Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pola Asuh Sedentari Hambat Pertumbuhan Anak, Aktivitas Fisik Penting

Pola Asuh Sedentari Hambat Pertumbuhan Anak, Aktivitas Fisik Penting
Sosialisasi FIK Unimed di Desa Sambirejo Timur, Kabupaten Deli Serdang (dok. FIK Unimed)
Intinya Sih
  • Dosen FIK Unimed mengadakan sosialisasi di Desa Sambirejo Timur untuk mengedukasi orang tua tentang pentingnya aktivitas fisik anak dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan sejak usia dini.
  • Pola asuh sedentari yang membuat anak lebih sering bermain gawai dinilai dapat menghambat perkembangan motorik, sehingga orang tua diajak mendorong anak aktif bergerak melalui kegiatan sederhana sehari-hari.
  • Masa usia dini disebut sebagai periode emas pertumbuhan anak, di mana stimulasi fisik, kognitif, dan emosional dari keluarga berperan besar dalam menentukan kualitas hidup dan kesehatan di masa depan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Deli Serdang, IDN Times- Pola asuh sedentari yang membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dibanding bergerak aktif. Padahal gerak aktif anak jadi hal penting yang harus diperhatikan orangtua untuk perkembangan motoriknya.

Hal itu menjadi perhatian para dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Medan (Unimed). Melalui sosialisasi di Desa Sambirejo Timur, Kabupaten Deli Serdang, beberapa waktu lalu, FIK Unimed mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat menghambat perkembangan motorik anak dan meningkatkan risiko gangguan tumbuh kembang.

1. Sosialisasi FIK Unimed di Desa Sambirejo Timur, Kabupaten Deli Serdang

Seorang pembicara dari FIK Unimed memberikan sosialisasi di Desa Sambirejo Timur dengan beberapa peserta duduk di meja berlapis kain biru.
Sosialisasi FIK Unimed di Desa Sambirejo Timur, Kabupaten Deli Serdang (dok. FIK Unimed)

Sosialisasi yang digelar di Kantor Desa Sambirejo Timur itu diikuti para ibu yang memiliki balita. Kegiatan bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua tentang pentingnya menerapkan pola asuh yang mendorong anak aktif bergerak sejak usia dini.

"Tujuan kegiatan ini mengedukasi para orangtua di Desa Sambirejo Timur. Untuk memantau dan memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Jadi kita memberi edukasi soal perkembangan fisiologis, perkembangan psikologis, tentang gizi juga," kata Alin Anggreni Ginting selaku staf pengajar di FIK Unimed yang melakukan edukasi bersama dosen FIK Unimed lainnya Ramadani Pratiwi, Rifqi Aufan, dan Faridz Ravsamjani.

2. Salah satu penyebab anak kurang aktif adalah pola asuh sedentari

Kegiatan sosialisasi FIK Unimed di Desa Sambirejo Timur, Deli Serdang, dengan peserta duduk mendengarkan pemaparan narasumber di aula desa.
Sosialisasi FIK Unimed di Desa Sambirejo Timur, Kabupaten Deli Serdang (dok. FIK Unimed)

Desa Sambirejo Timur dipilih sebagai lokasi sosialisasi karena berdasarkan data Posyandu terdapat banyak keluarga muda yang baru memiliki anak, sehingga edukasi mengenai pola asuh aktif dinilai penting untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak sejak usia dini.

Dalam pemaparannya, Rifqi Aufan menjelaskan bahwa salah satu penyebab anak kurang aktif adalah pola asuh sedentari, yakni kebiasaan yang membuat anak lebih banyak duduk atau melakukan aktivitas minim gerak, seperti bermain telepon genggam dalam waktu lama.

"Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat perkembangan motorik kasar maupun motorik halus anak apabila terus dibiarkan tanpa pendampingan," katanya.

Menurutnya para orang tua diberikan indikator perkembangan sesuai usia. Misalnya, bayi usia 0–1 tahun memiliki tahapan perkembangan tertentu yang harus dicapai. Memasuki usia dua tahun, anak umumnya sudah mampu berjalan dengan lebih baik, sedangkan pada usia tiga tahun mulai dapat berlari dan melakukan aktivitas fisik yang lebih kompleks.

"Aktivitas fisik tidak harus dilakukan melalui olahraga terstruktur. Orang tua dapat mengajak anak melakukan kegiatan sederhana seperti berjalan kaki pada sore hari, bermain di luar rumah, atau permainan yang melatih koordinasi tubuh dibanding hanya memberikan handphone," ucapnya.

3. Masa usia dinimerupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak

Kegiatan sosialisasi FIK Unimed di Desa Sambirejo Timur dengan beberapa narasumber duduk di meja depan dan peserta mendengarkan di aula desa.
Sosialisasi FIK Unimed di Desa Sambirejo Timur, Kabupaten Deli Serdang (dok. FIK Unimed)

Sementara Fariz dalam pemaparannya mengatakan, kebiasaan bergerak sejak dini tidak hanya membantu perkembangan fisik anak, tetapi juga mendukung kemampuan kognitif, sosial, dan emosional, sekaligus menjadi bagian dari upaya mencegah stunting.

"Masa usia dini (0-6 tahun) merupakan periode emas (golden age) pertumbuhan dan perkembangan anak yang menentukan kualitas hidup di masa depan. Intervensi yang tepat pada masa ini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadap kualitas kesehatan, kognisi, dan produktivitas di masa dewasa. Pada fase ini, peran aktif keluarga, khususnya orang tua, dalam pemantauan fisiologi dan pemberian stimulasi tepat adalah kunci utama. Program yang menyasar orang tua pada fase ini merupakan investasi strategis untuk memutus mata rantai masalah perkembangan," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Latest News Sumatera Utara

See More