Orangutan Tapanuli menjadi salah satu satwa yang nyaris punah di Habitat Batangtoru. (IDN Times/Prayugo Utomo)
Mighty Earth dan Satya Bumi menyerukan enam tindakan mendesak, mulai dari pendataan populasi terbaru hingga penyediaan pendanaan jangka panjang. Langkah pertama adalah melakukan survei untuk menghitung jumlah orangutan yang masih bertahan, menilai tingkat kerusakan habitat, serta mencari kemungkinan populasi yang belum terdeteksi di wilayah sebaran historisnya.
Kedua, menghentikan kerusakan hutan lebih lanjut dan memulihkan koridor habitat yang menghubungkan populasi terisolasi. Ketiga, memulihkan kawasan Batang Toru Barat yang terdampak siklon melalui penanaman kembali dan regenerasi hutan secara aktif.
Langkah keempat adalah mencegah kematian orangutan melalui penanganan perburuan, konflik antara manusia dan satwa liar, serta ancaman dari pembangunan. Kelima, menempatkan masyarakat adat dan lokal sebagai bagian penting dalam upaya pemulihan, termasuk dengan mendukung mata pencaharian yang berkelanjutan.
Keenam, kedua organisasi mendesak adanya pendanaan jangka panjang dan rencana pemulihan yang terkoordinasi. Upaya konservasi, menurut mereka, tidak cukup hanya mencegah kepunahan, tetapi juga harus diarahkan untuk membangun kembali populasi orangutan Tapanuli.
Jatna Supriatna, Ketua Institute for Sustainable Earth and Resources, Universitas Indonesia, menilai hingga saat ini belum ada satu rencana pemulihan terpadu yang dilengkapi target populasi, target habitat, dan pendanaan khusus.
“Penting untuk mengkoordinasikan upaya di lapangan guna mencapai tujuan konservasi dan pemulihan kita,” ujar Jatna.
Sementara itu, Juru Kampanye Satya Bumi, Sadam Afian Richwanudin, mendesak pemerintah Indonesia memimpin koordinasi antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, masyarakat lokal, dan pelaku usaha.
Menurut Sadam, hutan Batang Toru merupakan satu-satunya rumah bagi orangutan Tapanuli. Karena itu, perlindungan dan pemulihan habitat harus dilakukan bersamaan dengan upaya memastikan masyarakat lokal tidak tertinggal dalam agenda konservasi.