kerja informal serta pekerja yang dibayar harian,” paparnya,

Dia menjelaskan, kondisi ini akan memicu penambahan jumlah 35 persen tenaga kerja informal atau pun buruh harian yang kehilangan pekerjaan. Data yang dihimpunnya, saat ini ada sekitar 3,8 juta orang tenaga kerja informal.  Maka menurut perhitungannya, lebih dari 1 juta orang yang akan kehilangan pendapatan dan terancam masuk garis kemiskinan. Mereka begitu membutuhkan pertolongan di masa ini.

"Ditambah dengan jumlah angka warga miskinnya yang sekitar 10 persen dari total populasi masyarakat Sumut,” tukasnya.

4. Paling tidak ada 2,2 juta warga Sumut yang membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup

Ilustrasi kemiskinan (IDN Times/Arief Rahmat)

Kata Gunawan, setidaknya ada sekitar 2,2 juta orang yang membutuhkan bantuan untuk sekedar bertahan hidup. Kalau sekedar bertahan hidup maka yang dibutuhkan itu bahan pangan pokok.

Jika diasumsikan satu orang itu mengkonsumsi beras 0.3 Kg per hari. Dibutuhkan setidaknya 19.800 ton beras perbulan bantuan untuk membantu mereka yang kesulitan ekonomi karena pandemi dan masa tanggap darurat corona saat ini.

“Sehingga Sumut membutuhkan biaya tambahan untuk bantuan beras sekitar Rp198 miliar setiap bulannya (asumsi 1 kg beras 10 ribu). Itu belum menghitung kebutuhan lainnya. Seperti lauk pauk dan lainnya. Kalau seandainya setiap orang disubsidi 5000 rupiah per hari sebagai uang pengeluan diluar beras. Maka Sumut butuh Rp330 miliar lagi untuk menolong masyarakat yang miskin karena corona,” jelasnya.

Totalnya, Sumut membutuhkan sedikitnya Rp528 miliar untuk menutupi kebutuhan hidup masyarakat miskin dalam sebulan.

Baca Juga: Samsat Sumut Gratiskan Denda Pajak Kendaraan Bermotor, Cek Syaratnya!

Berita Terkini Lainnya