Pari cambuk dari spesies Himantura arlyzae(Sumber: https://doi.org/10.1051/alr/2026011)
Mungkin kamu bertanya-tanya, apa hubungannya penemuan spesies pari di dasar laut dengan kehidupan kita di darat? Jawabannya, nyambung banget ke rantai makanan dan tren gaya hidup.
Di ekosistem laut dangkal, pari cambuk adalah predator menengah sekaligus "tukang kebun" dasar laut. Saat berenang mengaduk pasir untuk mencari pakan, kepakan tubuh mereka melepaskan nutrisi yang terpendam di lumpur dan menjaga sirkulasi oksigen di dasar laut tetap sehat.
Kalau pari cambuk habis ditangkap, keseimbangan ekosistem pesisir bakal rusak. Dampaknya tidak berhenti di situ, populasi ikan karang dan hasil laut yang biasa ditangkap nelayan ikut anjlok, sehingga stok ikan konsumsi menyusut dan harga seafood di pasar bisa makin mahal.
Ironisnya, ancaman terbesar pari cambuk justru datang dari selera fesyen manusia. Selain dagingnya dikonsumsi, kulit pari cambuk yang punya tekstur bintik mutiara eksotis sangat diburu oleh industri barang mewah (luxury goods).
Kulit mereka dikuliti untuk disulap menjadi dompet, ikat pinggang, hingga tas mahal. Akibat perburuan masif menggunakan pukat harimau, jaring insang, hingga tombak, populasi pari cambuk di perairan Indo-Pasifik Barat terjun bebas dalam beberapa dekade terakhir.
Dalam laporan riset di jurnal Aquatic Living Resources dan rilis resmi BRIN, terkuaknya identitas Himantura arlyzae sekaligus membongkar kekeliruan fatal dalam peta konservasi dunia. Selama ini, Daftar Merah Badan Konservasi Dunia (IUCN Red List) hanya mencatat empat spesies dalam kelompok pari cambuk ini, yang tiga di antaranya (H. leoparda, H. uarnak, dan H. undulata) sudah berstatus Terancam Punah (Endangered).
Bayangkan kalau kamu mengira ada 1.000 ekor ikan dari satu spesies yang sama di laut, sehingga terlihat masih banyak. Padahal setelah dites DNA, 1.000 ekor itu ternyata terdiri dari delapan spesies berbeda yang wilayah hidupnya terpisah-pisah. Artinya, jumlah asli per spesies jauh lebih sedikit dan jauh lebih kritis dari yang diperkirakan pemerintah maupun lembaga internasional.
Peta genetik terbaru ini membuktikan bahwa Himantura arlyzae hanya hidup di perairan kepulauan Indo-Melayu. Wilayahnya membentang dari Laut Flores, Laut Bali, Selat Makassar, Laut Banda, Laut Sulu, Laut Filipina, hingga Laut Cina Selatan.
Bahkan dengan tetangga sebelahnya di selatan, Himantura australis, mereka punya pola hidup parapatrik. Sederhananya, rumah kedua spesies ini bersebelahan persis di peta, tapi dipisahkan oleh jurang bawah laut sedalam 3.000 meter di Laut Timor yang membuat mereka tidak pernah saling menyeberang.
Karena ruang hidupnya sempit dan terkotak-kotak di perairan Nusantara yang padat aktivitas penangkapan ikan, risiko kepunahan Himantura arlyzae menjadi berlipat ganda. Apalagi, spesies baru ini beserta kerabatnya, Himantura tutul, sama sekali belum masuk dalam daftar perlindungan IUCN karena dulu dianggap sebagai spesies yang sama dengan pari dari Laut Merah.