Terlilit Pinjol, Perempuan Asal Tapteng Sudah 2 Tahun Tak Mudik Lebaran

MEDAN, IDN Times - Sudah dua kali, Anza tidak merayakan Idul Fitri bersama keluarganya di Tapanuli Tengah, sebuah kabupaten di Sumatera Utara. Perempuan kelahiran 1996 itu terpaksa keluar dari tradisi mudik Lebaran akibat cicilan pinjaman online (pinjol).
Sejak awal 2024 lalu, Anza memilih kota Batam, Kepulauan Riau, sebagai tempat perantauan dengan alasan meningkatkan kualitas hidup. Ia kemudian menjadi salah satu staf yang mengurusi administrasi di sebuah sekolah di kawasan Batam Center, Kecamatan Batam Kota.
Keputusan itu diambil dengan harapan sederhana: gaji yang lebih layak, kesempatan kerja yang lebih stabil, dan kemampuan untuk membantu orang tua di kampung.
“Waktu itu saya pikir, kalau ke Batam mungkin bisa lebih cepat memperbaiki keadaan,” ujarnya dari Batam kepada IDN Times lewat saluran telepon, Rabu (25/3/2026).
Namun realitas di perantauan tidak selalu sejalan dengan harapan.
1. Utang yang tumbuh diam-diam

Awalnya, pinjaman yang diambil Anza tidak besar. Ia menggunakannya untuk menutup kebutuhan sehari-hari—membayar kos, membeli makan, hingga mengirim uang ke keluarga.
Namun kebutuhan yang terus datang, ditambah kemudahan akses pinjol yang hanya memerlukan ponsel dan data pribadi, membuatnya kembali meminjam.
“Awalnya cuma sedikit, pikirnya nanti bisa ditutup dari gaji berikutnya,” katanya.
Alih-alih berkurang, utang justru bertambah. Bunga dan denda yang berjalan cepat membuat jumlah pinjaman membengkak. Dalam waktu kurang dari setahun, total utangnya mencapai sekitar Rp80 juta.
Tanpa pendapatan tambahan, angka itu menjadi beban yang sulit dikejar.
2. Gairah di hari gajian tidak ada

Dengan penghasilan setara upah minimum regional (UMR) Batam, Anza tidak pernah benar-benar merasakan gaji utuh.
Setiap kali gaji masuk ke rekening, sebagian besar langsung terpotong otomatis untuk membayar cicilan pinjol. Ia menggambarkan momen itu seperti sesuatu yang lewat begitu saja.
“Masuk sebentar saja di rekening, langsung hilang. Gak ada gairahnya lagi,” ujarnya.
Sekitar 80 persen dari penghasilannya habis untuk membayar utang. Sisanya—hanya 20 persen—harus cukup untuk bertahan hidup selama satu bulan.
Dalam kondisi seperti itu, pengeluaran sekecil apa pun menjadi keputusan besar.
Ia harus menghitung biaya makan harian, menunda membeli kebutuhan pribadi, bahkan sesekali mengurangi porsi makan di akhir bulan.
“Belum lagi berbagi sama adik di sini,” katanya singkat.
3. Lebaran yang berubah sunyi

Di kampung halaman, Lebaran bagi Anza dulu identik dengan kebersamaan. Ia terbiasa membantu ibunya memasak, membersihkan rumah, dan menyambut sanak saudara yang datang silih berganti.
Kini, semua itu tinggal ingatan.
Sudah dua tahun ia tidak mudik. Biaya perjalanan dari Batam ke Tapanuli Tengah, baik menggunakan kapal maupun pesawat, berada di luar jangkauan keuangannya. Belum lagi kebutuhan lain selama di kampung.
Lebaran di perantauan menjadi momen yang sepi.
Ia menghabiskan hari raya di kamar kos sederhana. Tak ada aroma masakan khas rumah, tak ada suara takbir dari halaman rumah, dan tak ada percakapan panjang dengan keluarga besar.
“Hanya seperti hari biasa, tapi lebih sepi,” ujarnya.
Satu-satunya penghubung dengan keluarga adalah panggilan video. Pagi Idul Fitri pada 21, Maret 2026 kemarin, setelah salat Ied, Anza menghubungi orang tuanya.
Dari layar ponsel, ia mengucapkan maaf lahir dan batin—tradisi yang biasanya dilakukan dengan berjabat tangan kini digantikan oleh sinyal internet.
“Sekarang cuma bisa lihat dari layar,” katanya.
Ia kerap mengakhiri panggilan dengan perasaan campur aduk: rindu, bersalah, dan tak berdaya.
4. Di Balik Kisah Anza: Catatan ledakan Pinjol di Indonesia

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total utang pinjaman online yang masih berjalan mencapai sekitar Rp96 triliun pada akhir 2025. Angka ini meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan semakin luasnya ketergantungan masyarakat terhadap pembiayaan digital.
Pertumbuhan ini tidak hanya menggambarkan kemudahan akses, tetapi juga tekanan ekonomi yang dihadapi banyak rumah tangga—terutama di kalangan pekerja urban dengan pendapatan terbatas.
Seiring meningkatnya penggunaan, jumlah pengaduan juga melonjak. OJK mencatat puluhan ribu laporan masyarakat terkait entitas keuangan ilegal sepanjang 2025, dengan mayoritas berasal dari pinjaman online ilegal.
Dalam periode yang sama, ribuan platform pinjol ilegal telah diblokir oleh otoritas.
Tekanan utang juga tercermin dari meningkatnya angka gagal bayar. OJK juga mencatat rasio kredit macet pinjol mendekati batas aman regulator, sementara jumlah peminjam yang tidak mampu melunasi utang terus bertambah hingga ratusan ribu orang.
Kelompok usia produktif—terutama mereka yang berada di rentang 20 hingga awal 30-an—menjadi yang paling rentan.
Mereka adalah kelompok yang sama dengan Anza: pekerja muda di kota, dengan penghasilan terbatas dan kebutuhan hidup yang terus meningkat.
5. Menunggu Hari untuk Pulang

Di tengah keterbatasan, Anza masih menyimpan harapan.
Suatu hari, ia yakin hutangnya akan lunas. Ia sudah rindu dan ingin kembali ke rumah tanpa rasa cemas, tanpa dihantui cicilan, dan tanpa harus memikirkan potongan gaji setiap bulan.
Ia ingin kembali merasakan Lebaran seperti dulu—dengan pelukan, bukan layar. Sampai saat itu tiba, ponsel akan tetap menjadi jembatan.
Tempat ia mengucapkan maaf lahir dan batin, dari kejauhan—sambil menunggu hari di mana ia akhirnya bisa benar-benar pulang.


















