Pameran Foto Bencana Sumatra "Prahara Pulau Emas" Digelar di Medan

- Pameran foto “Prahara Pulau Emas” dibuka di Plaza Medan Fair pada 19 Agustus 2026 hingga 21 Agustus, menyoroti banjir dan longsor akhir 2025 di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
- Sebanyak 140 karya dari 45 pewarta foto menampilkan perjuangan pemulihan, ketangguhan penyintas, serta pesan mitigasi dan empati. PFI juga menekankan tanggung jawab dokumentasi di tengah maraknya visual hoaks.
- Wali Kota Medan Rico Waas mengapresiasi kekuatan narasi foto dan membuka peluang kolaborasi. Pameran ini sebelumnya hadir di Sumatra Barat dan Banda Aceh setelah peluncuran buku foto di Yogyakarta.
Medan, IDN Times - Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas secara resmi membuka pameran foto bertajuk Prahara Pulau Emas di Atrium Utara, Plaza Medan Fair, pada Rabu (19/8/2026). Pameran ini berlangsung hingga Jumat (21/8/2026).
Pameran yang digelar Pewarta Foto Indonesia PFI bersama Yayasan mataWaktu dan PLN ini menampilkan bencana banjir dan longsor akhir 2025 di tiga provinsi Sumatra yang terdampak, yakni Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Pameran visual ini tidak hanya tentang pameran foto biasa, namun para pengunjung yang melihat bisa langsung mendapatkan vibes perjuangan pemulihan listrik dan ketangguhan para survivor buat bangkit kembali.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas didampingi jajaran PFI memotong pita pembukaan pameran foto "Prahara Pulau Emas" di Atrium Utara Plaza Medan Fair (IDN Times/Indah Permata Sari)
1. Ada 140 karya dari 45 Pewarta Foto se-Indonesia

Pewarta Foto Indonesia menggelar pameran foto bertajuk Prahara Pulau Emas di Medan (IDN Times/Indah Permata Sari) Ketua Panitia Pameran, Irsan Mulyadi, melaporkan kepada Wali Kota bahwa pameran ini menampilkan 140 karya dari 45 pewarta foto. Para pewarta foto terbaik itu berasal dari Aceh, Medan, Padang, hingga Jakarta, serta kantor berita asing, kantor berita nasional, dan media di Sumatra Utara.
"Kita membuat pameran foto di Medan. Pameran fotonya itu bercerita tentang bencana di Aceh, Sumatra, dan di Sumatra Barat," ujar Irsan dalam kata sambutan.
Dia menjelaskan tujuan pameran bukan untuk bersedih, melainkan mengingatkan masyarakat bahwa Sumatra merupakan daerah rawan bencana.
"Kita bukan mau bersedih dengan pameran foto ini. Tetapi kita ingin mengingatkan kepada masyarakat bahwa kita hidup di daerah bencana. Kapan saja bencana itu bisa terjadi. Jadi kita harus bisa memitigasi, kita harus bisa berempati," katanya.
Menurut Irsan, puncak dari pameran ini adalah harapan. "Bukan kita mau memamerkan tentang kesedihan, tidak. Tetapi ada satu harapan yang ingin kita sampaikan kepada publik. Bahwa ini kita harus bangkit," tegasnya.
Dia juga menyoroti maraknya informasi hoaks saat banjir 27 November 2025 lalu. "Pada saat itu begitu banyak visual-visual yang beredar di media sosial. Yang hoaks dan segala macam. Kawan-kawan pewarta foto bilang, kita punya tanggung jawab sosial akan ini," ujarnya.
Selain itu, Irsan menyebut PFI juga aktif memberikan edukasi di sekolah dan berbagai lembaga. Ia membanggakan bahwa PFI merupakan satu-satunya organisasi pewarta foto di Indonesia yang memiliki 4 anggota bergelar doktor dan sedikitnya 8 bergelar master.
2. Apresiasi Wali Kota dan catatan sejarah

Pewarta Foto Indonesia menggelar pameran foto bertajuk Prahara Pulau Emas di Medan (IDN Times/Indah Permata Sari) Dalam sambutannya, Rico Waas mengapresiasi kerja para pewarta foto. Ia menyebut foto memiliki kekuatan narasi yang lebih dalam dibanding video.
"Sebuah foto itu menceritakan ribuan kata. Karena dia di salah satu frame yang tidak bergerak, tapi kita yang bisa memaknainya, bisa menceritakan mungkin panjang lebar dari A sampai Z," ujar Rico.
Ia mencontohkan salah satu foto dalam pameran yang menampilkan seorang laki-laki memakai duster saat banjir. Menurutnya, foto itu memiliki makna mendalam tentang belum tersalurkannya bantuan pakaian saat itu.
Rico juga mengenang masa-masa awal bencana. Pada 26 November 2025 malam, ia bersama seluruh OPD dan Forkopimda tidak tidur karena debit air Sungai Deli naik sangat cepat. Beberapa camat bahkan tidak bisa dihubungi karena rumahnya terendam.
"Ada camat yang bercerita, kami bertahan dua hari Pak. Saya hanya mikirkan anak saya. Anak saya kasih makan pakai Indomie sama air dingin," kenangnya.
Wali Kota menegaskan Pemko Medan siap berkolaborasi dan menyediakan ruang bagi PFI untuk pameran serupa di masa depan.
3. Telah dipamerkan di 2 Provinsi

Pewarta Foto Indonesia menggelar pameran foto bertajuk Prahara Pulau Emas di Medan (IDN Times/Indah Permata Sari) Korwil PFI Sumatra Utara, Hendra Syamhari, menjelaskan Prahara Pulau Emas sebelumnya telah diluncurkan dalam bentuk buku foto di Yogyakarta pada 25 Juli 2026. Pameran kemudian digelar di Istana Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatra Barat, dan di Banda Aceh pada 3–8 Agustus 2026.
Dia menyebut para pewarta foto rela meninggalkan keluarga demi mengabadikan kondisi di lapangan. Salah satunya, pewarta foto bernama Wawan yang berjalan kaki 9 jam untuk menerobos banjir di Aceh Tamiang.
"Ada adik kita, Yudi. Anaknya masih bayi, dia tinggalkan anak dan istrinya naik sepeda motor untuk meliput," kata Hendra.
Menurutnya, tujuan pameran ini adalah untuk mencatat sejarah. "Besok anak cucu kita akan melihat Sumatra pernah hancur akibat tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Ini sebuah sejarah yang sudah kita torehkan," ujarnya.
Acara ini terbuka untuk umum. Pengunjung dapat menikmati pameran seni visual modern sambil berbelanja di pusat perbelanjaan Kota Medan.















