“Sumatra utara adalah rumah bagi sebagian keanekaragaman hayati paling tak ternilai di dunia, dan merupakan mandat bbksda untuk memastikan tidak ada satu pun spesies yang terputus dari habitatnya akibat pembangunan manusia. Jembatan-jembatan ini bukan sekadar struktur tali; mereka adalah ekspresi fisik dari komitmen konservasi kami,” ujar Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumut Novita Kusuma Wardani.
Menilik Jembatan Satwa di Pakpakbharat, Sudah Dilintasi Orangutan

- Jalan Lagan–Pagindar di Pakpak Bharat memisahkan dua populasi orangutan sumatra, mengancam konektivitas habitat dan keberlanjutan genetik sekitar 350 individu yang hidup di kawasan hutan lindung.
- Organisasi TaHuKah dan Sumatran Orangutan Society membangun lima jembatan kanopi dari tali kuat untuk menghubungkan pohon di kedua sisi jalan, sebagai solusi sederhana menjaga pergerakan satwa liar.
- Rekaman orangutan menyeberangi jembatan kanopi menjadi bukti awal keberhasilan konservasi, membuka harapan baru bagi konektivitas ekosistem dan perlindungan keanekaragaman hayati di Sumatera Utara.
Pakpakbharat, IDN Times - Upaya menjahit kembali hutan yang terfragmentasi di Sumatera Utara mulai menunjukkan hasil. Satu individu orangutan sumatra (pongo abelii) terekam kamera menggunakan jembatan kanopi buatan untuk menyeberangi jalan umum.
Peristiwa itu terjadi di Kabupaten Pakpak Bharat, di tengah lanskap yang terbelah oleh pembangunan jalan penghubung Lagan – Pagindar. Temuan ini menjadi sinyal penting. Satwa liar yang terancam punah ternyata mampu beradaptasi, selama ruang untuk bertahan masih disediakan.
1. Jalan Lagan–Pagindar jadi batas hidup dua populasi orangutan

Bagi masyarakat, jalan Lagan–Pagindar bukan sekadar jalur transportasi. Bagi warga, akses ini penting untuk menjangkau sekolah dan layanan dasar. Namun bagi orangutan dan satwa arboreal lainnya, jalan tersebut menjadi penghalang yang memutus habitat alami.
Dalam keterangan resmi Tangguh Hutan Khatulistiwa (TaHuKah), diperkirakan sekitar 350 individu orangutan terdampak oleh fragmentasi ini. Mereka terpisah ke dalam dua subpopulasi—Cagar Alam Siranggas dan Hutan Lindung Sikulaping. Tanpa konektivitas, risiko penurunan genetik hingga kepunahan fungsional menjadi ancaman nyata.
“Kabupaten Pakpak Bharat, yang berbatasan dengan Provinsi Aceh, adalah salah satu kawasan dengan tutupan hutan tertinggi di Sumatera Utara — lebih dari 80 persen wilayahnya masih berhutan — menjadikannya habitat kritis bagi orangutan Sumatera, harimau Sumatera, serta beragam flora dan fauna yang dilindungi,” ujar Bupati Pakpak Bharat, Franc Bernhard Tumanggor.
2. Jembatan kanopi jadi solusi sederhana yang berdampak besar

Sebagai respons, TaHuKah bersama Sumatran Orangutan Society (SOS) membangun lima jembatan kanopi di sepanjang koridor tersebut. Struktur ini berupa tali kuat yang menghubungkan pohon di kedua sisi jalan.
Setiap jembatan membutuhkan sekitar 200 meter tali dan dapat dipasang dalam waktu kurang dari sepekan. Meski sederhana, struktur ini telah melalui uji kekuatan untuk memastikan mampu menopang berat beberapa orangutan dewasa.
“Ketika TaHuKah mendekati otoritas setempat dan BBKSDA Sumatera Utara dengan proposal pemasangan jembatan kanopi buatan, mereka sangat mendukung. Ada cara untuk mewujudkan kemajuan sambil tetap menjaga lingkungan alam kita,” ujar Direktur Eksekutif TaHuKah, Erwin Alamsyah Siregar.
3. Bukti awal: orangutan mulai beradaptasi, harapan konservasi terbuka

Momen terekamnya orangutan menggunakan jembatan kanopi menjadi bukti awal keberhasilan intervensi ini. Selama ini, penggunaan struktur serupa lebih banyak tercatat pada primata lain seperti owa dan lutung.
“Selama dua tahun, kami telah menunggu momen ini. Melihat orangutan jantan muda ini dengan percaya diri menyeberangi jalan menggunakan jembatan kanopi adalah pencapaian besar dalam konservasi,” kata CEO SOS, Helen Buckland.
Lebih dari sekadar penyeberangan, jembatan ini membuka peluang menjaga konektivitas ekosistem. Orangutan dikenal sebagai spesies kunci—penyebar biji yang membantu regenerasi hutan. Ketika habitat mereka tersambung, dampaknya menjalar ke seluruh rantai kehidupan di hutan, termasuk spesies lain seperti harimau dan beruang madu.


















