Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Kambing Hutan Sumatra, Sang Pendaki Tebing Penjaga Mata Air Leuser

Kota Medan
5 min read
Mengenal Kambing Hutan Sumatra, Sang Pendaki Tebing Penjaga Mata Air Leuser
Kambing hutan sumatra. (Wikipedia)
  • Kambing hutan sumatra merupakan kerabat primitif antelop yang beradaptasi di tebing curam kawasan pegunungan Leuser.

  • Anatomi kuku dan pola jelajahnya membantu menjaga lapisan tanah tipis di lereng dari kerusakan dan erosi.

  • Populasinya menurun akibat perambahan dan perburuan, padahal keberadaannya berkaitan dengan vegetasi tebing, mata air, serta keseimbangan habitat harimau sumatra.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Badannya berbulu hitam kasar dengan surai putih berantakan di bagian tengkuk. Tanduknya pendek, melengkung tajam ke belakang seperti belati. Satwa itu berdiri santai di bibir tebing batu kapur yang kemiringannya nyaris 80 derajat. Satu langkah meleset, jurang ratusan meter sudah menunggu di bawah. Tapi dia justru melompat ringan dari satu tonjolan batu ke batu lain tanpa terpeleset sedikit pun.

Kenalkan, kambing hutan sumatra (Capricornis sumatraensis). Satwa penghuni zona pegunungan Leuser ini jarang masuk obrolan feed media sosial karena hidupnya super tersembunyi. Padahal, riset ilmiah membuktikan keberadaan sang "hantu tebing" ini punya kaitan langsung dengan keselamatan lereng gunung dan ketersediaan air bersih yang mengalir sampai ke keran rumah kita.

  1. 1. Bukan kambing ternak yang kabur ke hutan, tapi "fosil hidup" kerabat antelop

    Kambing hutan sumatra (youtube.com/Friedrich Esser dan Prani Parnoi)
    Kambing hutan sumatra (youtube.com/Friedrich Esser dan Prani Parnoi)

    Banyak yang mengira satwa ini adalah kambing kampung yang lepas lalu hidup liar di gunung. Faktanya beda jauh. Riset filogenetik molekuler yang dipublikasikan oleh Alexandre Hassanin dkk, dalam jurnal Comptes Rendus Biologies menjelaskan bahwa Capricornis sumatraensis merupakan salah satu anggota paling primitif dari subfamili Caprinae.

    Secara evolusi, mereka sudah memisahkan diri jutaan tahun lalu dan lebih dekat kekerabatannya dengan goral serta chamois di pegunungan Eropa dibanding kambing domestik. Struktur tengkoraknya tebal dan padat. Adaptasi purba yang bertahan utuh di hutan hujan tropis.

    Kalau populasi satwa purba ini lenyap dari tebing Leuser, Sumatra kehilangan satu mata rantai evolusi mamalia pegunungan yang sudah menjaga keseimbangan vegetasi batu kapur sejak zaman es.

  2. 2. Kuku karet alami yang bikin tebing curam aman dari erosi tanah

    Kambing hutan sumatra (youtube.com/Friedrich Esser dan Prani Parnoi)
    Kambing hutan sumatra (youtube.com/Friedrich Esser dan Prani Parnoi)

    Bagaimana bisa satwa seberat 85 sampai 140 kilogram berlari di dinding batu vertikal yang basah oleh lumut? Rahasianya ada di anatomi telapak kakinya. Studi morfologi mamalia ungulata pegunungan oleh Sandro Lovari dkk, yang dirangkum dalam Handbook of the Mammals of the World membedah struktur cloven hooves atau kuku belah satwa ini.

    Bagian pinggir luarnya keras dan tajam untuk mengait celah batu milimeter. Sebaliknya, bantalan tengah telapak kakinya bertekstur lunak dan kenyal mirip sol sepatu panjat tebing profesional. Kaki depan dan belakangnya juga bisa bergerak independen untuk meredam hentakan.

    Pola jelajah di tebing ekstrem inilah yang membuat mereka tidak merusak lapisan tanah tipis di lereng gunung. Berbeda dengan pembukaan jalan atau aktivitas tambang manusia yang langsung mengupas kulit bukit dan memicu longsor batu saat hujan deras mengguyur Aceh maupun Langkat.

  3. 3. "Pemangkas semak" yang menjaga mata air karst tetap mengalir ke rumah warga

    Kambing hutan sumatra (commons.m.wikimedia.org/LiigerCommon)
    Kambing hutan sumatra (commons.m.wikimedia.org/LiigerCommon)

    Jangan bayangkan kambing hutan makan rumput lapangan seperti sapi. Mereka adalah browser sejati yang memilih pucuk daun semak, paku-pakuan, dan tumbuhan perintis di sela-sela tebing karst (batu gamping).

    Studi ekologi habitat yang dilakukan oleh tim peneliti di lanskap Sumatra, termasuk publikasi dari IUCN Caprinae Specialist Group, menunjukkan cara makan mereka yang sangat selektif.

    Mereka hanya memangkas pucuk daun muda dan berpindah cepat sebelum tanaman itu mati. Kotoran mereka yang kaya nitrogen langsung jatuh ke celah-celah retakan batu kapur, menjadi pupuk alami bagi lumut dan tumbuhan penahan air di dinding tebing.

    Di sinilah efek dominonya ke kehidupan manusia. Kawasan karst pegunungan Leuser adalah tangki penyimpanan air bawah tanah raksasa. Ketika kambing hutan menjaga siklus tumbuh vegetasi tebing tetap sehat, daya serap air hujan ke dalam rongga batuan karst tetap terjaga. Hasilnya, mata air di kaki bukit tetap jernih dan mengalir stabil menghidupi sawah serta pasokan air minum warga desa hingga kota.

  4. 4. Punya "botol parfum" di bawah mata untuk memetakan jalur aman di hutan

    Kambing hutan sumatra (youtube.com/Friedrich Esser dan Prani Parnoi)
    Kambing hutan sumatra (youtube.com/Friedrich Esser dan Prani Parnoi)

    Kalau kamu perhatikan wajahnya dari dekat, ada celah kantung besar tepat di bawah mata kambing hutan sumatra. Itu bukan luka, melainkan kelenjar preorbital (preorbital gland) yang ukurannya sangat menonjol.

    Riset perilaku komunikasi kimiawi mamalia oleh Geist (1966) dan kajian lanjutan anatomi kelenjar Capricornis oleh Atoji dkk. di Journal of Morphology mengungkap fungsinya. Kelenjar ini memproduksi cairan kental berbau tajam yang mengandung senyawa asam lemak volatil. Kambing hutan rutin menggosokkan bagian bawah matanya ke batang pohon dan tonjolan batu di sepanjang jalur tebing.

    Jejak aroma ini adalah "peta Google Maps" versi satwa liar agar mereka tidak tersesat atau bentrok dengan individu lain di tengah kabut tebal. Sayangnya, perilaku setia pada jalur tetap (trail fidelity) ini justru dimanfaatkan pemburu liar untuk memasang jerat kawat baja. Satu jerat di jalur sempit ini tidak hanya membunuh kambing hutan, tapi juga kerap memutus kaki harimau sumatra yang lewat di rute yang sama.

  5. 5. Mitos khasiat mistis yang memicu ledakan hama dan rusaknya hutan tepi desa

    Kambing hutan sumatra (youtube.com/Friedrich Esser dan Prani Parnoi)
    Kambing hutan sumatra (youtube.com/Friedrich Esser dan Prani Parnoi)

    Meski hidup di jurang terpencil yang sulit dijangkau manusia, populasi kambing hutan sumatra terus menyusut drastis. Laporan asesmen IUCN Red List yang disusun Phan, T.D. dkk. (2020) menetapkan spesies ini dalam status Rentan (Vulnerable) dengan tren populasi yang terus menurun tajam.

    Selain hilangnya hutan pegunungan akibat perambahan, pemicu utamanya adalah perburuan ilegal demi serow oil—minyak rebusan kepala atau tulang kambing hutan yang dipercaya secara keliru bisa menyembuhkan patah tulang dan nyeri sendi. Padahal, secara medis dan biokimia, sama sekali tidak ada bukti ilmiah bahwa rebusan tulang satwa ini punya zat penyembuh khusus melebihi kalsium dan kolagen biasa.

    Dampak perburuan konyol ini bisa berbalik menghantam manusia. Kambing hutan adalah salah satu mangsa alami harimau sumatra di zona dataran tinggi Leuser. Kalau mangsa alaminya di tebing habis disikat jerat pemburu, harimau akan kelaparan dan terpaksa turun gunung mencari ternak warga di pinggir desa. Konflik satwa dan manusia pun pecah gara-gara ulah kita sendiri yang merusak piring makan mereka di hutan.

Related Articles

See More